Sabtu, 16 Oktober 2010

Pengantar: Ekonom dari Shantiniketan, oleh M. Dawam Rahardjo

Amartya Sen adalah seorang ekonom tulen dan filosof sosial, filosof etika. Pada buku choice of tehniques ia membahas soal teknologi tepat guna.
Sen mengkaji berbagai pendekatan guna mengukur kepincangan dan merumuskan sebab dan akibat disparitas ekonomi. Perhatian Sen dalam ekonomi adalah kemanusiaan karena praktik-praktik pembangunan ternyata telah merampas hak-hak asasi manusia. Pembangunan dapat dilihat sebagai proses perluasan kebebasan yang nyata yang dinikmati oleh rakyat. Pusat perhatian pembangunan adalah perluasan kebebasan subtantif. Pembangunan juga menghendaki pemberantasan sumber-sumber utama ketidakbebasan.
Sen melihat ekonomi berasal dari dua sumber yaitu etika dan ekonomi yang berbasis pada logistik. Dalam karya Hurgen and public action, dia membedakan dua gejala, yaitu (1) kelaparan (famine) dan (2) perampokan hak terus menerus (endemic deprivation)
Negara mempunyai peranan yang besar dalam menciptakan kesejahteraan dan kebebasan. Oleh karena itu, peranan negara tidak bisa dihapus. Sen mengemukakan teori mengenai pilihan bersama (collective action) dan gagasannya mengenai public action dalam pemberantasan kemiskinan, penanggulangan kelaparan dan perluasan pendidikan.
Pendahuluan
Profesor Amartya Sen menunjukan kontribusi yang dapat diberikan ekonomi keseimbangan umun (general equilibrium economics) bagi filsafat moral; dan kontribusi yang dapat dilakukan filsafat moraldan ekonomi kesejahteraan (welfare economics) bagi ekonomi arus utama tersebut; serta akibat buruk penyalahgunaan asumsi perilaku mementingkan diri sendiri (self-interested) terhadap kualitas analisis ekonomi.
Sen menunjukan terjadinya penciptaan jarak yang serius antara ekonomi dan etika yang menjadi salah satu kelemahan utama teori ekonomi masa kini.
Perkembangan “teori keseimbangan umum” formal adalah bahasan utamanya, dan Sen menggambarkan penerapannya pada masalah-masalah kritis menyangkut kelaparan dan paceklik.
Namun, landasan argumen-argumen Sen terletak pada pendapat bahwa ekonomi dapat dibuat lebih produktif dengan memb erikan perhatian lebih besar dan eksplisit pada pertimbangan-pertimbangan etika yang membentuk perilaku dan penilaian manusia. Sen mengarahkan perhatian pada berbagai penyebab yang bisa timbul, penyebab-penyebab yang memberikan kepercayaan pada peranan instrumental dari perilaku sosial masa kini. Sen membahas cara-cara memperkaya ekonomi kesejahteraan dengan lebih banyak memperhatikan etika ; bagaimana ekonomi deskriptif , ramalan, dan kebijakan dapat ditingkatkan dengan memberikan ruang lebih luas bagi ekonomi kesejahteraan dalam penentuan perilaku individu dan kelompok; dan bagaimana telaah etika dapat , pada gilirannya, memperoleh manfaat dari kontak yang lebih dekat dengan ekonomi.
Dia menyarankan bahwa sebagian dari pertimbangan –pertimbangan etika dapat membantu analisa lebih jauh dengan menggunakan berbagai pendekatan dan prosedur yang kini digunakan dalam bidang ekonomi. Dia mengemukakan saran-saran sistematis tentang bagaimana suatu perumusan yang memadai tentang hak-hak dan kebebasan dapat memanfaatkan penalaran konsekuensial yang baku digunakan dalam ekonomi kesalingtergantungan umum.
Asumsi yang sangat sempit mengenai perilaku mementingkan dirisendiri dalam ekonomi telah menghalangi analisis hubungan ekonomi dan etika yang sangat penting. Suatu tafsir yang sangat tepat terhadap adam smith dikemukakannya. Secara teknis, ekonomi kesejahteraan menemukan satu situasi, di mana bertindak sepenuhnya menuruti kepentingan diri memang dapat dibenarkan secara etis. Akan tetapi, makna praktis dari perumusan teori ini sangat dipertanyakan.
Sen membedakan antara unsur-unsur keadilan distributif dan penilaian-penilain yang lebih ekstensif atas individu maupun kelompok. Dengan menekankan bahwa norma dan perilaku harus lebih erat menyatu dalam teori ekonomi, dan untuk memberikan sarana sistematis untuk tujuan itu, Sen mengemukakan cara untuk menganalisis lebih jauh kriteria alternatif kesejahteraan yang lebih spesifik.

BAB I: PERILAKU EKONOMI DAN SENTIMEN-SENTIMEN MORAL
Arah perkembangan ekonomi modern kini secara luas menggunakanpendapat tentang ilmu ekonomi yang mengedepankan model-model ekonomi dimana seseorang mempertahankan motivasi manusia agar tetap murni , sederhana dan teguh, dan tidak mengacaukannya dengan hal-hal lain seperti niat baik atau sentimen-sentimen moral. Hal tersebut mencirikan motivasi manusia ke dalam cakupan yang amat sangat sempit. Padahal semestinya ilmu ekonomi mengurusi masyarakat.
Ciri lain yang mengejutkan adalah kontrasnya karakter “non-etis” yang secara sadar dimiliki oleh ilmu ekonomi modern dengan evolusi historis ilmu ekonomi modern itu, terutama, sebagai suatu bagian dari etika.
Dua Asal Usul Ilmu Ekonomi
1. Asal-usul yang berkaitan dengan “etika “, dimulai setidak-tidaknya pada masa aristoteles yang mengaitkan subyek ilmu ekonomi dengan tujuan-tujuan manusia, merujuk pada perhatiaannya pada kekayaan dan berhubungan dengan telaah-telaah lain. Pada akhirnya, ilmu ekonomi berkaitan dengan telaah etika dan telaah ilmu politik. Dalam pendekatan ini ada dua isu pokok yang sangat mendasar bagi ilmu ekonomi:
a. Masalah motivasi manusia yang dikaitkan dengan pertanyaan etis secara luas “bagaimana seharusnya seseorang itu hidup?” yang menekankan bahwa pertimbangan etika tidak mungkin tidak bertautan sama sekali dengan perilaku aktual manusia.
b. Menyangkut penilaian tentang pencapaian sosial. Aristoteles menghubungkan ini dengan tujuan untuk mencapai “kebaikan manusia” (secara kolektif tentang pencapaian sosial). Penilaian harus sepenuhnya etis, dan mengambil pandangan yang lebih luas mengenai “kebaikan”.
2. Pendekatan “rekayasa”. Pendekatan ini ditandai dengan perhatiannya terutama pada isu-isu logistik dan bukan pada tujuan-tujuan akhir dan pertanyaan-pertanyaan seperti yang dapat membantu “orang yang baik” atau “bagaimana seharusnya seseorang hidup”. Tujuan- tujuan akhir dianggap sebagai sesuatu yang sudah seharusnya, dan titik perhatiannya adalah menemukan sarana-sarana yang tepat untuk mencapainya. Perilaku manusia dipandang semata-mata hanya didasarkan pada motif-motif sederhana dan yang dapat dengan mudah digolong-golongkan. Pendekatan ini juga berkaitan dengan telaah-telaah ilmu ekonomi yag dikembangkan dari analisis-analisis kenegaraan yang berorientasi-teknik.
Pentingnya pendekatan etika secara substansial telah melemah dengan berkembangnya ilmu ekonomi modern. Metodologi “ilmu ekonomi positif” bukan hanya menjauhkan analisa normatif dalam ilmu ekonomi, tapi juga mengabaikan berbagai pertimbangan etika yang kompleks yang mempengaruhi perilaku aktual manusia. Dengan demikian,Sifat ilmu ekonomi modern secara substansial telah dimiskinkan oleh jarak yang melebar antara ilmu ekonomi dan etika.
Kelebihan dan Kelemahan pendekatan “Etika” dan “Rekayasa”
Hasil dari pendekatan rekayasa adalah bahwa ada banyak isu yang dapat dipahami dengan lebih baik dan tercerahkan oleh ilmu ekonomi justru karena banyak digunakan pendekatan ini. Kontribusi-kontribusi itu terberikan meskipun pendekatan etika terabaikan, sebab ada isu-isu logistik ekonomi yang penting dan benar-benar menuntut perhatian, dan dapat ditangani dengan efisien, sampai pada suatu titik, bahkan dalam format terbatas pandangan sempit non-etika mengenai motivasi dan perilaku manusia.
Penggolong motivasi manusia yang terlalu sempit, dengan pengabaian pertimbangan-pertimbangan etika, tetap dapat memenuhi tujuan yang bermanfaat untuk memahami hakikat dari banyak hubungan sosial yang penting dalam ilmu ekonomi. Akan tetapi, ilmu ekonomi dapat dibuat lebih produktif dengan memberikan perhatian yang lebih besar dan jelas pada pertimbangan-pertimbangan etika yang membentuk perilaku dan penilaian manusia.
Kerugian ganda akibat jarak yang terbentang antara ilmu ekonomi dan etika:
1. Ada sesuatu yang semestinya juga dapat bermanfaat bagi etika modern dalam metode-metode yang secara baku digunakan dalam ilmu ekonomi, yang antara lain berkaitan dengan aspek-aspek rekayasanya. “isu-isu ekonomi dapat menjadi sangat penting untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan etika”
2. Peran ilmu ekonomi dalam Kegunaan metodologis bagi etika. Wawasan yang digunakan dalam ilmu ekonomi untuk mengatasi masalah-masalah saling ketergantungan dapat sangat berarti bagi penanganan masalah-masalah etika yang kompleks bahkan ketika variable-variabel ekonomi tidak disertakan. Ada sesuatu yang bisa diperoleh etika dari penalaran-penalaran yang banyak digunakan dalam ilmu ekonomi.

Perilaku ekonomi dan sikap rasional
Asumsi dari “perilaku rasional” memainkan peran utama dalam ilmu ekonomi modern. Manusia dianggap dapat berperilaku secara rasional, dan dengan asumsi istimewa ini, penggolongan perilaku rasional, dalam pendekatan ini, pada akhirnya tidak berbeda dari penggambaran tentang perilaku aktual.
Ada dua hal pokok yang harus dikemukaan
1. Adalah mungkin suatu pandangan menyangkut rasionalitas mengakui pola-pola perilaku alternatif, dan jika demikian, asumsi mengenai perilaku rasional saja tidak akan memadai untuk menuntut beberapa perilaku aktual yang dibutuhkan, bahkan dengan tujuan-tujuan akhir dan kendala-kendala yang dikemukakan secara khusus
2. Isu mengidentifikasi perilaku aktual dengan perilaku rasional harus dibedakan dari isu mengenai perilaku rasional sebagaimana adanya.
Keduanya secara bersama-sama digunakan untuk menggolongkan sifat dari perilaku aktual melalui proses kembar: mengidentifikasikan perilaku aktualdengan perilaku rasional, dan menetapkan sifat dari perilaku rasional dalam pengertian yang agak sempit.
Rasionalitas sebagai Konsistensi
Ada dua metode yang menonjol untuk mendefinisikan rasionalitas perilaku dalam teori ekonomi utama
1. Memandang rasionalitas sebagai konsistensi internal terhadap pilihan
Konsistensi internal pilihan dapat dengan sendirinya menjadi suatu persyaratan rasionalitas yang memadai.
Sen mengajukan argumen disisi lain bahwa bahkan gagasan mengenai konsistensi internal murni itu sendiri tidak meyakinkan, sebab apa yang kita anggap konsistensi dalam serangkaian pilihan yang diamati pasti tergantung pada penafsiran dari pilihan-pilihan tersebut dan pada beberapa segi di luar pilihan sebagaimana adanya.
2. Mengidentifikasikan rasionalitas dengan maksimalisasi kepentingan diri
Hal ini didasarkan pada tuntutan akan hubungan eksternal antara pilihan-pilihan yang diambil seseorang dan kepentingan pribadi dari orang tersebut.
Pandangan mengenai rasionalitas kepentingan pribadi melibatkan, antara lain, suatu penolakan keras dari pandangan mengenai motivasi yang “berkaitan dengan etika”. Berusaha sebaik-baiknya untuk mencapai apa yang ingin dicapai seseorag bisa menjadi bagian dari rasionalitas, dan ini dapat mencakup kemajuan dari tujuan-tujuan non kepentingan diri yang mungkin kita hargai dan ingin kita capai. Menganggap setiap pelepasan dari maksimalisasi kepentingan pribadi sebagai bukti irasionalitas pasti menyiratkan penolakan terhadap peranan etika dalam praktik pengambilan keputusan (di luar dari beberapa variasi atau pandangan moral eksotik yang dikenal sebagai “egoisme etis”)
Menyangkal bahwa masyarakat selalu bertindak dengan cara yang benar-benar mendahulukan kepentingan diri sendiri tidak sama dengan menyatakan bahwa mereka selalu berbuat egois. Akan merupakan hal yang luar biasa jika kepentingan diri tidak memainkan peranan yang cukup besar dalam banyak keputusan, dan bahkan transaksi-transaksi ekonomi normal akan hancur jika kepentingan diri tidak memainkan peranan sama sekali dalam pilihan kita. Masalah yang sesungguhnya adalah apakah ada banyak motivasi, atau apakah kepentingan diri saja yang mendorong manusia berbuat sesuatu.

Google search

Custom Search