Pages

Ads 468x60px

Labels

Minggu, 14 Desember 2008

MENGUNGKAP KEARIFAN LOKAL REOG PONOROGO

"Inilah Negeriku, Negeri cintaku, Indonesiaku.. Apabila aku menyaksikan budaya-budaya di sini, aku selalu melihat berbagai keindahan. Niscaya kamu akan mengira keindahan-keindahan ini.. mutiara yang bertaburan. Apabila aku meresapi makna dari budaya-budaya di negeri ini, aku pasti akan berkata betapa luhurnya negeri ini. Budaya ini milikku... warisan dari para leluhurku... maka aku akan melakukan yang terbaik yang dapat aku lakukan dan aku pastikan tak akan ada yang mampu merebutnya dariku...karena Budaya ini Jiwaku... Budaya ini Ragaku... dahulu, kini, nanti dan Selamanya...

Tema :
“Ponorogo di Matamu”


MENGUNGKAP KEARIFAN LOKAL REOG PONOROGO
Sesuatu yang Spesial dari Indonesia
(oleh: Muzdakir Muhlisin, Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM)
kata kunci (keyword): reog, ponorogo, dan grebeg suro


Dari judul yang saya angkat di atas dapat diketahui bahwa Objek Material atau bahan kajian pada karangan bebas yang saya buat kali ini adalah “REOG PONOROGO”, sedangkan Objek formal atau sudut pandang yang saya gunakan adalah “LOCAL WISDOM” atau “KEARIFAN LOKAL”. Bagi saya, Reog Ponorogo tidak sekedar tradisi pertunjukan tetapi juga salah satu kesenian budaya yang penuh makna dan nilai-nilai luhur dari bangsa Indonesia untuk menghayati kehidupan ini secara penuh. Makna kehadiran kesenian Reog ini bukan hanya pada keindahan dan kekhasan dari sisi penampilannya yang memang menjanjikan kemegahan, tetapi lebih dari itu adalah pada nilai-nilai kultural atau kearifan lokal yang visualisasinya nampak dalam simbol-simbol fragmen tarian yang disajikan dalam penampilan kelompok reog yakni tari warok, Tari jathil, Bujangganong, Tari Klana, dan Topeng Dadak Merak. Melalui pementasan tersebut nilai-nilai luhur yang hendak disampaikan, divisualisasikan agar meresap di dalam diri setiap generasi dalam memperjuangkan martabat bangsa.

Local Wisdom atau kearifan lokal merupakan penanda yang menunjukan identitas kita yang berbeda dengan suku bangsa yang lain. Dengan perspektif local Wisdom dapat diketahui bahwa secara epistemologi Nusantara tidak sampai wilayah Malaysia, Singapura, Thailand dan negara-negara lainnya. Term “Nusantara” melambangkan kekhasan yang membedakan budaya Indonesia dengan budaya bangsa lain bahkan dengan bangsa serumpun seperti Malaysia sekalipun. Meskipun secara politik dalam sejarah sama tapi yang membedakan Indonesia dengan negara lain adalah Lokal Wisdom atau kearifan lokalnya. Local Wisdom, “aku adalah aku” dalam kaitannya dengan Epistemologi (Pengetahuan), Metafisika (Makna yang tersirat pada Simbol-simbol reog tersebut) dan Axiologi (nilai-nilai luhur yang melatarbelakangi pertunjukan reog tersebut). Kearifan lokal inilah yang membedakan antara budaya kita dengan yang lain.






INSPIRASI HARI INI



"AKU TIDAK INGIN MATI SAMPAI AKU SECARA TEPAT BERBUAT YANG TERBAIK UNTUK NEGERI INI SEMAMPU BAKATKU
DAN KAN SELALU KU JAGA WARISAN PARA LELUHURKU
DENGAN JIWA DAN RAGAKU SAMPAI NAFAS TERAKHIR BERHEMBUS DALAM KEHIDUPANKU


Reog ponorogo beberapa waktu lalu menjadi bahan pembicaraan karena di-klaim sebagai warisan budaya Malaysia. Sebenarnya kontroversi ini secara faktual dapat diselesaikan dengan menganalisis runtut sejarah asal-mula budaya reog tersebut dan nilai-nilai yang melatarbelakanginya. Malaysia bisa saja memainkan tarian reog tersebut sefasih dengan yang dilakukan oleh masyarakat Ponorogo akan tetapi tidak mampu menunjukan nilai-nilai yang melatarbelakangi seni pertunjukan reog ini diciptakan karena budaya ini khas Indonesia dimana budaya tersebut diciptakan sesuai nilai-nilai yang diyakini masyarakat setempat yakni masyarakat Ponorogo yang tidak terdapat di daerah lain. Kalau Malaysia berdalih bahwa Reog yang di sana dinamakan Barongan merupakan warisan suku Jawa yang bermigrasi ke negeri jiran tersebut maka Barongan tersebut sudah semestinya tidak boleh di klaim asal Malaysia dan hak kepemilikan dari suku Jawa yang bermigrasi tersebut atas budaya Reog telah gugur dengan sendirinya karena ia telah secara resmi keluar atau pindah kebangsaan dari negeri dimana Reog itu lahir dan berkembang yakni di Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia.
Hak kepemilikan Imigran Jawa dimalaysia itu saya katakan gugur karena Budaya Indonesia (Reog Ponorogo termasuk didalamnya) adalah budaya hasil karya asli Manusia Indonesia. Manusia Indonesia yang saya maksud adalah manusia Indonesia yang terdiri atas jiwa dan raga ke-Indonesiaan. Penduduk Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang diakui secara formal, mempunyai tradisi yang khas Indonesia, mempunyai karakter-karakter manusia Indonesia yang tercermin dalam budaya-budaya yang diciptakannya misalnya Reog ini dan termasuk juga karya-karya sastra pujangga Indonesia.
Meskipun demikian, yang saya maksud gugur disini bukan berarti para Imigran dari Jawa di Malaysia tersebut tidak boleh memainkan kesenian Reog. Mereka tetap diperbolehkan karena bagaimanapun darah mereka adalah darah Jawa, sampai mati mereka tetap keturunan Jawa. Akan tetapi mereka hanya diperbolehkan memainkan kesenian ini sebagai “Pewaris Budaya” secara personal bukan “Pewaris Budaya” dalam arti teritorial atau Negara sehingga tidak boleh dikomersilkan apalagi dipatenkan di Negara baru tempat ia tinggal saat ini. Kalau inggin mengkomersilkan Reog ini maka mereka (para Imigran) harus mendapatkan izin dan memberikan royalty kepada negara asal Reog ini lahir atau diciptakan, dalam hal ini adalah Indonesia karena Ponorogo secara teritorial berada di wilayah Indonesia. Kalau hal demikian tidak dilakukan maka krisis multidimensial dan disintegrasi bangsa dan negara akan semakin parah. Indonesia dan Negara-negara lain di dunia ini pun juga bisa meng-klaim budaya bangsa lain (budaya malaysia misalnya) dengan alibi yang sama bahwa ada Imigran Malaysia yang tinggal di Indonesia sebagai pewaris budaya dari negara asalnya. Kalau demikian apa gunanya HAK CIPTA COBA?. Reog itu yang menciptakan masyarakat Ponorogo dan diciptakan di Ponorogo, Indonesia pula. Jadi Sudah semestinya Budaya ini milik Ponorogo, milik Indonesia dong!. Kalau mau jadi pewaris resmi Reog ponorogo ya Pindah lah Ke INDONESIA.
Epistemologis dan Axiologis kearifan lokal reog mencakup pengetahuan dan sejarah asal-muasal terbentuknya budaya tersebut serta nilai-nilai luhur yang khas yang membedakan dengan bangsa lain. Reog Ponorogo tentunya memiliki nilai-nilai yang melatarbelakanginya berasal dari nilai bangsa Indonesia yang berbeda dengan Malaysia.Untuk menggali nilai-nilai yang tercermin dalam pertunjukan Reog Ponorogo, alangkah baiknya jika kita tahu sejarah yang melatarbelakanginya seperti yang saya kutip dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas berikut ini:
Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa Barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya.

Cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu diatas menurut saya melambangkan kepribadian baik manusia, yang selalu menggunakan suara hatinya agar selalu berbuat baik dan melarang perbuatan yang jahat yakni pesan politis Ki Ageng Kutu atas perilaku raja yang korup। Ia juga mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Kita tidak bisa memungkiri bahwa saat ini banyak terjadi tindakan korupsi. Oleh karena itu, menurut saya nilai-nilai luhur tersebut sangatlah bermanfaat untuk membangun kembali Indonesia yang lebih manusiawi, madani, bermartabat, lahir dan batin, serta lebih terhormat dalam tata pergaulan global.

Dari sedikit uraian diatas kiranya sudah jelas, bahwa Reog memang bukan penentu pokok baik atau tidaknya bangsa kita, mengingat banyak hal yang jauh lebih berpengaruh dalam hal ini. Namun, suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri pula, bahwa Reog ini akan banyak memberi pengaruh bagi masa depan bangsa karena nilai-nilai luhur yang tersirat didalamnya bisa menjadi bahan renungan bagi masyarakat agar dapat memperoleh kembali makna-makna hidup manusiawinya baik secara eksistensial maupun secara transidental.
Sampai hari ini, kita masih mendengar ungkapan bahwa bangsa kita adalah bangsa besar, dengan khazanah alam-lingkungan maupun alam-budaya yang Sangat kaya, namun jarang kita temukan orang yang dapat menjelaskan seperti apa kekayaan budaya yang kita miliki. (Damardjati Supadjar, 2001: -)
Pernyataan dari kutipan diatas bukanlah pernyataan yang tanpa ada bukti. Banyak kebudayaan bangsa kita yang tidak kita kenal. Kita baru merasa memiliki setelah kebudayaan tersebut diakui sebagai buah karya bangsa lain. Seperti kasus baru-baru ini, kita meluapkan emosi kita setelah lagu daerah, Batik, dan Reog kita diakui oleh malaysia. Padahal kita sendiri tidak mau mempelajari dan menghayati warisan kebudayaan yang kita miliki tersebut. Jangan sampai kasus-kasus diatas terulang pada kebudayaan kita yang lain.
Dari uraian-uraian yang telah saya jelaskan tersebut, saya dapat menarik kesimpulan bahwa Reog Ponorogo harus tetap kita jaga, kita lestarikan dan kita hayati makna yang terkandung didalamnya. Dengan penghayatan tentang pentingnya generasi-generasi yang tangguh dan bermoral semestinya Reog tidak kita tinggalkan begitu saja lantaran tidak modern. Perlu ditegaskan pula bahwa tidak semua yang kuno itu jelek dan sebaliknya tidak semua yang modern itu baik. Perlu adanya sintesa baru dalam akulturasi budaya khususnya. Budaya yang baik dipertahankan dan budaya yang mengancam kedaulatan bangsa harus ditinggalkan. Dengan demikian bangsa Indonesia akan mampu bersaing dengan bangsa lain. bangsa Indonesia akan tetap menjadi bangsa yang modern namun tetap religius dan berbudaya.
Reog, sering diidentikkan dengan dunia mistis dan kekuatan supranatural. Tapi kita tidak boleh memandang sebelah mata dan meng-cap reog hanyalah kebudayaan primitif. sebelum menganalisis pernyataan tersebut alangkah baiknya jika kita membaca terlebih dahulu kutipan berikut ini:
Tidak fair bila kita hanya mengungkapkan hal-hal muram dalam memandang dunia. Kesempatan dan peluang tetap terbuka lebar, bukan saja dalam ekonomi, ‘tradisional’ seperti pariwisata karena kita diberkahi dengan aset alam dan budaya yang jarang ada bandingannya (Ninok leksono, 2000: xvi)
Dari kutipan diatas saya harap kita bisa bersama-sama membuka mata hati kita bahwa dunia mistis tidak bisa dipandang melulu sebagai sesuatu yang tidak baik. Tradisi yang berbau mistis lainnya Grebeg Suro. Setiap tanggal 1 Muharam Suro, di kota Ponorogo diselenggarakan Grebeg Suro yang juga merupakan hari lahir Kota ini. Dalam acara Grebeg Suro ini diadakan Kirab Pusaka yang biasanya diselenggarakan sehari sebelum tanggal 1 Muharram. Pusaka peninggalan pemimpin Ponorogo jaman dulu,saat masih dalam masa Kerajaan Wengker tersebut diarak dari Makam Batoro Katong (pendiri Ponorogo) ke Pendopo Kabupaten. Dalam acara ini juga tersirat berbagai nilai-nilai luhur. Argumen ini akan saya tegaskan lagi dengan kutipan berikut ini
Dalam paham mistik ini, bukanlah tata lahir yang penting, akan tetapi kebersihan dan kejernihan batin sebagai faktor kondusif hidup di bumi demi tercapainya keteraturan kosmos. Untuk itulah dibutuhkan pengetahuan sejati, yang dapat dicapai dengan melatih rasa sebagai satu-satunya sarana, dalam konteks mana kehidupan moral akan dapat dihayati dengan pengambilan jarak terhadap dunia lahir, dunia kasar, yang fenomenal sifatnya.(Slamet Sutrisno, 1985:24)
Oleh karenanya kita harus tetap menjaga kekayaan kita tersebut. Tuhan Yang Maha Esa telah secara adil menebarkan bakat kepada manusia. Kita pasti berubah menjadi lebih baik bila kita mau berusaha sungguh-sungguh. Reog ini milik kita, budaya kita, tanggungjawab kita. Mari kita jaga dan kita lestarikan bersama-sama. Kita harus menjadikan budaya kita ini sebagai sebuah filosofi kehidupan, identitas bangsa yang tercermin dalam berbagai sendi kehidupan berbangsa dan bernegara untuk menyelamatkan krisis multidimensial dan disintegrasi bangsa dan negara yang hingga kini belum menunjukan tanda-tanda teratasi. 





GOOGLE search
Custom Search

NGUNGKAP KEARIFAN LOKAL REYOG PONOROGO

"Iki Negeriku, Negeri kang dak tresnani, Indonesiaku.. yen aku ningali budaya-budaya ana kene, aku mesti ningali keindahan kang aneka-warna. Niscaya kowe bakal ngira keindahan-keindahan iki.. mutiara kang pading kelip. yen aku ngresapi makna saka budaya-budaya ana negeri ini, aku mesti bakal ngomong "luhur temenan negeri iki". Budaya iki budayaku... warisane para leluhurku... margo kuwi aku bakal tumindak kang paling becik kanggo negeriku lan aku pastike ora ana kang bisa ngrebut saka awakku... amarga Budaya iki Jiwaku... Budaya iki Ragaku... kawit mbiyen, sak iki, mbesok lan Sakteruse... 
Tema :
“Ponorogo ing Paningalanmu”
NGUNGKAP KEARIFAN LOKAL REYOG PONOROGO
Wujud kang Spesial saka Indonesia
(Penulis: Muzdakir Muhlisin, Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM)
kata kunci: reyog, ponorogo, dan grebeg suro

Saka judul kang aku angkat ana dhuwur kuwi bisa di mangerteni yen Objek materi utawa bahan kajian ana ing karangan iki yaiku “REYOG PONOROGO”, menawa Objek formal utawa sudut pandang kang aku gunakake yaiku “LOCAL WISDOM” utawa “KEARIFAN LOKAL”. Menurutku, Reog Ponorogo ora amung skedar tradisi pertunjukan ananging uga salah siji ning kesenian budaya kang akeh makna lan nilai-nilai luhur saka bangsa Indonesia kanggo hayati urip iki kanthi leres. Makna ananing kesenian Reog iki ora amung ana ing keindahan lan kekhasan saka sisi tampilane wae kang pancen njanjekake kemegahan, ananging luwih saka kuwi yaiku ana ing nilai-nilai kultural utawa kearifan lokal kang visualisasine ketok ana ing simbol-simbol bagian tarian kang disajikake ana ing penampilan kelompok reyog yaiku tari warok, Tari jathil, Bujangganong, Tari Klana, lan Topeng Dadak Merak. Saka pamentasan kasebut nilai-nilai luhur kang arep disampekake, divisualisasekake suapaya meresap ing saben jiwa generasi mudha kanggo memperjuangake martabat bangsa.
Local Wisdom utawa kearifan lokal yaiku penanda kang nunjukake identitas kita kan beda dibandingake karo suku bangsa liyane. Nganggo perspektif local Wisdom bisa dimengerteni yen kanthi epistemologi Nusantara ora teko wilayah Malaysia, Singapura, Thailand lan negara-negara liyane. Term “Nusantara” nglambangake kekhasan kang membedakake budaya Indonesia karo budaya bangsa liyane senadyan karo bangsa serumpun kayata Malaysia uga wis beda karo budayane awake dewe. Senadyan saka politik ing sejarah padha ananging kang mbedakake Indonesia karo negara liyane yaiku Lokal Wisdom utawa kearifan lokale. Local Wisdom, “aku yaiku aku” ana ing kaitane karo Epistemologi (Pengetahuan), Metafisika (Makna kang kesirat ing Simbol-simbol reog kasebut) lan Axiologi (nilai-nilai luhur kan nglatarbelakangi pertunjukan reog kasebut). Kearifan lokal iki kang mbedakake antara budaya kita karo budaya liyane.



INSPIRASI DINA IKI


"AKU ORA PENGIN MATI KATHUK AKU KANTHI BENER TUMINDAK KANG PALING BECIK KANGGO NEGERI IKI SAMAMPU BAKATKU
LAN BAKAL SAKLAWASE DAK JAGA WARISAN PARA LELUHURKU
NGGUNAKAKE JIWA LAN RAGAKU KATHUK NAFAS TERAKHIR TAKHEMBUSAKE


Reog ponorogo ing waktu kepungkur dadi bahan omongan amarga di-klaim warisan budaya Malaysia. Sakjane kontroversi iki secara faktual bisa diselesaikake nganggo analisis runtut sejarah asal-mula budaya reog kasebut lan nilai-nilai kang nglatarbelakangi. Malaysia bisa wae mainake tarian reog kasebut fasih kaya kang dimainake masyarakat Ponorogo ananging mesti ora bisa nunjukske nilai-nilai kang nglatarbelakangi seni pertunjukan reog ikii diciptakake amarga budaya iki khas Indonesia kang diciptakake pada karo nilai-nilai kang diyakini masyarakat setempat yaiku masyarakat Ponorogo kang ora ditemoni ing daerah liyane. Yen Malaysia duweni dalih Reog (ana negara kuwi dijenengake Barongan) iku warisan suku Jawa kang migrasi utawa pindah menyang negeri jiran kasebut, wis sakmestine Barongan kasebut ora oleh di klaim saka Malaysia lan hak kepemilikan budaya Reog kanggo suku Jawa kang migrasi kasebut uwis ilang utawa gugur amarga deweke uwis resmi pindah negara saka negara Reog iku lahir dan berkembang yaiku ing Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia.
Hak kepemilikan Imigran Jawa ana Malaysia iku gugur amarga Budaya Indonesia (Reog Ponorogo salahsijine) iku budaya hasil karya asli Manungsa Indonesia. Manungsa Indonesia kang aku maksud yaiku manusia Indonesia jiwa lan ragane. Penduduk Indonesia saka Sabang katuk Merauke kang diakui kanthi formal, nduweni tradisi kang khas Indonesia, nduweni karakter-karakter manusia Indonesia kang bisa di delok saka budaya-budaya kang diciptakake. misale Reog iki.
Senadyan kaya mengkono, kang dikarepke gugur ana kene ora berarti para Imigran Jawa ana Malaysia kuwi mau ora oleh mainake kesenian Reog. Imigran tetep diolehke amarga senadyan piye isih nduweni darah Jawa, teko titi wancine yo tetep keturunan jawa. Ananging Imigran kuwi amung diolehke mainake kesenian iki amarga dadi “Pewaris Budaya” kanthi personal dudu “Pewaris Budaya” dalam arti teritorial utawa Negara sahingga ora oleh dikomersialake apa meneh dipatenke ana Negara anyar anggone deweke urip sak iki. Yen pengen ngomersilake Reog iki, para Imigran kudu oleh izin lan menehi royalty marang negara asal Reog iki lahir utawa diciptakake yaiku Indonesia amarga kanthi teritorial Ponorogo ana ing wilayah Indonesia. Yen sing kaya kuwi mau ora dileksanakake, krisis multidimensial lan disintegrasi bangsa lan negara bakal tambah parah. Indonesia lan semana uga negara liyane uga bisa nge-klaim budaya siji lan sijine (budaya Malaysia umpamane) migunakake alibi kang padha yaiku ana Imigran Malaysia kang tinggal ana ing Indonesia kang ngewarisi budaya saka negara asale. Yen kaya mengkono apa gunane HAK CIPTA COBA?. Reog iku kang nyciptakake masyarakat Ponorogo lan diciptakake ana Ponorogo, Indonesia. Dadi wis sakmestine budaya iki duweke Ponorogo, duweke Indonesia!. Yen kepingin dadi pewaris resmi Reog ponorogo yo Pindah wae menyang INDONESIA.
-->
Epistemologis lan Axiologis kearifan lokal reog nycakup pengetahuan lan sejarah asal-muasal kebentuke budaya kasebut serta nilai-nilai luhur kang khas kang mbedakake karo bangsa liyane. Reog Ponorogo sakmestine nduweni nilai-nilai kang nglatarbelakangi kang asale saka nilai bangsa Indonesia kang beda karo Malaysia. Kanggo nggali nilai-nilai kang tercermin ana ing pertunjukan Reog Ponorogo, luwih becik yen kita mangerteni sejarah kang nglatarbelakangi kaya kang dak kutip saka Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas iki:
Sakjane ana lima versi populer kang berkembang ana masyarakat babagan asal-usul Reog lan Warok, nanging salah siji cerita kang paling terkenal yaiku cerita babagan pemberontakan Ki Ageng Kutu, abdi kerajaan ing masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit paling akhir kang berkuasa ana abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka amarga pengaruh kuat saka pihak rekan Cina ing lan prilaku raja kang korup, dewekke uga mirsani yen kekuasaan Kerajaan Majapahit bakal berakhir. dewekke banjur ninggalake sang raja lan ngedegke perguruan lan ngajari anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, lan ilmu kasempurnaan kang nduweni harapan supaya anak-anak muda iki bakal dadi bibit kebangkitane kerajaan Majapahit. Sadar yen pasukane cilik banget yen arep ngelawan pasukan kerajaan banjur pesan politis Ki Ageng Kutu disampakake ngganggo sarana pertunjukan seni Reog, kang dadi "sindiran" kanggo Raja Bra Kertabumi lan kerajaanne. Pagelaran Reog dadi cara Ki Ageng Kutu mbangun perlawanan masyarakat lokal gunakake kepopuleran Reog.
-->
Ana ing pertunjukan Reog ditampiake topeng bentuk sirah singa kang dikenal jenenge "Singa Barong", raja hutan, kang dadi simbol Kertabumi, lan ana nduwure ditancapake bulu-bulu merak sahingga nyerupai kipas raksasa kang nyimbolake pengaruh kuat para rekan Cinane kang ngatur ana ing saben gerak-gerikke. Jatilan, kang diperanake kelompok penari gemblak kang nunggangi kuda-kudaan dadi simbol kekuatane pasukan Kerajaan Majapahit kang dadi perbandingan kontras karo kekuatan warok, kang ana dibalik topeng badut abang kang dadi simbol Ki Ageng Kutu, dewekan lan nopang abote topeng singabarong kang luwih saka 50kg migunakake untune.
Cerita pemberontakan Ki Ageng Kutu iku dadi lambang kepribadian becik manungsa, kang terusmigunakke suara hatine supaya bisa terus tumindhak kanthi becik lan nyegah tumindak kang ala yaiku kesirat ana pesan politis Ki Ageng Kutu marang tumindak raja kang korup. Dewekke uga ngajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, lan ilmu kasempurnaan kang nduweni harapan supaya anak-anak muda iki bakal dadi bibit kebangkitane kerajaan Majapahit. Kita ora bisa mungkiri yen waktu iki akeh tindakan korupsi ana Indonesia. Amarga kuwi, nilai-nilai luhur kasebut mesti migunani kanggo mbangun Indonesia kang luwih manusiawi, madani, bermartabat, lahir lan batin, sarta luwih terhormat ana tata pergaulan global.
Saka setitik uraian ana dhuwur uwis jelas, Reog pancen dudu penentu pokok becik apa alane bangsa kita, amarga isih akeh perkara kang luwih berpengaruh. Nanging, suatu kenyataan kang uga ora bisa dipungkiri, yaiku Reog iki bakal nduweni pengaruh marang masa depan bangsa amarga nilai-nilai luhur kang tersirat ana reog iku bisa dadi bahan renungan kanggo masyarakat supaya bisa nemuake makna-makna hidup manusiawine kanthi eksistensial uga kanthi transidental.
Teko dina iki, kita isih mirengake ungkapan yen bangsa kita iki bangsa kang gedhe, hari ini, kita masih mendengar ungkapan bahwa bangsa kita adalah bangsa besar, nduweni khazanah alam-lingkungan lan alam-budaya kang kaya banget, nanging jarang kita temukake manungsa kang bisa njelasake kaya apa kekayaan budaya kang kita nduweni. (Damardjati Supadjar, 2001: -)
Pernyataan saka kutipan iku dudu pernyataan kang tanpa ana buktine. Akeh kebudayaan bangsa kita kang ora kita kenal. Kita lagi ngerasa nduweni sakbubare kebudayaan iku diakui buah karya bangsa liya. Kaya kasus waktu-waktu wingi, kita nesu sakbubare lagu daerah, Batik, lan Reog kita diakui Malaysia. Padahal akeh saka kita kang ora gelem mempelajari lan menghayati warisan kebudayaan kang kita nduweni iki. Ojo nganti kasus-kasus iku terulang ing kebudayaan kita kang liyane.
Saka uraian-uraian kang uwis dakjelaske kasebut, aku bisa narik kesimpulan yen Reog Ponorogo kudu tetep kita jaga, kita lestarikake lan kita hayati makna kang terkandung. Kanthi penghayatan pentinge generasi-generasi kang tangguh lan bermoral semestine Reog ora kita tinggalake ngonowae namung lantaran ora modern. Kudu ditegasake yen ora kabeh budaya kang kuno iki ala lan sebalikke ora kabeh budaya modern iku becik. Kudu ana sintesa baru ing akulturasi budaya khususe. Budaya kang becik dipertahanke lan budaya kang ngancam kedaulatan bangsa kudu ditinggalake. Yen mengkono muga-muga bangsa Indonesia bakal bisa bersaing karo bangsa liyane. Bangsa Indonesia bakal dadi bangsa kang modern nanging uga tetep religius lan berbudaya.
Reog, kerep diidentikake karo dunia mistis llan kekuatan supranatural. Nanging kita ora oleh mandang sebelah mata lan meng-cap reog namung kebudayaan primitif. Sakdurunge nganalisis pernyataan iku luwih becik kita maca kutipan iki:
Ora fair yen kita namung ngungkapake hal-hal muram yen mandang dunia. Kesempatan lan peluang tetep kebuka, ora namung ing ekonomi, ‘tradisional’ kayata pariwisata amarga kita diberkahi aset alam lan budaya kang jarang ana bandinganne (Ninok leksono, 2000: xvi)
Saka kutipan iku aku nduweni harapan muga-muga kita bisa bebarengan mbuka mata hati kita yen dunia mistis ora bisa dipandang ala sakutuhe. Tradisi kang mistis liyane yaiku Grebeg Suro. Saben tanggal 1 Muharam Suro, ana kota Ponorogo diselenggarakake Grebeg Suro kang uga hari lahir Kota iki. Ana acara Grebeg Suro iki diadakake Kirab Pusaka kang biasane diselenggarakake sedina sakdurunge tanggal 1 Muharram. Pusaka peninggalan pemimpin Ponorogo jaman biyen, nalika isih ing masa Kerajaan Wengker kasebut diarak saka Makam Batoro Katong (pendiri Ponorogo) nuju Pendopo Kabupaten. Ana acara iki uga tersirat nilai-nilai luhur. Argumen iki dak tegesake nganggo kutipan iki :
Ana ing paham mistik iki, dudu tata lahir kang penting, nanging kebersihan lan kejernihan batin dadi faktor kondusif urip ana bumi demi tercapaine keteraturan kosmos. Amarga kuwi dibutuhake pengetahuan sejati, kang bisa dicapai kanthi nglatih rasa kang dadi sisi-siji ning sarana, ana konteks ngendi kehidupan moral bakal bisa dihayati kanthi njupuk jarak marang dunia lahir, dunia kasar, kang fenomenal sifate.(Slamet Sutrisno, 1985:24)
Amarga iku kita kudu tetep njaga kekayaan kita kasebut. Gusti Kang Maha Esa uwis kanthi adil nebarake bakat kanggo manungsa. Kita mesti berubah dadi luwih becik yen kita gelem berusaha temenan. Reog iki duweke kita, budaya kita, tanggungjawab kita. Ayo kita jaga lan kita lestarikake bebarengan. Kita kudu ndadikake budaya kita iki filosofi kehidupan, identitas bangsa kang tercermin ing sakkabehe sendi kehidupan berbangsa lan bernegara kanggo nyelamatake krisis multidimensial lan disintegrasi bangsa lan negara kang hingga sakiki durung nunjukake tanda-tanda bisa di atasi.
-->






Sumber foto dan kutipan:
- Leksono,ninok.2000.IndonesiaAbad XXI. Kompas:Jakarta
- Sutrisno, Slamet.1985.Sorotan Budaya Jawa dan yang lainnya. Andi Offset:Yogyakarta
- http://id.wikipedia.org/wiki/Reog_(Ponorogo)
- http://www2.kompas.com/ver1/negeriku/
- http://www.eastjava.com
ANA LOMBA BLOG PONOROGO LHO "Kabeh wae dijaluk partisipasine supaya tulisane awake dewe bisa migunani" http://www.kotareyog.com/ngeblog2008 Daftar lan Informasi luwih lengkap, klik ana kene Artikel iki mugo bisa kanggo ngungkapkan makna-makna nilai-nilai kearifan lokal supaya bisa didadikake inspirasi lan motivasi kanggo tekad perjuangan mbangun bangsa. semoga kirane migunani lan menehi sumbangan kang berarti kanggo Indonesia.
yen arep maca informasi tulisan kang mlaku iki, monggo kusoripun di arahke marang tulisan nggih

GOOGLE search
Custom Search

LEARN LOCAL WISDOM of REOG PONOROGO

It is my Country, my beloved country, My Indonesia…! If I see cultures here, I always see many kind of beauty. Undoubtedly,you will predict the beauty of these cultures is pearl which spangled.If I diffuse meaning of this country cultures,I surely will say: what a high cultures it is. This culture is my property...heritage from my ancestors... hence I will do the best and I ascertain there is no that capable to grab this Culture from me…because this culture is my soul.., my body.. In yesterdays, nowadays, tomorrows and Forever...Theme :
" Ponorogo in your Eyes"
LEARN LOCAL WISDOM of REOG PONOROGO
Something Special from Indonesia
(By: Muzdakir Muhlisin, Student of Philosophy Faculty, Gadjah Mada University)
Keyword: reog, ponorogo, dan grebeg suro

From the title above we can know that Material Object of this article is "REOG PONOROGO". While, its formal Object or viewpoint is "LOCAL WISDOM". For me, Reog Ponorogo is not only showing tradition but also cultural artistry which full of high values from Indonesian nation to involve their life fully. Meaning Attendance of Reog not only at beauty and specification from its appearance side which it is true promise pride, but also local wise or cultural values which is its visualization look in dance fragment symbol which is presented in appearance of reog group namely warok dance, jathil Dance, Bujangganong, Klana Dance, and Dadak Merak Mask. Through the staging of reog, high values which will be submitted for every generation in fighting for nation prestige.
Local Wisdom is sign which is show of our different identity with other tribe। In perspectively local Wisdom can known that by epistemology, Nusantara is not regional of Malaysia, Singapore, Thailand and other nations. Term "Nusantara" symbolizing specification which differentiating Indonesian culture with other culture even with clump nations. For example: Malaysia. Though politically in same history but differentiating Indonesia with other nations is its Local Wisdom. Local Wisdom, "I am I" in its bearing with Epistemology (Knowledge), Metaphysics (Meaning of reog Symbols) and Axiology (high values which is background of Reog). This Local wisdom is differentiating between our cultures with others.



TODAY'S INSPIRATION


"I DO NOT WISH DEATH

UNTIL I PRECISELY
DO THE BEST FOR THIS COUNTRY

with my TALENT I HAVE

AND I WIL ALWAYS TAKE CARE
OF HERITAGE from my ANCESTORS
WITH MY BODY AND SOUL
UNTIL LAST BREATH BLOW IN my LIFE.

Some times ago, Reog Ponorogo became discussion object because claimed as cultural of Malaysia. In fact this controversy can be finished with analyzing cultural history of reog and its values. Malaysia might possibly play the reog dance as same as with done by Ponorogo peoples but I believe that Malaysia can not show its values which is artistic background which answer why reog created. It is because this culture typically Indonesia where the culture created according to values believed by local society namely Ponorogo society which is not there are in others area. If Malaysia equivocate that Reog (which is over there named Barongan) represent Java tribe heritage whom were migration to “jiran (neighbour)” country hence the Barongan may not claimed by Malaysia and proprietary rights of Reog for Java tribe whom were migration have been erased by itself because they were officially go out or move nationality from country where that Reog born and expand (in Ponorogo, East Java, Indonesia Country).
Proprietary rights of Javanese Immigrant in Malaysia erased because Indonesian Culture (Reog Ponorogo was included in it) is culture result of original masterpiece of Indonesian Human Being. Human beings of Indonesia consist of their soul and body. Resident of Indonesia from Sabang until Merauke confessed formally, having typical tradition of Indonesia, having Indonesian human being character which is mirror in created cultures by them. For example this Reog and included in its cultures is Indonesian belleslettres.



Nevertheless, what I intend be erased here is not meaning that all Javanese Immigrant in Malaysia may not play artistry of Reog. They remain to be enabled because however their blood is Javanese blood, until their death they are still Javanese. However, they only enabled to play this artistry as " Cultural Heir" by personal non " Cultural Heir" in new territorial or State so that may not be commercial and patented in new State of place where they remain in this time. If they want to commercial this Reog, they must get permit and give royalty to country where this Reog was born or created, in this case is Indonesia because Ponorogo by territorial reside in Indonesia region.
If matter that way does not be done by Javanese immigrant in Malaysia, it will make multidimensional crisis and disintegration of states and nations will worse. For these reason, Indonesia and other Nations in this world also can claiming cultural of others (Malaysia culture for example) with same reason that there is Immigrant of Malaysia who live in Indonesia as cultural heir from their old country. If that is happen, what is utility of COPYRIGHTS? Reog was created by Ponorogo society and created in Ponorogo, Indonesia. So, this Cultural must have property of Ponorogo, property of Indonesia. If you want to be formal heir of Reog Ponorogo, you must change your nationality to become INDONESIA resident।
Epistemology and Axiology of local wise of reog include history and knowledge of formed of this culture and also typical high values which differentiate with other nation. Reog Ponorogo is of course has values which come from Indonesian nation value differentiate with Malaysia. To dig values which is represent in the theatre of Reog Ponorogo, how a goodness it is if us know its history such as those which I borrow ideas from Wikipedia Indonesian, free encyclopedia following:
Basically there are five popular story version which expand in society about Reog and Warok history, but one of the most famous story is story about rebellion of Ki Ageng Kutu, a serve empire at a period of Bra Kertabumi, top kick last King of Majapahit at 15th century। Ki Ageng Kutu Irate because king friend from Chinese has strong influence in governance and king was corrupt, he even also see that Monarchic power of Majapahit will end। He then leave the king and found teacher where he teach young children art of self-defence, science of impenetrability by them self, and perfection science on the chance of that is young children will become seed from evocation again empire of Majapahit later. Conciousness that its undersize team to fight against monarchic team hence political message of Ki Ageng Kutu submitted through show of Reog, representing " insinuation" to King Bra Kertabumi and his empire. Performance of Reog was become way of Ki Ageng Kutu to develop local society resistance use popularly of Reog.
-->

In the theatre of Reog presented mask in form of lion head known as " Singa Barong", forest king, be symbol of Kertabumi, and on the top stuck peacock plume till look like giant fan which is symbol of strong influence of king friend from China arranging the from the top of all his gesture. Jatilan, played by gemblak dancer group riding rocking horse become symbol strength of Monarchic team of Majapahit becoming contrast comparison with strength of warok, residing in at the opposite of red clown mask which become symbol for the Ki of Ageng Kutu, alone and sustain tired singabarong mask weight more than 50kg only by using his tooth.


Story about rebellion of Ki Ageng Kutu above according to me symbolize good personality of human being, who always use their conscience to be always do a kindness and prohibit unrighteous deed. Its represented of political message of Ki Ageng Kutu to corrupt king behavior. He also teach young children with art of self-defence, science impenetrability of their self, and perfection science on the chance of that is young children will become seed from evocation again empire of Majapahit later. We cannot deny that in this time happened any corruption action. Therefore, according to the high values are very useful to develop again Indonesia to be more prestigious, born and mind, and also more respectable in arranging global association.


From a little breakdown of above presumably clear, that Reog is true non fundamental determinant of goodness or not of our nation, considering many much more having an effect on matter in this case. But, an undeniable fact also, that this Reog will giving many influence to the future of nation because high values in it can become contemplative materials to society to get back their life meanings[of either through existential and also by transidental.
Today, we still hear expression that our nation is big nation, with environments and also very rich cultural nature, but we seldom find one who could earn to explain is like what cultural properties which we have. ( Damardjati Supadjar, 2001 -)
Statement from citation above is not statement which without there is evidence. Many culture of our nation which we do not recognize. We newly sense of belonging after the culture confessed as other nation masterpiece. It is like case recently, we bubble up our emotion after traditional song, Batik, and our Reog was confessed by malaysia. Though our own do not want to study and involve culture heritage which we have thely. I wish that case above doesn't be recurred at our other cultures.
From descriptions which I have explain thely, I earn to conclude that Reog Ponorogo have to fixed take care by us, preserve and involve of meaning which consist in it. With carrying out of about is important of taft generation and have good moral, Reog should not leaved off hand just caused it is not modern. Require to be affirmed also that all that is not ancient is bad conversely all that is not modern is goodness. Need the existence of new point of view in cultural acculturation specially. Culture which is good to be defended and culture menacing sovereignty of nation have to be left. Thereby Indonesian nation will be able to vie with other nation. Indonesian nation will remain to be modern nation but remain to be cultured and religion.
Reog, is often related to mistical world and strength of supranatural. But we may not look into one side and said that reog is only primitive culture. Before analyzing the statement, How a good it is if we read beforehand citation following:
It is not fair if we only laying open dismal things in looking the world. And opportunity remain to be wide open, not only in economics, ' traditional' is like tourism because we benediction with cultural and natural asset which seldom there are in others ( Leksono Ninok, 2000: xvi)
From citation above, I hope that we can open eye of our heart together that mistical world cannot be looked into exclusive as something bad. Tradition smelling other mistical is Grebeg Suro. Every date of 1 Suro Muharam, in Ponorogo town carried out Grebeg Suro which also is this Town birthday. In this Grebeg Suro event is performed Kirab Patrimony which is usually carried out one day before date of 1 Muharram. Patrimony Omission of Ponorogo leader long times ago (when leader still in a period of Empire of the Wengker) is pageant from Mausoleum Batoro Katong (Ponorogo founder) to Verandah of palace Sub-Province. In this event also implicit various high values. This argument I will reaffirm with citation following:
In this mystique understanding, is not arrange of born most important, however clearness and hygiene of mind as kondusif live factor in the world for the shake of reaching of regularity of cosmos. For the reason, required real knowledge, which can get with train our feel as single medium, in which of moral life will be able to involve with intake apart to real world, harsh world, which is fenomenal in character. ( Slamet Sutrisno, 1985:24)
For the reason we have to remain to take care of our properties. God have fairly talent disperse to human being. We surely turn into better if we try seriously. This is our Reog, our culture, our responsibility. Let us take care of and we preserve together. We have to make our culture as a life philosophy, nation identity which is represent in so many joint life of nation and state to save multi dimensional crisis and disintegration of nation and state which until this time not yet marking show overcome.




GOOGLE search
Custom Search

Rabu, 03 Desember 2008

RAHSIA SURAH YASSIN AYAT KE 58

Sumber artikel Dari:"Champaka Rani" @googlegroups.com
Assalamualaikum wbt............
> Barangsiapa yang membaca YASSIN sepenuhnya dan pada ayat ke 58 surah
> tersebut " SALAMUUN QAULAN MIN RABBIN RAHIM " diulang sebanyak 7 kali
untuk
> 7 niat baik mu, Insyallah dengan izin yang maha esa dan maha kuasa,
semua
> hajatmu akan dikabulkan.
>
> Jika boleh niatkan sebegini:
> 1) YA-ALLAH YA-RAHIM, Ampunkan dosa-dosaku dan saudara-maraku
> 2) YA-ALLAH YA-RAHMAN, Kurniakan aku isteri,suami,anak-anak yang soleh
dan
> mencintai islam
> 3) YA-ALLAH YA-RAZZAK, Kurniakan aku rezeki yang berkat,kerja yang baik
dan
> berjaya didunia dan akhirat.
> 4) YA-ALLAH YA-JABBAR, Makbulkan hajat penghantar maklumat yang aku
dapat
> ini
> 5) YA-ALLAH YA-MUTAQABBIR, Jauhkan aku dari sifat khianat dan munafiq
dan
> miskin
> 6) YA-ALLAH YA-WADUUD, Kurniakan aku dan seluruh umat muhammad yang
beriman
> kesihatan zahir batin
> 7) YA-ALLAH YA-ZALJALA LIWAL IKRAM, Makbulkanlah semua hajatku, dan
> redhaikanlah aku.....
>
> AMINnnnn.
> Sampaikan dakwah ini kepada sahabat anda seramai 7 orang atau lebih,
tiada
> kerugian bahkan digalakkan. Ikhlaskanlah hatimu menyampaikan dakwah ini
> kerana Allah.

Tentang Indonesia



Indonesia terletak antara dua benua, Asia Dan Australia. Indonesia juga berada diantara dua samudra, Samudra Indonesia dan Pasifik. Indonesia terbentang luas antara 60 derajat garis lintang utara sampai 110 derajat garis lintang Selatan dan 90 berajat garis bujur barat sampai 141 derajat. Luas Indonesia dari barat ke timur adalah 5.120 kilometer dan 1770 kilometer dari utara ke selatan. Indonesia Berbatasan dengan Brunei Darussalam disebelah utara, Samudra India disebelah selatan, Papua new Guinea disebelah timur dan Kepulauan Nicobat disebelah barat. Maka dapat katakan bahwa Indonesia mempunyai posisi strategis.
Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari 13.667 pulau. Sebagian dari pulau terletak pada garis katulistiwa. Pulau itu adalah Kalimantan ( Borneo), Sumatra, Sulawesi, dan Halmahera. Pulau-pulau tersebut mendapatkan banyak sinar matahari bersinar. Ada lima pulau besar yaitu Sumatra, Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Irian.
Area Daratan Indonesia adalah 1.904.345 kilometer persegi. Lebih dari separuh daratan adalah hutan yakni sekitar 120 hektar. Hutan meliputi daratan tinggi dan rendah, sebab sebagian besar Indonesia adalah pegunungan. Negeri ini mempunyai banyak sumber daya alam. Negeri ini mempunyai banyak hutan, banyak laut dan berbagai temat pertambangan. Bagaimana dengan musim? Indonesia mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau dari April sampai Oktober, dan musim hujan dari Oktober sampai April.
Indonesia juga kaya akan hasil tambang. Diantaranya adalah minyak, timah, batubara, emas, perak, dan tembaga. Bagaimana dengan Laut Indonesia? laut mempunyai berbagai macam jenis ikan. Laut juga menghasilkan mutiara, dan garam. Selain itu, laut juga mempunyai panorama indah. Pantainya indah untuk menikmati. baik untuk menyelam, ski atau memancing. pernahkah kamu pergi ke Bali? Bali adalah bagian dari Negeri Indonesia. Bali merupakan suatu pulau kecil dekat Pulau Pulau Jawa. Bali sangat terkenal. Banyak orang-orang ingin datang ke Indonesia untuk lihat Bali. Bali juga dikenal dengan taman lautnya yang indah. Langitnya kaya dengan burung-burung dan matahari bersinar sepanjang hari. Hal tersebut adalah salah satu alasan mengapa kamu harus mengunjungi Indonesia secepatnya.

Selasa, 02 Desember 2008

PERMAINAN TRADISIONAL KIAN TERSISIH

“PERMAINAN TRADISIONAL KIAN TERSISIH”
Permainan tradisional adalah permainan yang dimainkan oleh anak-anak Indonesia dengan alat-alat yang sederhana, tanpa mesin, bahkan ada yang hanya bermodal ‘awak waras’ atau ‘badan sehat’। Maksudnya, asalkan anak tersebut sehat, maka ia bisa ikut bermain. Jenis permainan ini.juga sering disebut ‘dolanan’.

Permainan tradisional bukanlah permainan yang tanpa makna melainkan permainan yang penuh nilai-nilai dan norma-norma luhur yang berguna bagi anak-anak untuk memahami dan mencari keseimbangan dalam tatanan kehidupan. Oleh karena itu, permainan tradisional yang diciptakan oleh leluhur bangsa ini pun berdasar atas banyak pertimbangan dan perhitungan. Hal ini karena leluhur kita mempunyai harapan agar nilai-nilai yang disisipkan pada setiap permainan tersebut dapat dilaksanakan anak-anak dalam setiap tindakan dan perbuatannya dengan penuh kesadaran atau tanpa adanya paksaan.
Dari sedikit uraian diatas kiranya sudah jelas, bahwa permainan traisional memang bukan penentu pokok baik atau tidaknya bangsa kita, mengingat banyak hal yang jauh lebih berpengaruh dalam hal ini. Namun, suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri pula, bahwa permainan tradisional ini akan banyak memberi pengaruh bagi masa depan bangsa karena nilai-nilai luhur yang tersirat didalamnya bisa melekat pada pemain-pemainnya, yakni anak-anak dan cucu-cucu kita kelak yang akan meneruskan perjuangan kita dalam mempertahankan bangsa ini.
Bila kita diberi pertanyaan apakah menurut kita permainan tradisional ini baik bagi anak-anak kita atau lebih dari itu bagi bangsa ini, tentunya rata-rata atau bahkan semua orang akan menjawab ‘baik’. Tetapi inti persoalannya ialah bukan hanya ‘baik’ atau ‘tidak baik’, melainkan ‘mau’ atau ‘tidak mau’. Maukah kita melestarikan bingkisan kecil dari nenek moyang kita ini? jawabnya mungkin bukan ‘mau’ atau ‘tidak mau’, malainkan justru balik bertanya tentang apakah permainan tradisional itu. Bagaimana kita mau melestarikannya jika kita tidak tahu jenis-jenis permainan ini dan cara memainkannya. Kenyataan ini menjadi suatu hal yang wajar ketika kita dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa bangsa ini telah banyak berubah seiring berkembangnya teknologi modern.
Sampai hari ini, kita masih mendengar ungkapan bahwa bangsa kita adalah bangsa besar, dengan khazanah alam-lingkungan maupun alam-budaya yang Sangat kaya, namun jarang kita temukan orang yang dapat menjelaskan seperti apa kekayaan budaya yang kita miliki. (Damardjati Supadjar, 2001: -)
Pernyataan dari kutipan diatas bukanlah pernyataan yang tanpa ada bukti. Banyak kebudayaan bangsa kita yang tidak kita kenal. Kita baru merasa memiliki setelah kebudayaan tersebut diakui sebagai buah karya bangsa lain. Seperti kasus baru-baru ini, kita meluapkan emosi kita setelah lagu daerah, batik, dan reog kita diakui oleh malaysia. Padahal kita sendiri tidak mau mempelajari dan menghayati warisan kebudayaan yang kita miliki tersebut. Jangan sampai kasus-kasus diatas terulang pada tarian tradisional.
Dahulu Nusantara mendapatkan kemudahan alami, berupa subur makmur tanah-air tetapi lalu lalai, bahwa kemudahan itu adalah karena perkenan-Nya, dependen-Nya. Maka ketika koloinalisme, imperalisme Barat secara aktif menyerang, Nusantra berada dibawah penderitaan penjajahan. Kini setelah merdeka, terdapat ancaman bahaya baru, yaitu sistem kemudahan buatan yang mereka tawarkan. Kini orang lalu menjadi objek perbuatan yang mereka tawarkan. Kini orang lalu menjadi objek penderita dari kemudahan-kemudahan amalan mereka. (Damardjati Supadjar, 2001: 107)
Suatu kenyataan, bahwa banyak masyarakat Indonesia mulai dari anak-anak sampai mereka yang telah dewasa pun kini asyik di depan layar TV, komputer, dan handphone untuk bermain game. Mereka bahkan rela merogoh kocek yang tidak sedikit untuk melengkapi aplikasi game mereka. Hal tersebut tidak mengherankan karena permainan ini tidak memerlukan tempat khusus dan luas serta bisa dimainkan sendiri. Permainan ini pun telah menggunakan teknologi modern sehingga dengan memainkannya mereka tidak akan dikatakan ketinggalan zaman. Berbeda dengan permainan modern ini, permainan tradisional memang tidak menggunakan teknologi canggih bahkan terkesan kuno. Mungkin ketika kita mendengar kata tradisional saja kita sudah enggan untuk memainkannya. Akan tetapi, satu hal yang kita lupakan yakni makna dari permainan ini dan dampaknya bagi perkembangan anak terlebih lagi dalam hubungannya dengan interaksi sosial.


Permainan modern memang bisa dimainkan dimana saja dan kapan saja. Kita sering memainkannya di kamar tidur bahkan ada yang memainkannya ketika sedang di kamar mandi. Tidak jarang pula anak-anak membawa HP kesekolah untuk nge-game diwaktu istirahat atau ketika ada guru yang berhalangan hadir. Walaupun sejumlah sekolah melarang siswa-siswa membawa HP namun ternyata masih banyak siswa yang tetap membawa . Lebih dari itu, kita juga sering melihat orang-orang yang berada di halte; terminal; bandara; bahkan dipasar sekalipun sedang bermain game. Mereka memanfaatkan HP bukan hanya sekedar sebagai alat komunikasi tetapi juga sebagai sarana hiburan.
Selain HP, banyak cara untuk menikmati permainan modern ini. salah satu caranya adalah menyewa kaset game di rental-rental kemudian memainkannya di rumah dengan menggunakan komputer atau playstation yang dihubungkan dengan layar TV. Selain itu, kita juga dapat memperoleh aplikasi game dengan cara men-download di internet.
Begitu luasnya objek permainan modern ini sampai-sampai mahasiswa pun tidak terlepas dari belenggunya. Mahasiswa yang semestinya mengemban amanat orang tua untuk menuntut ilmu justru menghabiskan waktunya hanya untuk main game. Mereka asyik duduk di depan komputer sampai lupa waktu. Sayangnya mereka duduk di depan komputer bukan untuk mengerjakan tugas kuliah melainkan bermain game. Alasan yang mereka lontarkan rata-rata sama, yaitu untuk memperoleh hiburan setelah pulang kuliah. Akan tetapi kenyataannya, waktu mereka lebih banyak dihabiskan untuk bermain game dibandingkan untuk mengerjakan tugas kuliah. Ironis memang, sebuah hiburan lebih diutamakan kewajiban pokok sebagai mahasiswa.
Disaat permainan modern berkembang pesat dengan jenis-jenisnya yang makin variatif, permainan tradisional kini kian tersisih; tertinggal bahkan terlupakan. Mungkin saat ini hanya sedikit dari kita yang masih tahu jenis-jenis permainan tradisional seperti gatrik, lompat tali , petak umpet , benteng, gobak sodor, dakon, gasing, dan lain sebagainya. Bahkan bisa jadi permainan ini tidak dikenal anak-anak sekarang yang tinggal di kota-kota besar. Sangat aneh rasanya jika kita berharap mereka memainkanya sedangkan permainan ini terasa asing bagi mereka.
Salah satu permainan tradisional yang sempat populer adalah benteng. di desa tempat saya tinggal, permainan ini lebih dikenal dengan sebutan ‘jek-jekan’. Mungkin ada daerah lain yang memberi nama yang berbeda pula. Tetapi, umumnya permainan ini dinamakan ‘benteng’. Benteng adalah permainan yang dimainkan oleh dua grup. syarat permainan ini, masing-masing grup hanya terdiri dari 4 sampai 8 orang. tetapi ini bukan syarat pokok dan tidak begitu dipermasalahkan karena jumlah anak yang ingin ikut bermain dala permainan ini bisa lebih dari 20 anak. Jumlah peserta ini tergantung jumlah anak yang tinggal di suatu desa tempat anak-anak tersebut bermain. Bahkan jumlahnya kadang lebih dari 30 anak, karena anak-anak dari desa lain pun datang ketempat tersebut untuk ikut bermain. Apabila jumlah pemain terlampau banyak biasanya disiasati dengan pembagian peserta berdasarkan tingkatan kelas disekolah. Misal, memberikan kesempatan anak-anak yang masih duduk di kelas 1 sampai kelas 3 untuk bermain terlebih dahulu. Ketika mereka sedang bermain, anak-anak kelas 4 sampai kelas 6 berpartisipasi sebagai penonton sekaligus sebagai saksi dan juri agar idak ada pihak yang curang dalam permainan tersebut.
Syarat kedua, masing-masing grup memilih suatu empat ebagai markas . Markas ini biasanya sebuah tiang atau pohon sebagai ‘benteng’. Hal inilah yang menjadikan permainan ini dinamakan benteng. Lama atau tidaknya permainan ini ditentukan oleh mudah atau tidaknya benteng-benteng itu ditakhlukkan oleh oleh lawannya. setelah ada satu grup yang kalah maka ada pergantian pemain , yakni anak-anak kelas 4 sampai kelas 6 sebagai pemain dan anak-anak kelas 1 sampai kelas 3 sebagai penontonnya.
Tujuan utama permainan ini adalah untuk menyerang dan mengambil alih ‘benteng’ lawan dengan menyentuh tiang atau pohon yang telah dipilih oleh lawan sebagai benteng dan meneriakkan kata ‘benteng’. Di desa saya, kata benteng ketika menyentuh tiang lawan ini diganti dengan kata ‘jek’. Oleh karenanya, permainan ini lebih di kenal dengan permainan ‘jek-jekan’. Kemenangan juga bisa diraih dengan ‘menawan’ seluruh anggota lawan dengan menyentuh tubuh mereka. Untuk menentukan siapa yang berhak menjadi ‘penawan’ dan yang ‘tertawan’ ditentukan dari waktu terakhir saat si ‘penawan’ atau ‘tertawan’ menyentuh ‘benteng’ mereka masing - masing.
Anak yang paling dekat waktunya ketika menyentuh benteng berhak menjadi ‘penawan’ dan bisa mengejar dan menyentuh anggota lawan untuk menjadikannya tawanan. Tawanan bisa dibebaskan bila rekannya dapat menyentuh dirinya. Tawanan biasanya ditempatkan berjajar di sekitar benteng musuh dengan posisi tangan saling berpegangan satu dengan yang lain. Hal ini dimaksudan agar teman satu grup mereka bisa lebih mudah melepaskan mereka dari tawanan. Aka tetapi apabila jumlah anak yang ditawan banyak, penjaga benteng akan kesulitan mempertahankan bentengnya karena pasti akan di keroyok musuh dengan jumlah yang banyak dari arah yang berbeda. Dalam permainan ini, biasanya masing-masing anggota mempunyai tugas seperti ‘penyerang’, ‘mata - mata, ‘pengganggu’, dan penjaga ‘benteng’. Permainan ini sangat membutuhkan kecepatan berlari dan juga kemampuan strategi yang handal.
Permainan tradisional lainnya yang tak kalah serunya adalah benthik. Kebanyakan orang sering menamakannya gatrik. Gatrik merupakan permainan kelompok yang terdiri dari dua kelompok. 14 tahun yang lalu permainan ini juga merupakan permainan yang populer bagi anak-anak laki-laki di desa saya.
Alat yang digunakan dalam permainan ini adalah dua potong kayu. Kayu yang biasa di pakai adalah potongan bambu kuning. Potongan yang satu berukuran kira-kira 30 cm dan potongan yang lainnya berukuran lebih kecil. Pertama-tama potongan yang lebih kecil diletakkan di antara dua batu lalu di pukul oleh pemain dengan menggunakan bambu yang lebih panjang, diteruskan dengan memukul bambu kecil tersebut sejauh mungkin. Pemukul akan terus memukul hingga beberapa kali sampai suatu kali pukulannya tidak mengenai/meleset dari bambu kecil tersebut. Setelah pemain pertama gagal mempertahankan pukulannya, maka anak berikutnya dari kelompok tersebut akan meneruskannya sampai giliran anak yang terkhir. Setelah permainan ini selesai maka kelompok lawan akan memberi hadiah berupa gendongan dengan patokan jarak dari bambu kecil yang terakhir hingga batu awal permainan ini dimulai. Makin jauh bambu kecil itu dilempar, maka makin enak digendong dan kelompok lawan akan lelah menggendong.
Jenis permainan menarik lainnya adalah engklek. Permainan ini biasa dimainkan oleh anak-anak perempuan. Engklek mempunyai banyak jenis dan cara meminkannya. Diantaranya, engklek dengan area permainan yang menyerupai palang merah. yang dibagi-bagi menjadi 5 kotak dan ditambah 2 kotak sebagai tangga. Alat yang digunakan adalah pecahan genting atau batu sebagai umpan. Umpan ini dalam bahasa jawa biasa disebut ’gacuk’. Permainan ini juga merupakan permainan kelompok. Hadiahnya pun hampir sama dengan gatrik, yaitu kelompok yang menang digendong kelompok yang kalah. Pemain yang menang dalam undian suit berkesempatan bermain lebih dahulu. Pemain tersebut melempar gacuk kedalam kotak pertama pada area permainan yang berbentuk palang merah. Kemudian pemain melompat-lompat dengan satu kaki (engklek) pada kotak-kotak lain sampai kembali kekotak pertama sambil mengambil kembali gacuk yang tadi telah dilemparkan di kotak pertama. Selanjutnya pemain tersebut melempar gacuk ke kotak yang kedua lalu melompat-lompat lagi seperti cara yang pertama dan seterusnya sampai gacuk dilemparkan pada kotak yang terakhir.semakin besar angka kotak yang harus dilempari gacuk, maka semakin jauh pula gacuk harus dilemparkan. Apabila pemain tidak dapat melempar gacuk kedalam kotak yang semestinya, maka permainannya dianggap mati dan kelompok lawan berkesempatan untuk bermain. Kelompok yang dapat menyelesaikan tugasnya melempar gacuk sampai kotak yang terakhir, maka kelompok inilah yang menang dan berhak di gendong ke suatu tempat yang telah disepakati bersama.
Sebenarnya masih banyak jenis-jenis permainan tradisional lain yang tak kalah seru untuk dimainkan. 14 tahun yang lalu permainan-permainan tradisional seperti diatas bukanlah permainan yang asing bagi saya dan mungkin juga bagi anak-anak Indonesia lain yang seusia dengan saya, khususnya yang tinggal di desa-desa. Masih jelas dalam ingatan saya ketika saya dan teman-teman saya bermain bersama. disiang hari bahkan setelah malam hari pun permainan kadang dilanjutkan kembali. Meskipun pada saat itu belum ada listrik didaerah saya dan hanya menggunakan obor dan sinar rembulan jika kebetulan bulan purnama. Maklum, saya tinggal di sebuah di desa pinggiran kota solo yang waktu itu listrik masuk desa pada tahun 1996. Tetapi hal itu justru berubah setelah listrik masuk desa. Anak-anak menjadi lebih suka menonton TV di rumah dari pada bermain di luar rumah.
Saya tidak bermaksud menolak teknologi tetapi justru sebaliknya, saya pun sangat bersyukur dan senang dengan perkembangan teknologi karena semakin membantu kita dalam beraktivitas. Saya berasumsi bahwa kesalahan bukan pada teknologi tetapi kesaahan terletak pada pemakai teknologi yang tak lain adalah kita. Kita boleh memanfaatkan teknologi tetapi jangan sampai justru kita yang di kuasai teknologi.
Sejalan dengan perkembangan teknologi ini, maka berkembang pula jenis-jenis mainan anak. jenis permainan pun sudah mulai berganti. Sebagian besar dari permainan anak tidak menggunakan alat-alat dari alam melainkan menggunakan mesin-mesin modern. Jadi, tidak mengherankan jika generasi sekarang lebih tertarik dengan permainan modern dari pada permainan tradisional.
Permainan tradisional kini sudah banyak yang ditinggalkan. Hanya sedikit jenis permainan ini yang masih dinikmati. Permainan yang masih bertahan rata-rata adalah jenis permainan yang bernilai komersiil untuk diperlombakan. Misalnya, layang-layang dan gangsing. Ada juga permainan yang tidak berdaya jual tetapi tetap eksis. Misalnya lompat tali dan petak umpet. Namun kini permainan ini juga hanya sedikit peminatnya dan tidak semeriah dahulu. Dahulu sepulang sekolah, anak-anak di desa saya selalu bermain bersama tetapi sekarang desa saya terasa sepi sepulangnya anak-anak SD pulang dari sekolah.
Menurut saya, permainan tradisional merupakan jenis olah raga sekaligus rekreasi yang sangat bermanfaat karena secara tidak langsung telah mendidik anak-anak dengan nilai-nilai yang di sisipkan dalam permainan tersebut. Saya akan memberikan contoh makna dari permainan benteng. Pada permainan ini semua pemain dituntut untuk selalu berhati-hati dalam setiap tingkah laku dan perbuatannya. Dengan demikian anak-anak dituntut untuk selalu waspada yakni selalu tanggap dengan keadaan sekitar.
Rawe-rawe rantas, malang malang putung (apapun rintangan dan hambatan yang menghalang, perjuangan tak akan pantang mundur sebelum cita-cita tercapai); Tri dharma: melu andarbeni (ikut merasa memiliki negara sehingga ikut memelihara/ membangun negara); melu angrungkebi (ikut membela negara bila diserang oleh musuh); mulad salira angrasawani (selalu mawas diri); menang tanpa ngasorake (menang tanpa merendahkan/ mempermalukan). (Thomas Wiyasa Bratawidjaja, 1996:55).
kutipan diatas saya rasa sangat tepat untuk menggambarkan nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam permainan benteng. Secara umum permainan tradisional mengandung makna yang hampir sama, yakni mempererat tali persaudaraan. Dengan bermain bersama, anak-anak dilatih untuk bisa saling menghargai bahwa setiap orang mempunyai watak yang berbeda-beda dan nasibnya masing-masing. Sesama manusia harus hidup tolong-menolong dengan bergotong-royong. Selain itu, pada setiap tahap permainan ini anak-anak sudah melatih diri untuk belajar bekerja keras dan disiplin serta sungguh-sungguh agar dapat mencapai apa yang dicita-citakan. Dalam pergaulan hendaknya setiap individu selalu berbudi luhur, setia kawan dan jujur.
Sementara itu, permainan modern yang saat ini menjadi idola baru bagi anak-nak sangat tidak mendidik, cenderung individual, materialistis, ingin menang sendiri, dan masih banyak efek negatif lainnya. Permainan ini tentu sangat jauh berbeda dengan permainan tradisional yang lebih mendidik anak-anak untuk saling berinteraksi satu sama lain.
Ironis memang, permainan modern yang sebagian besar berasal bukan dari negara sendiri, justru semakin digemari. Padahal, permainan tradisional dapat menjadi identitas warisan budaya bangsa ditengah keterpurukan kondisi bangsa saat ini. Nilai pendidikan moralnya juga banyak. Selain bermanfaat untuk melatih fisik anak agar lebih kuat, juga dapat melatih kemampun bermasyarakt, bekerja sama dan menaati aturan.
Rukun agawe santoso, crah agawe bubrah. Maksudnya kesatuan dan persatuan akan menjadi kuat senosa, sedang pertengkaran akan membawa kehancuran. sura dira jayaning rat, lebur dening pangastuti. artinya, kebenaran harus dilawan dengan kehalusan budi. (Thomas Wiyasa Bratawidjaja, 1996:54).
Nilai-nilai keutamaan tersebut tidak ditemukan pada permainan modern. Permainan modern mungkin dapat membuat cerdas tetapi cenderung individualis.
Dari uraian-uraian yang telah saya jelaskan tersebut, saya dapat menarik kesimpulan bahwa permainan tradisional harus tetap kita jaga dan kita lestarikan supaya tidak terjadi kasus seperti barong yang diklaim oleh bangsa lain. Dengan penghayatan tentang pentingnya generasi-generasi yang tangguh dan bermoral semestinya permainan tradisional tidak kita tinggalkan begitu saja lantaran tidak modern. Perlu ditegaskan pula bahwa tidak semua yang kuno itu jelek dan sebaliknya tidak semua yang modern itu baik. Semua kebudayaan semestinya diserap dengan akulturasi yang benar, dalam arti kebudayaan tradisional maupun kebudayaan modern yang baik harus dilestarikan sedangkan kebudayaan yang bernilai tidak baik bagi kemajuan bangsa harus disingkirkan.
Tidak fair bila kita hanya mengungkapkan hal-hal muram dalam memandang dunia. Kesempatan dan peluang tetap terbuka lebar, bukan saja dalam ekonomi, ‘tradisional’ seperti pariwisata karena kita diberkahi dengan aset alam dan budaya yang jarang ada bandingannya (Ninok leksono, 2000: xvi)
Oleh karenanya kita harus tetap menjaga kekayaan kita tersebut. Tuhan Yang Maha Esa telah secara adil menebarkan bakat kepada manusia. Kita pasti berubah menjadi lebih baik bila kita mau berusaha sungguh-sungguh.
Masa lalu, sekarang dan maa depan merupakan suatu proses yang berkesinambungan sehingga cara yang paling tepat untuk mencapai masa depan yang lebih baik adalah melalui transformasi budaya yaitu perubahan dalam hal konsep, bentuk, fungsi dan sifat budaya untuk menyesuaikan dengan kontelasi dunia, tapi tanpa merubah inti-inti nilai-nilai budaya Indonesia sendiri. (Mardiman, 1994:15).
Menurut saya permainan tradisional ini pun dapat ditranformasi. Misalnya, konsep permainan ini bisa di kemas lebih elegan dalam bentuk permainan outbond bagi wilayah perkotaan. Bentuk permainan ini dapat pula di buat semenarik mungkin misalnya, dengan menggunakan area bermain yang ditata sedemikian rupa dan alat alat yang di pakai tetapi tanpa mesin tetapi bisa di hiasi dengan warna. Fungsi permainan ini juga bisa diubah tidak sekedar kebudayaan tetapi kebudayaan yang bisa mendatangkan devisa yakni dikemas dalam pertunjukan kebudayaan dan pariwisata.
Solusi yang sederhana mungkin tiap-tiap sekolah (SD maupun TK) mengajarkan permainan-permainan tersebut kepada anak didiknya. Mengajarkan disini tidak hanya secara teori tetapi juga harus dipraktekkan. Jadi generasi anak-anak kita tetap mengenal budaya tradisional kita. (http://intiep.wordpress.com, Hidup ini adalah perjuangan /Februari 20, 2008)
Kesimpulan akhir yang dapat saya ambil, Banyak cara untuk mempertahankan kebudayaan kita. Kunci utamanya terletak pada diri kita masing-masing. Sebagai pewaris budaya, semestinya kita bangga dengan kebudayaan yang telah kita miliki ini. Walaupun tidak modern tetapi baik bagi kita. Apakah takut kalau dikatakan tidak modern? Jangan takut, karena yang modern itu belum tentu semuanya baik.
could I take some photos which in your blog

Abstract
By : Muzdakir Muhlisin
Teacher : Dr.Abbas Hamami M, M.Hum
Traditional game nowadays more and more to be excluded by modern game. This analysis handing out use an approach of hermeneutic, the first phase is data collecting, second phase is data clasificating, and the third is the result analysis by using metodic substance like; description, stuth size-analyze, interpretation and reflection. According to this handing out, I earn to conclude that traditional game represent one of containing culture heritage of high values which good for nation so that have to preserve.
Keyword: traditional game, philosophy. values, children
Abstrak
Permainan Tradisional Kian Tersisih
disusun oleh : Muzdakir Muhlisin
Pembimbing : Dr.Abbas Hamami M, M.Hum
Permainan tradisional kini makin tersisih oleh permainan modern. Analisa makalah ini menggunakan suatu pendekatan hermeneutic, tahap pertama adalah pengumpulan data, tahap kedua adalah klasifikasi data, dan tahap ketiga adalah analisis hasil dengan menggunakan unsur metodis seperti; deskripsi, analisis sintesis, interpretasi dan refleksi. Menurut makalah ini, saya dapat menyimpulkan bahwa permainan tradisional merupakan salah satu warisan kebudayaan yang berisi nilai-nilai luhur yang berguna bagi bangsa sehingga harus dilestarikan.
Kata kunci: permainan tradisional, nilai-nilai filosofi, anak-anak




INFO JOGJA

Informasi, Syarat, Formulir dan kontak person Pemilihan dimas diajeng bantul 2015 Click Me!
 

Pengunjung bulan ini

Flag Counter
 
Blogger Templates