11:36 |
Sekitar dua puluh tahun yang lalu aku terlahir di dunia ini. Ayahku memberiku nama Mudzakir Muhlisin. Awalnya aku tidak mengerti mengapa ia memberi aku nama itu. Bahkan bagiku, nama itu terlalu aneh. Tetapi anehnya pula, orang-orang disekelilingku sering memuji namaku adalah nama yang bagus. Apanya yang bagus? Sampai suatu saat ayahku memberi tahu arti nama itu dan akhir aku paham kalau itu memang nama yang tepat sampai-sampai tidak ada lagi alasan bagiku untuk tidak mensyukuri nama itu. Mudzakir berarti orang yang memberi peringatan, Muhlisin berarti orang yang ikhlas. Ayahku berharap aku menjadi orang yang baik. Tak hanya baik bagi diriku sendiri tetapi mau memberi peringatan kepada orang lain ke jalan kebaikan dengan ikhlas.
Aku terlahir 10 Mei. Ayahku bernama Ngatimin Harto Sugiono. Ibuku bernama Warijem. Mereka bukanlah orang yang mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi. Bahkan Ibu saya tidak mampu menyelesaikan sekolah dasar karena tidak mempunyai biaya. Ibu saya adalah anak yatim sejak beliau masih berumur enam tahun. Beliau memutuskan untuk berhenti sekolah ketika beliau kelas lima SD karena ia ingin agar adiknya (bulek saya) bisa melanjutkan sekolah. Kata tetangga saya yang seumuran ibu saya, beliau sebenarnya pintar bahkan beliau selalu menjadi juara kelas. Tapi akhirnya ibu saya memilih bekerja membantu nenek saya berjualan di pasar untuk membiayai sekolah bulek saya. Pengorbanan beliau pun tidak sia-sia karena bulek saya dapat menyelesaikan sekolahnya dan menjadi istri seorang kepala sekolah SD.
Sedangkan ayah saya sejak kecil sudah bekerja berjualan makanan di dalam kereta api. Meskipun saya tidak terlahir manjadi anak orang kaya dan orang berpendidikan tinggi tetapi bagi saya, orangtuaku adalah orang terhebat, luar biasa, dan orang tua terbaik di dunia ini bagi saya. Merekalah yang mengajari aku tentang makna hidup, makna kebaikan, pentingnya sebuah ketulusan; kesabaran; pengorbanan, kejujuran dan semua hal yang dapat menuntunku menapaki dunia yang memang fana ini. Merekalah guru terbaik bagi saya.
Dunia ini memang hanya sementara, tetapi perjalananku terasa sangat panjang dan kadang terasa melelahkan. Meskipun demikian, kedua orang tuaku selalu memberikan aku semangat dan meyakinkanku bahwa ini pasti jalan kemenangan, dengan penuh keyakinan mereka selalu mengatakan kepadaku bahwa kelak di ujung jalanku ini ada cahaya yang terang benderang. Mereka berharap dan penuh keyakinan bahwa aku, kakakku, dan adikku kelak menjadi orang yang sukses. Harapan yang masih selalu ku ingat dari mereka adalah keinginan mereka agar semua anaknya kelak menjadi seorang sarjana.”galo delengen kae, anak-anakke pak ngatimin, bapak-ibuke ora sekolah,nanging anak-anake pinter kabeh, dadi sarjana kabeh” (lihatlah itu, anak-anaknya bapak ngatimin, walaupun orang tuanya tidak sekolah, tetapi semua anaknya pintar semua, jadi sarjana semuanya). Kata sederhana itulah yang membuat saya berani bermimpi menjadi seorang sarjana. Sebuah cita-cita besar bagi seorang anak pedagang sayur.
Perjalanan hidupku awalnya tak jauh berbeda dengan ibuku, jika ibuku ketika enam tahun ditinggal mati ayahnya, aku ketika berumur enam tahun pun harus rela ditinggal kedua orang tuaku. Tapi paling tidak aku masih lebih beruntung, orang tuaku tidak meninggalkanku untuk selama-lamanya; mereka merantau ke Jakarta mengadu nasib. Pekerjaan ayahku sebagai penjual makanan di kereta api dan pekerjaan ibuku sebagai pedagang kacang di pasar tidaklah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Apalagi kedua kakakku pada saat itu sudah kelas 1 SMP dan kelas 5 SD. Kakak pertamaku diterima di SMP Favorit di kota Solo. Sebuah kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bagi orangtuaku. Tetapi dibalik itu, mereka harus berfikir keras agar kakakku tetap bisa melanjutkan sekolahnya.
Keadaan yang orangtuaku alami mungkin tak sesimpel yang aku ketahui, meskipun aku bisa merasakan betapa beratnya perjuangan mereka saat itu. Aku hanya tahu, bahwa mereka harus menjual rumah kami satu-satunya, lalu mereka meninggalkan aku, kakak-kakakku, dan adikku yang pada waktu itu masih berumur 4 tahun. Mungkin orang lain bisa mengatakan “tega sekali mereka dengan anak-anaknya”, bahkan ada tetangga saya yang mengatakan “le, le.. mau sekolah saja kok harus menjual rumah”. Tapi bagi kami, anak-anak mereka; kami percaya bahwa dibalik semua pilihan orang tuaku itu tersimpan harapan besar, harapan yang indah bagi kami, harapan yang selalu mereka katakan kepada kami. Harapan yang membuat orangtua kami berusaha merancang langkah-langkah yang tepat demi kelangsungan hidup kami. Setelah aku kuliah aku semakin paham bahwa manusia adalah homo volens yaitu makhluk yang mempunyai kemampuan untuk berpetualang dalam kehidupan, mencari sesuatu yang baru (inovatif), tidak sekedar mengulang-ulang rutinitas. Keputusan orangtuaku merantau ke Jakarta adalah usaha mereka untuk mengubah kehidupan kami dengan mencoba hal-hal yang baru yakni menjadi pedagang sayur di Jakarta.
Sebenarnya aku merasa sangat sedih, apalagi melihat adikku yang masih berumur 4 tahun yang sudah harus hidup bersama kakak-kakaknya di sebuah gubuk bekas kandang sapi. Tapi mimpi, cita-cita, harapan atau apalah itu namanya, sesuatu yang indah yang selalu ditanamkan kedalam benak kami itulah yang membuat kami semua mampu bertahan. Harapan itulah yang menjadi alasan bagi kami untuk tetap melanjutkan hidup. Harapan-harapan itu yang membuat kami tak pernah berhenti berjuang. Setiap sepuluh hari sekali, sepucuk surat dari ibu pasti kami terima. Semenjak ibu kami merantau ke Jakarta, bapak kami masih bekerja sebagai penjual makanan di kereta api jurusan Solo-Jakarta. Bapak kami pulang ke rumah setiap sepuluh hari sekali. Kami mendapatkan surat-surat dari ibu setiap bapak pulang. Isi surat kepada kami pun hampir semuanya sama
“le Joko sehat to nak? Piye sekolahe lancar to? Sinau sing tememen yo le? Adi-adine dirawat yo? Ojo lali ngibadahe, sholat lima wektu ojo nganti ditinggalke. Cedak mesjid wae kok yo? Dadi diusahakke sholat berjamaah terus nggih? Bapak ibune di dongakke yo le.. ben laris dagangnne…dst Le Fajar sehat to nak?...dst, le muhlis sehat to nak…. Yen dolan adine diajak, momong adine yo le…, ojo dolan adoh-adoh.. dst. Nduk Nur sehat nak? Ampun nakal nggih? Yen dolan karo mas-e ampun rewel nggih..dst”
(le Joko (kakak pertamaku), Sehat kan nak? Gimana sekolahnya? Lancar kan? Belajar yang sungguh-sungguh ya? Adik-adik dirawat ya? Jangan lupa ibadahnya, sholat lima waktu jangan sampai ditinggalkan. Rumah dekat masjid, jadi diusahakan selalu sholat berjamah ya? Bapak dan ibu didoakan ya.. supaya dagangannya laris ..dst. le Fajar (kakak keduaku), sehat kan nak?...dst, le Muhlis(nama panggilanku), sehat kan nak?... kalau bermain adiknya di ajak ya. Dijaga adikmu ya.., jangan main terlalu jauh… dst. Nduk Nur (adikku), sehat nak? Jangan nakal ya? Kalau ikut main sama mas jangan rewel ya?..dst”)
Kutipan surat di atas adalah contoh surat yang bertahun-tahun selalu kami terima. Meskipun kami tidak bersama orangtua kami, paling tidak surat-surat itulah yang menjadi penghibur bagi kami. Semangat bagi kami, yang meyakinkan kami bahwa orang tua kami sangat sayang kepada kami. Kami pun juga mengirimkan surat balik kepada mereka. Meskipun surat kami hanya pendek. Biasanya kakakku menuliskan perkembangan kami, di rumah maupun di sekolah. Bahkan saya masih ingat ketika saya belajar iqro’ naik tingkat dari jilid 1 ke jilid 2, itu pun kami aku tuliskan. Tapi, ketika saya kelas lima SD, ayahku berhenti bekerja sebagai penjual makanan dan membantu ibuku sebagai penjual sayur.
Jika aku tuliskan semua cerita hidupku pastinya akan memerlukan banyak halaman. Yang pasti, perjalanan hidupku telah membuat aku banyak belajar tentang makna bersyukur, tentang kerja keras, dan tentang kebesaran kuasa Allah. Singkat cerita, seiring bertambahnya usiaku, maka tangan Allah tak pernah berhenti menaungiku. Dialah Yang mampu merubah segalanya, bahkan merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Mungkin banyak orang yang tidak pernah menyangka bahwa semua mimpi-mimpi keluarga miskin seperti kami ini akan menjadi nyata. Tapi apa yang tidak mungkin bagi Allah? Semuanya mungkin saja. Perlahan tapi pasti, usaha keras orang tuaku pun berbuah manis. Usaha mereka perlahan-lahan maju. Orang tuaku yang sangat hebat, yang tidak pernah tidur di malam hari. Ya.. setiap jam 10 malam mereka harus belanja dagangan sampai jam 4 pagi. Setelah itu, mereka menata dagangan di pasar sampai jam 6 pagi. Lalu menjual sayur-mayur itu sampai jam 2 siang. Percaya atau tidak itulah yang meraka lakukan. Aku lebih dari percaya karena aku pernah menyaksikan kegiatan mereka tersebut sewaktu aku diajak ke Jakarta.
Tapi biarlah itu menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan, dan menjadi pelajaran bagi kami. Setelah aku kelas satu SMP, usaha orangtua kami semakin maju. Bahkan siapa sangka, kami bisa membuat rumah dengan dana yang aku tahu sebesar 80 juta. Uang sebanyak itu telah mengubah gubuk kecil bekas kandang sapi yang bertahun-tahun kami tempati itu menjadi rumah yang bagi kami sangat lebih dari cukup. Semakin beranjak dewasa, Alhamdulillah kehidupan kami pun semakin mapan. Ketika aku kelas 1 SMA, orangtuaku membeli rumah baru di Jakarta seharga 250 juta. Sebenarnya bukan nominal uang itu yang membuat aku terheran-heran. Di sini aku merasakan keagungan Allah yang tak dapat disangkal. Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Kaya, Maha Sempurna, telah menunjukan kebesarannya kepada kami. Hidup ku terasa sangat berharga karena didalamnya terkandung nilai-nilai yang diperjuangkan untuk membuat kami sekluarga tetap hidup. Sesudah kesulitan ada kemudahan. Keluarga yang awalnya miskin, yang penuh mimpi dan harapan, penuh cita-cita dan Alhamdulillah semua cita-cita itu terwujud. Kini kedua kakakku telah lulus menjadi sarjana. Kakak pertamaku langsung mendapat pekerjaan setelah satu bulan ia diwisuda. Sekarang ia bekerja di subuah perusahaan di Jakarta. Kakak keduaku mendapat pekerjaan setelah dua bulan diwisuda. Sekarang ia bekerja di sebuah perusahaan farmasi milik asing di Yogyakarta. Aku? Dengan bangga aku kini kuliah di fakultas Filsafat UGM. Kini aku hanya bisa berusaha keras dan kembali menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Berharap bahwa usahaku pun tidak sia-sia. Tapi satu yang aku yakini bahwa segala keputusan Allah tak ada yang sia-sia. Aku kini semakin yakin bahwa aku harus selalu mensyukuri takdir dari Allah, karena disetiap sudutnya tersimpan banyak kebaikan. Termasuk ketika aku ditakdirkan menjadi mahasiswa filsafat. Aku sadar memang tidak ada kepastian, banyak pertanyaan tentang hari depanku. Semua dalam proses pencarian. Meskipun banyak yang bersikap pesimis terhadap fakultas filsafat, tapi apapun nantinya, selama aku mengusahakan yang terbaik; aku yakin Allah selalu memberikan yang terbaik bagi umatnya. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah berharap, berusaha, berfikir positif, berdoa, dan berserah kepada Allah SWT
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)









0 comments:
Poskan Komentar