visit Semarang Indonesia


Semarang sebagai ibu kota provinsi Jawa Tengah memiliki banyak objek wisata yang sangat menarik. Objek-objek wisata tersebut tidak hanya sekedar bangunan tetapi juga  penuh makna dan nilai-nilai estetis maupun nilai-nilai moral yang melatarbelakangi didirikannya bangunan-bangunan tersebut. Makna kehadiran bangunan-bangunan tersebut bukan hanya pada keindahan dan kekhasan dari sisi tampilannya yang memang menjanjikan kemegahan, tetapi lebih dari itu adalah pada nilai-nilai estetis dan historis maupun moral yang visualisasinya nampak dalam simbol-simbol bangunan-bangunan tersebut. Bangunan-bangunan itu bukan hanya memiliki nilai estetika tinggi, tetapi juga merupakan aset kota yang sekaligus mempunyai nilai budaya dan ekonomi.

A.    Unsur-unsur Estetika Masjid Agung Semarang / Masjid Agung Jawa Tengah
Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang dibangun pada tahun 2001 sampai dengan 2006 ini berada di kawasan Semarang Timur, tepatnya berlokasi di Jalan Gajah Semarang. Masjid ini bias dikatakan sarat dengan unsure-unsur estetika karena memang magah dan spektakuler. Saya katakana demikian karena masjid ini berdiri di atas lahan 10 hektare dan memiliki fasilitas yang sangat lengkap, seperti convention hall (auditorium), souvenir shop, pujasera, gedung perkantoran, perpustakaan, dan menara pandang. Bila dikaji dengan norma umum keindahan seperti kekontrasan, balance, dan simetris agaknya masjid ini memang memenuhi norma-norma tersebut. Akan tetapi, norma-norma khusus keindahan yakni nilai-nilai yang ada pada masjid tersebut Nampak bersifat keduniawian ketimbang nilai-nilai yang bernuansa religi. Uraian-uraian di bawah ini bisa menjadi bukti atas pernyataan saya di atas.
Masjid  dibangun kurang lebih lima tahun masa pembangunan ini adalah berangkat dari idealisme dan cita-cita yang paling utama yaitu Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) mampu menjadi pengendali kehidupan sosial ekonomi yang cenderung mengedepankan keduniawian. Secara keseluruhan pembangunan Masjid ini menelan biaya sebesar 198.692.340.000 rupiah.
Masjid Agung diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 14 Nopember 2006 dengan menekan tombol sirine dan penandatanganan replika prasasti. Sedangkan prasati yang asli sudah dipasang secara permanen di halaman depan masuk Masjid setinggi 3,2 meterdengan berat 7,8 ton, adalah batu alam yang diambil dari lereng Gunung Merapi, Kabupaten Magelang, Jateng. Prasasti ini dipahat Nyoman M. Alim yang juga dipercaya membuat miniatur candi Borobudur yang ditempatkan di Minimundus Vienna Austria pada tahun 2001.
Masjid Agung Jawa Tengah dibangun di areal seluas kurang lebih 10 hektar, dengan luas bangunan induk seluas 7.669M2, dan mampu menampung 6000 jamaah.
Sedang pelatarannya seluas 7500 M2 dilengkapi 6 payung raksasa yangbisa membuka dan menutup secara otomatis seperti yang ada di Masjid Nabawi di kota Madinah, mampu untuk menampung 10 ribu jamaah.
Arsitektur masjid ini merupakan perpaduan antara arsitektur Jawa, Arab dan Yunani. Di bangunan sayap kanan terdapat Convention Hall atau auditorium yang mampu menampung 2000 jamaah, sedang disayap kiri dipersiapkan utnuk perpustakaan yang nantinya di desain menjadi perpustakaan modern (digital library); serta ruang perkantoran yang disewakan. Masjid Agung Jawa Tengah ini, selain disiapkan sebagai tempat ibadah, juga dipersiapkan sebagai objek wisata religius. Untuk menunjang tujuan tersebut, Masjid Agung ini dilengkapi dengan wisma penginapan dengan kapasitas 23 kamar berbagai kelas, sehingga para peziarah yang ingin bermalam bisa memanfaatkan fasilitas.
Daya tarik lain dari masjid ini adalah Menara Al Husna atau Al Husna Tower yang tingginya 99 Meter. Bagian dasar dari menara ini terdapat Studio Radio DaIs (Dakwah Islam). Sedangkan di lantai 2 dan lantai 3 digunakan sebagai Museum Kebudayaan Islam, dan di lantai 18 terdapat Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat. Di lantai 19 yaitu untukmenara pandang dilengkapi 5 teropong yang bisa melihat kota Semarang. Pada awal Ramadhan 1427 H lalu, teropong di masjid ini untuk pertama kalinya digunakan untuk melihat Rukyatul Hilal yang dilihat oleh Tim Rukyah Jawa Tengah dengan menggunakan teropong canggih dari Boscha. Bagi yang ingin berekreasi, MAJT juga menyediakan beberapa fasilitas hiburan, seperti arena bermain dan kereta kelinci yang akan membawa pengunjung mengitari kompleks masjid.










Unsur-unsur Estetika Kota Tua

Berdasarkan catatan sejarah, pada abad ke-18, Semarang memiliki suatu kawasan yang yang menjadi pusat perdagangan. Kawasan inilah yang kemudian dikenal sebagai kawasan kota tua atau dulunya disebut Oude staadt. Waktu itu jalur pengangkutan lewat air sangat penting. Hal itu dibuktikan dengan adanya sungai yang mengelilingi kawasan ini yang dapat dilayari dari laut sampai dengan daerah Sebandaran di kawasan Pecinan. Pemerintah Hindia Belanda dulunya membangun benteng di sekitar kota lama. Benteng ini dinamai Benteng Vijhoek. Bila dilihat dari kondisi geografi, kawasan yang luasnya sekitar 31 Ha. ini memang terpisah dari lingkungan sekitarnya. Wajar kalau kawasan ini mendapat julukan Little Netherland. Unsur-unsur estetika khusus tentunya dapat diketahui dari nilai-nilai sejarah dari bangunan-bangunan tua tersebut sebagai bukti perjuangan melawan penjajah. Di kawasan yang menjadi saksi bisu penjajahan Belanda di Indonesia ini masih tegak berdiri sekitar 80 bangunan kuno meski sebagian telah termakan usia.
Jika dilihat dari norma-norma umum estetika, Kota tua adalah salah satu sisi lain dari kota Semarang yang sangat menawan, kontras dan banyak gedung yang balance dan simetris. Apalagi bagi pengagum arsitektur-arsitektur tua peninggalan Belanda dahulu kala. Bangunan-bangunan kota tua telah berumur lebih dari satu abad, bahkan ada yang sudah mendekati dua setengah abad. Kota Tua yang memiliki sekitar 80 bangunan tua yang sebagian besar dibangun pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, terletak di wilayah bagian utara. Dari ketinggian bukit-bukit di bagian selatan, setiap orang bisa menikmati keindahan Kota Tua dengan latar belakang Pelabuhan Tanjung Mas dan Laut Jawa. Kerlap-kerlip lampu kota dan lampu pelabuhan kelihatan di malam hari.
Bagi wisatawan, terutama mereka yang berasal dari luar negeri, Kota Tua mempunyai daya pikat tersendiri. Mereka bisa berjalan menyusuri Jalan Letjen Suprapto yang membelah Kota Tua serta jalan-jalan yang lebih kecil di kiri kanannya seraya menikmati bangunan tua di kiri-kanannya. Bahkan bagi wisatawan dari Negeri Belanda, perjalanan mengelilingi Kota Tua merupakan catatan tersendiri yang merupakan nostalgia menyusuri “jalan kenangan”.
Untuk membedakan jalan di “Kota Tua” dengan jalan di sekitarnya, aspal jalan “Kota Tua” ditutup paving block. Selain mengesankan lebih artistik, tinggi badan jalan bisa lebih tinggi sehingga mengurangi kemungkinan ancaman banjir yang sudah menjadi bencana rutin kota Semarang.

Gereja Blenduk
Salah satu bangunan tua yang masih tegak dan tampak rapih adalah sebuah gereja Protestan yang lazim disebut Gereja Blenduk. Nama ini diberikan merunut pada bentuk kubahnya yang dalam bahasa Jawa disebut Blenduk (menggembung), sampai sekarang nama asli gereja ini tidak diketahui. Gereja Blenduk yang merupakan bangunan tertua di kawasan itu misalnya, dibangun pada tahun 1753 di zaman pendeta Johanennes Wihelmus Swemmelaar. Aslinya, gereja itu bernama Gereja Imanuel dibangun pada tahun 1750 dan menjadi gereja Protestan tertua di Indonesia. 
Menurut catatan, gereja ini dibangun pada abad ke-17 dan telah mengalami 3 kali renovasi, yaitu pada tahun 1753, 1894 dan terakhir tahun 2003. Setiap renovasi diabadikan lewat tulisan di atas batu marmer yang terpasang di bawah alter gereja. Renovasi-renovasi tersebut sama sekali tidak merubah ciri estetika khas bangunan yang mengadopsi gaya arsitektur Eropa klasik yang anggun dan aristokrat.
Jika dipandang dari unsur-unsur estetika umum (kontras, balance dan simetris), Gereja Blenduk memiliki denah octagonal atau segi delapan beraturan dengan ruang induk di tengah, tepat di bawah kubah. Di bagian atas gereja, tepatnya di balkon masih terlihat organ (orgel) peninggalan jaman Belanda yang sudah berusia ratusan tahun. Sayang orgel ini sudah tidak bisa difungsikan lagi sebagai pengiring saat jemaah gereja bernyanyi.


Unsur-unsur Estetika LawangSewu

A.    Asal Mula Berdirinya Lawang Sewu
Lawangsewu dibangun tahun 1908, yang dikerjakan oleh arsitek Belanda Profesor Klinkkaner dan Quendaag. Terletak di komplek tugumuda, dahulu merupakan gedung megah berbaya art deco. Menurut catatan sejarah, gedung ini dibangun tahun 1903, kemudian diresmikan pada tanggal 1 juli 1907. Tahun 1920, gedung ini mulai dipakai sebagai kantor pusat Nederlandsch Indische Spoor-weg Maatschapij (NIS), sebuah maskapai atau perusahaan kereta api pertama di Indonesia yang berdiri tahun 1864.
Saat meletus Pertempuran Lima Hari di Semarang, 14-18 Agustus 1945, Lawangsewu dan sekitarnya menjadi pusat pertempuran antara laskar Indonesia dan tentara Jepang. Korban pun berguguran. Untuk memeringati mereka, di sebelah kiri pintu masuk (gerbang) didirikan sebuah tugu peringatan bertuliskan nama para pejuang Indonesia yang gugur.
Masyarakat Semarang lebih mengenal gedung ini dengan sebutan Gedung LaswangSewu, mengingat gedung ini memiliki jumlah pintu dalam jumlah banyak, yang dalam arti kiasan banyak berarti jumlahnya seribu atau lebih, yang dalam bahasa jawa LawangSewu.Lawang berarti pintu dan Sewu berarti seribu.
Dalam perkembangannya setelah kemerdekaan digunakan sebagai kantor Djawatan Kereta Api Indonesia ( DKARI ) atau sekarang PT. Kereta Api Indonesia. Kemudian untuk kepentingan militer, yaitu sebagai kantor KODAM IV Diponegoro ( yang kini dipusatkan di Watu Gong ), dan terakhir digunakan sebagai Kantor Wilayah Departemen Perhubungan Jawa Tengah. Saat ini gedung yang masuk dalam 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang digunakan sebagai objek wisata dengan fasilitas berupa peninggalan sejarah arsitek bangunan kuno dan antik, ada ruang bawah tanah dan menara informasi, sering pula digunakan sebagai tempat pameran dalam event tertentu.



B. unsur unsur estetika Lawang Sewu
Bangunan monumental dan indah ini di desain mengikuti kaidah arsitektur morfologi bangunan sudut yaitu dengan menara kembar model gotik di sisi kanan dan kiri pintu gerbang utama ini dan bangunan gedung memanjang ke belakang yang mengesankan kokoh, besar dan indah. Gedung kuno ini menurut catatan sejarah dibangun pada tahun 1903, dan selesai atau diresmikan penggunaannya pada tanggal 1 Juli 1907.
Lawang Sewu adalah gedung megah bergaya art deco yang bercirikan ekslusif dan berkembang pada era 1850-1940 di benua Eropa. Lawang Sewu ini terdiri dari sebuah bangunan utama yang membentuk huruf U dengan taman terbuka di bagian dalam. Dari pintu utama kita langsung disambut sebuah tangga besar menuju lantai 2. Di bagian bordes tangga terpasang sebuah kaca grafir yang menutupi jendela dengan ukiran yang indah . Kuda-kuda yang didesain sangat rendah namun begitu kokoh, dengan kanan dan kirinya terdapat jendela, tempat pasukan asing dulu bertahan dan membalas serangan bangsa Indonesia. Salah satu pilar besinya yang rusak terkoyak terkena serangan menjadi saksi sejarah perjuangan Indonesia.
Gedung megah ini tak hanya menarik secara arsitektural. Memasuki gedung ini aroma mistis segera menyergap kita. Lorong-lorong gelap dan kusam tampak cukup menyeramkan. Banyak orang percaya kalau Lawang Sewu memang banyak dihuni oleh mahluk-mahluk halus dari berbagai jenis. Hal tersebut bisa dimaklumi, karena pada masa peperangan dulu, yang melibatkan Angkatan Muda Kereta Api (pemuda-pemuda Semarang) melawan bala tentara Kido Buati Jepang, gedung Lawang Sewu menjadi ajang penyiksaan dan pembantaian. Tidak jelas berapa nyawa telah melayang, tapi jumlahnya bisa dipastikan mencapai ribuan. Saking banyaknya korban yang dibantai pada waktu itu, Lawang Sewu kini juga mendapat julukan sebagai kawasan wisata horor. Menegangkan sekaligus mengasyikkan. Puluhan paranormal dari berbagai penjuru Tanah Air pun sempat menjadikan tempat ini sebagai ladang perburuan hantu.

Unsur-unsur Estetika Klenteng Sam Po Kong

A.    Asal Mula Klenteng Sam Po Kong
Klenteng Sam Po Kong yang terletak di kota Semarang, selain merupakan tempat sembahyang bagi sebagian orang, juga merupakan tempat wisata arsitektur yang menarik. Tempat ini dikenal juga dengan sebutan Gedung Batu. Ada yang mengatakan nama ini dipakai karena asal mula tempat ini adalah sebuah gua batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu. Tetapi Bondan Winarno di Kompas.com mengatakan bahwa sebenarnya asal kata yang benar adalah Kedung Batu, alias tumpukan batu-batu alam yang digunakan untuk membendung aliran sungai.
Kehadiran gua-gua disana entah berasal dari bukit batu yang dilubangi atau dari tumpukan batu alam yang disusun. Menurut buku Encyclopedia of World Architecture dari Henri Stierlin, antara tahun 350 sampai abad ke 7 di China, tepatnya di daerah Gun-huang, Yun-kang, dan Lun-meng, memang dibangun klenteng-klenteng di dalam gua. Klenteng tersebut di gali dari bukit batu mengikuti gaya arsitektur dari kuil di Ajanta, India.
Gedung Batu adalah tempat persinggahan pertama dari Laksmana Zheng He (Cheng Ho) atau dikenal juga sebagai Sam Po Tai Djien. Letaknya di Simongan, sebelah barat daya kota Semarang. Dulunya Simongan terletak dekat pantai yang bisa dijangkau memalui sungai, tapi akibat pendangkalan yang luar biasa, wilayah itu sekarang jadi jauh dari pantai. Inlah awal kelenteng Sam Poo Kong sekarang. 
Alkisah, Cheng Ho adalah laksmana dari negeri China yang sedang berlayar melewati Pulau Jawa ketika seorang awak kapalnya sakit. Maka ia membuang sauh dan menurunkan perahu menelusuri Sungai Kaligarang sampai ke desa Simongan. Di desa ini ia menemukan sebuah gua batu dan menjadikannya sebagai tempat bersemedi dan bersembahyang. Pada awalnya hanya altar Cheng Ho di dalam Goa yang menjadi Persembahyangan utama. Altar ini juga digunakan sebagai tempat ibadah bersama antara cheng Ho yang beragama Islam dengan pasukannya yang mayoritas Tionghoa. Tempat tersebut diyakini sebagai tempat Cheng Ho sering melaksanakan sholat. Sementara awak kapalnya dirawat, mereka seringkali melewatkan waktu malam berkumpul di gua mendengarkan kata-kata bijak dari Cheng Ho.
Menurut Ir. Setiawan dalam bukunya 'Mengenal Kelenteng Sam Po Kong Gedung Batu Semarang', dikatakan bahwa Kelenteng Sam Po Kong dulunya merupakan sebuah Masjid. Meskipun disebutkan bahwa petilasan itu dulunya merupakan sebuah Masjid akan tetapi sekarang di dalam gua diletakan sebuah altar besar, untuk keperluan sembahyang dan pemujaan. Mereka memuja Sam Po Kong sebagai orang yang patut dihormati dan dijunjung tinggi serta dimohon berkahnya.
Konon, setelah Zheng ho meninggalkan tempat tersebut karena ia harus melanjutkan pelayarannya, banyak awak kapalnya yang tinggal di desa Simongan dan kawin dengan penduduk setempat. Mereka bersawah dan berladang ditempat itu. Zheng Ho memberikan pelajaran bercocok-tanam dan dimalam hari mereka berkumpul didalam gua batu dan Zheng Ho memberikan pelajaran serta ajaran-ajaran tata cara pergaulan hidup di dunia. Cara bersyukur kepada Sang Pencipta serta menghormati para leluhur - nenek moyang.
Sehingga setelah Zheng Ho meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan pelayarannya, mereka yang tinggal di Simongan, secara teratur melakukan pemujaan dan penghormatan kepada Zheng Ho guna menghormati jasa-jasanya. Sekarang peringatan atau sembahyang dilakukan pada setiap tanggal satu dan lima belas.

B.     Sekilas tentang Laksamana Cheng Ho
Amen Budiman dalam bukunya “Semarang Riwayatmu dulu I” menuliskan bahwa Cheng Ho adalah seorang China Muslim dari K’un Yang, Yunnan Tengah. Dalam bukunya itu dituliskan bahwa salah satu makam disana adalah makam ayah Cheng Ho yang bergelar “Ha-tche” kata lain dari “Haji”. Kakek dan ayah Cheng Ho sama-sama bergelar “Ha-tche”. Karena itu tidak heran kalau ada yang berpandangan bahwa kelenteng Sam Po Kong dahulu sebenarnya adalah sebuah masjid.
Cheng Ho lahir pada tahun 1371 dengan nama Ma Sanbao, dari suku Hui yang memang beragama Islam. Asal kata Ma berasal dari nama keluarga Mansour, nenek moyang Cheng Ho yang berasal dari daerah yang sekarang dikenal sebagai Uzbekistan. Pada sekitar tahun 1410 rupanya Zheng Ho pernah mampir juga di sebuah klenteng Budha di pegunungan di Srilanka. Ia berderma bukan hanya pada komunitas Islam, melainkan juga pada komunitas agama lainnya. Dalam Wikipedia, perjalanan pertamanya ke Jawa tercatat sekitar tahun 1405-1407, dan setelah itu secara teratur ia selalu mengunjungi Jawa. Perjalanan laut armada Cheng Ho biasanya merupakan konvoi dari 300 kapal dengan awak kapal sebanyak kurang lebih 28.000 orang. Ia selalu memperhatikan persembahan dan doa bagi keselamatan perjalanan laut yang harus ditempuhnya bersama awak kapalnya. Masih menurut Wikipedia, dalam dunia modern Zheng He (Cheng Ho) dikenal sebagai simbol dari toleransi beragama.
Zheng He mendapat penghargaan dengan diangkat menjadi Thai Kam dengan gelar San Po atau Sam Po. Seorang Thai Kam adalah seorang pejabat yang dekat dengan keluarga Kaisar. Dan sejak itu Zheng He lebih dikenal dengan sebutan Sam Po Thai kam. Karenanya Zheng He sering juga di sebut Sam Po Tay Djien atau Sam Po Toa Lang. Tay Djien dan Toa Lang artinya orang besar.

C.  Unsur Estetika dan makna Klenteng Sam Po Kong
Mengunjungi klenteng Sam Po Kong merupakan sebuah wisata arsitektur bagi saya. Berbagai bentuk arsitektural secara ekletik muncul di dalam kawasan klenteng. Dari bentuk atap limasan yang khas Jawa, arsitektur atap China dan interiornya, serta beberapa hiasan batu yang mengingatkan pada pahatan candi di Jawa.
Ada banyak hal menarik yang saya temui disana. Sebuah perahu dengan sebuah pohon yang diyakini penduduk setempat sebagai pohon yang tumbuh dari jangkar yang dilemparkan oleh Cheng Ho, menarik perhatian dengan bentuk akar gantung yang memang mirip dengan rantai jangkar.
Dua ekor naga, yang memang khas China sebenarnya, juga mengingatkan saya pada dua ekor naga yang biasa menyongsong di sisi kiri dan kanan arsitektur candi ataupun rumah Jawa. Sebuah gambar mural di dinding juga menggambarkan dua ekor naga keluar dari balik gelagak ombak di lautan mencoba menelan sebuah bentuk bulat yang mungkin melambangkan matahari. “Matahari” ini terletak tepat di atas pintu masuk ke sebuah gua utama.
Dunia desain memang senantiasa meminjam dari berbagai belahan bumi. Gambar “parang rusak” pada batik sangat mirip pada hiasan dari kelompok benda yang seasal dengan Dongson Drum, atau dikenal juga sebagai Moko Drum, gendang yang dikenal untuk meminta hujan. Begitu pula di dalam area klenteng ini kita bisa menemukan unsur-unsur desain yang bercampur antara yang datang dari luar dengan budaya lokal.
Meja altar yang ada pada bagian kakinya menggunakan kayu berukiran khas Jawa (model Jepara) dengan sulur pepohonan dan bunga yang menghiasi. Hiasan pada beberapa patung yang saat itu tidak sempat saya cermati, juga berhiaskan ukiran khas Jawa yang sepertinya berasal dari desain yang bermaknakan “mega” atau awan. Klenteng ini juga berhiaskan perjalanan detail Cheng Ho mengunjungi pulau Jawa, dan entah masih berapa banyak lagi tambahan menarik yang bisa digali dari tempat ini.
Walaupun bagi warga keturunan China di Semarang klenteng Gedong Batu ini menjadi tempat sembahyang, pemujaan, maupun mencari chiam sie (ramalan), sesuai data yang saya dapatkan rupanya wisatawan internasional dari China lebih dominan adalah turis yang beragama Islam. Tampaknya berabad-abad setelah Cheng Ho berpulang, ia tetap saja mengajak rombongan mengunjungi pulau Jawa seperti yang dulu rutin dilakukannya.
Disebelah kiri gua batu itu terdapat sebuah batu piagam, batu berukir tersebut diukir dalam tiga bahasa: China, Indonesia dan Inggris. Baru berukir tersebut dibuat khusus untuk memperingati kedatangan Zheng He di Kota Semarang, dan merupakan sumbangan dari keluarga Liem Djing Tjie pada tahun 1960. Saat ini selain berfungsi sebagai tempat ibadah, kawasan Sam Po Kong juga menjadi salah satu tujuan wisata di semarang yang menarik. Pengunjung juga dapat berfoto dengan pakaian ala prajurit Cina di tempat tersebut.
DAFTAR PUSTAKA


-          http://daenggassing.com/?p=61

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments: