Rabu, 08 April 2015

Beberapa Metafisika Budaya Indonesia

Mangokkal Holi
Mangokkal Holi berarti menggali kembali dan memindahkan tulang belulang leluhur ke suatu tempat yang telah ditentukan oleh pihak keluarga, biasanya dipindahkan ke sebuah tugu. Mangokkal Holi mengandung arti yang sangat penting bagi masyarakat Batak, karena tujuan utama dari Mangokkal Holi adalah untuk menghormati orang tua atau leluhur yang sudah meninggal. Hal ini merupakan bukti seberapa besar bakti kita terhadap orang tua yang telah membesarkan kita dan medidik kita agar menjadi orang yang berhasil.
Orang tua menunjukkan aspirasi yang tinggi terhadap pendidikan anak, dan anak pun menunjukkan kebutuhan berprestasi yang sangat besar. Pedoman hidup orang Batak Toba adalah hagabeon-anak, hamoraon-kekayaan dan hasangapon-kehormatan. Nilai-nilai ini pada hakekatnya mengandung prinsip menguasai, menjadi sumber tumbuhnya power motive, karena hanya dengan menunjukkan prestasi, orang akan memiliki pengaruh.

Kalender Jawa
Dalam menjalankan aktivitas hidupnya orang Jawa berusaha agar perbuatannya tidak melanggar pantangan dan senantiasa sesuai dengan nilai-nilai kebaikan. Nilai-nilai kebaikan disini didasari dan dilatarbelakangi oleh Kosmologi (pandangan dunia) Jawa. Salah satu pilar pemkiran filosofis Jawa ialah mengenai pentingnya memiliki sikap batin. Sikap batin ini bertujuan agar manusia tidak terikat pada dunia karena dunia ini fana dan sementara. Dunia adalah tempat untuk bekerja keras dan bersikap tanpa pamrih.
Orang Jawa membagi alam ini menjadi empat lingkaran bermakna yang disetiap lingkarannya mempunyai aturan-aturanya sendiri. Lingkaran pertama pandangan sikap kesatuan numinus antara manusia, alam dan masyarakat adikodrati yang terwujud dalam ritus. Kedua memuat penghayatan kekuasaan politik sebagai ungkapan alam numinus. Ketiga merupakan berpusat pada pengalaman tentang keakuan sebagai jalan kepersatuan dengan yang numinus. Keempat  adalah penentuan semua lingkaran pengalaman oleh Yang Ilahi.
Kalender Jawa menunjukkan perputaran hidup antara manusia dimana hidup itu diciptakan oleh Tuhan. Kedelapan tahun membentuk kalimat ”ada-ada tumandang gawe lelakon urip bola-bali marang suwung” (mulai melaksanakan aktifitas untuk proses kehidupan dan selalu kembali kepada kosong). Tahun dalam bahasa Jawa itu wiji (benih), kedelapan tahun itu menerangkan proses dari perkembangan wiji (benih) yang selalu kembali kepada kosong yaitu lahir-mati, lahir-mati yang selalu berputar. 12 bulan menunjukkan sangkan paraning dumadi (asalnya dari mana dan akan pergi kemana). Setiap eksistensi dari hidup manusia baru dimualai dengan Rijal (sinar hidup yang diciptakan oleh kekuatan gaib dari Gusti Tuhan). Perputaran hidup manusia adalah dari rijal kembali ke rijal melalui suwung (kosong). Dari bulan pertama sampai dengan bulan ke sembilan manusia baru tersebut berada di kandungan ibu dalam proses untuk mengambil bayi hidup yang sempurna, siap untuk lahir; dari bulan kesepuluh dia menjadi seorang manusia yang hidup didunia ini. Bulan kesebelas melambungkan akhir dari pada eksistensinya didunia ini yaitu, wusana artinya sesudahnya. Yang terakhir adalah suwung artinya kosong, hidup pergi kembali dari mana hidup itu datang. Dengan kehendak Gusti hidup itu kembali lagi menjadi rijal, inilah perputaran hidup karena hidup itu abadi.

Keraton Yogyakarta
Paham mistik jawa berpokok pada ajaran “manunggaling kawula gusti” (menyatunya manusia dengan tuhan) dan “sangkan-para-ning dumadi” (asal dan tujuan ciptaan). Dengan prinsip pertama urip mung mampir ngombe (hidup hanya sementara seperti minum sebagai bekal perjalanan).
Simbolisme kraton mencakup dua dimensi, dimensi bentuk dan dimensi sikap hidup. Dari dimensi bentuk secara kosmologis, kraton dibangun sebagai simbol dan menurut bentuk mandala (kosmos) yang berfungsi sebagai pusat orientasi (kiblat) bagi manusia dan rakyatnya. Kraton menjadi simbol pusat dunia (pusering jagad), pusat kosmos, sedang raja adalah personifikasi Tuhan. Dimensi sikap hidup dicerminkan dalam rangkaian struktur dari tiap-tiap bagian bangunan kraton lebih. Tiap-tiap bentuk bangunan kraton seperti regol, bangsal, ataupun gedhong diberikan nama-nama yang mengungkapkan simbol-simbol sesuai fungsi, harapan, dan bentuknya.
Tatanan ruang Kraton mirip dengan konstelasi gunung dan dataran Jambu Dwipa, yang dipandang sebagai benua pusatnya jagad raya. Rangkaian bangunan Kraton yang mengikuti poros Utara-Selatan yang berpadanan dua-dua dengan Kraton Hageng sebagai pusatnya merupakan simbolisasi dan visualisasi perjalanan hidup manusia di dunia dan akhirat untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan dengan mengabdikan dirinya (kawula) sesuai dengan martabat ke-kesatria-annya kepada raja (Gusti). Poros dari Selatan ke Utara, ialah dari Sitinggil Kidul sampai ke Pelataran Kraton Hageng adalah sebagai simbol perjalanan hidup manusia di dunia. Poros dari Utara ke Selatan, yakni dari Sitinggil Lor menuju Pelataran Kraton Hageng menjadi simbol perjalanan pulang ke Rahmatullah. Kraton Hageng menjadi simbol keduanya, Kraton duniawi dan Kraton surgawi.
Kraton sebagai Mandala berpedoman pada keempat arah mata angin dan ditata menurut dua poros besar yang saling berpotongan di tengah-tengah sesuai dengan pola mancapat (kiblat papat lima pancer). Kraton dalam pikiran masyarakat Jawa, diartikan sebagai pusat dunia yang digambarkan sebagai pusat jagad. Homologi tata letak Kraton sebagai mandala juga menempatkan kedudukan raja sebagai pusat kosmos (the hub of universe).
Makna bangunan kraton Yogyakarta pada masa lalu terletak pada nilai-nilai yang tersimpan dalam simbol-simbol bangunan kraton yang menyebabkan ratu (raja) dan kawula (rakyat) Yogyakarta dahulu mampu membangun kejayaan dan keagungan. sekarang diharapkan orang dapat memperoleh kembali makna-makna hidup manusiawinya baik secara eksistensial maupun secara transidental.


Serat Chentini
Serat Centhini merupakan ensiklopedi kebudayaan Jawa yang memiliki kedalaman makna. Serat ini mempunyai nama asli Suluk Tambangraras. Centhini merupakan abdi dari Tambangraras. Memang suatu hal yang agak aneh ketika sebuah mahakarya disebut dengan nama seorang pembantu. Namun justru itulah yang menjadi kelebihannya, serat centhini dipandang sebagai suatu keakraban, kedekatan menyentuh antara masyarakat yang membacanya serta sebagai suatu upaya teraling dan makar yang dengan sengaja mengangkat kehidupan orang kecil menjadi tokoh tersohor. Terutama membicarakan tentang perkawinan, terkandung nilai-nilai etika berupa norma-norma moral yang mengajarkan bagimana senyatanya perilaku atau tindakan manusia dalam hubungannya dengan perkawinan, sehingga dapat membuahkan apa yang dicita-citakan. Masalah seksual menjadi tema sentral yang diungkap secara verbal dan terbuka. Masyarakat Jawa tidak mengenal masalah seksual sebagai wahana pelampiasan nafsu hedonistik, penikmatan terhadap hidup. Hubungan seksual tidak hanya sekadar pemuasan nafsu lelaki maupun perempuan, tetapi juga sebagai bentuk ungkapan perasaan cinta kasih, proses prokreasi, dan seks sekaligus sebagai wahana ibadah. Serat centhini terutama yang membicarakan tentang perkawinan.


Tari Sanghyang

Bali menjunjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi mengenai hubungan masyarakat yaitu: manusia dengan Tuhan (parahyangan), hubungan manusia dengan sesama manusia (pawongan), dan hubungan manusia dengan alam (palemahan), yang tercermin dalam ajaran Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan). Dimensi vertikal, tarian merupakan media yang sangat penting dalam ritus keagamaan. Dimensi horizontal, tarian ini mempunyai fungsi komunal dalam kehidupan masyarakat. Artinya, tarian itu menjadi media bagi jalinan kehidupan komunitas untuk bersama-sama menjalankan upacara keagamaan. Tari sanghyang adalah suatu tarian sakral yang berfungsi sebagai pelengkap upacara untuk mengusir wabah penyakit yang sedang melanda suatu desa atau daerah juga sebagai sarana pelindung terhadap ancaman dari kekuatan magis hitam. Mengandung nilai ketakwaan (transcendental) kepada Sang Pencipta (Sanghyang Widhi).
GOOGLE search
Custom Search

Google search

Custom Search