Senin, 04 Mei 2015

Kelebihan dan kelemahan Teori Plato tentang Negara

Kelebihan Teori Plato
               Kelebihan teori plato mengenai negara dalam kaitanya dengan realitas sosial adalah Plato merancang negara dimana kepentingan umum diutamakan. Ia merancang negara dimana keadilan (sesuai dengan Politeia) akan tercapai secara sempurna. Hal tersebut tentunya adalah sesuatu yang sangat diidam-idamkan oleh semua warga negara. Karyanya,The Republic merupakan bukti upaya kerasnya untuk mendefinisikan keadilan, dengan membayangkan kemungkinan adanya negara terbaik yang harus direalisasikan untuk mewujudkan nilai keadilan dan kemanusiaan.  Menurut kami, Kelebihan lainnya adalah adanya syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh seorang calon pemimpin dimana syarat-syarat itu kembali pada kualitas manusia yang disandarkan kepada jiwa atau akal manusia yang nantinya menuntun pemimpin dalam empat kebajikan pokok yang sepanjang masa terus dibutuhkan oleh rakyat, yakni memiliki pengendalian diri, keberanian, kearifan dan keadilan. Poin-poin yang menjadi prasarat tersebut tentunya sangat bermanfaat bagi kita dalam memilih seorang pemimpin yang baik. Kriteria pemimpin yang diajukan plato ini sangat tepat.
               Selain itu menurut kami, spesialisasi bidang pekerjaan yang ditawarkan dalam teori Plato bisa menjadi nilai lebih dengan pertimbangan bahwa manusia mempunyai keterbatasan waktu dan daya kekuatan serta memiliki kemampuan masing-masing. Sehingga dengan adanya spesialisasi pekerjaan ini kami rasa manusia akan benar-benar mampu melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya sesuai kemampuan yang dimilkinya.


E. Kelemahan Teori Plato
               Dari semua kelebihan-kelebihn teori Plato yang mungkin sangat diharapkan oleh seluruh warga negara dipenjuru dunia terwujud di dalam realitas sosial di era modern ini, terbesit beberapa pertanyaan yang muncul yaitu apakah idea hanya menjadi sebatas idea belaka? Menurut saya, sia-sia saja membicarakan mengenai idea yang mulia tapi tidak menjadi nyata dalam realitas sosial ini. Dalam hal ini adalah mengenai pemikiran negara ideal Plato yang menggunakan ciri komunis ekstrem (milik pribadi dan keluarga). Memang hal itu sulit untuk diungkapkan dalam hal yang nyata. Idea Plato dalam hal ini adalah negara ideal ini terbatinkan dalam diri orang lain sehingga negara ideal itu terwujud sedikit-sedikit. Tapi kenyataannya sampai sekarang, berarti sudah 20 abad ini, proses pembatinan idea ini tidak berjalan secara semestinya. Apakah ada negara-negara di dunia ini yang MENJADI-kan ADA-nya negara ideal Plato ini? Barangkali mereka tahu dan mengerti namun tidak berbuat. Untuk apa berbuat? Bukankah lebih baik tidak berbuat dan mendapatkan keuntungan? Kesadaran individual sangat kurang yaitu manusia mempunyai akal yang dengannya ia dapat berusaha memilih dan menentukan hidup dan kehidupannya.. Dalam keadaan ini teori plato tidak dapat berlaku pada setiap realitas konkrit di masing-masing kelompok sosial dan sebatas menjadi teori yang terbentuk lantaran realitas kehidupan yang ia alami saja dan sulit untuk diterapkan secara umum.
               Kelemahan lainya menurut kami adalah pendapatnya tentang Undang-undang yang dibuat sejauh dirasakan perlu menurut keadaan konkret. UU secara umum harus dianggap sebagai The second best. Karena alasan praktis undang-undang harus dipandang sebagai instansi tertinggi dalam negara dan negarawan yang menyimpang dari undang-undang harus dihukum mati. Hal ini kami rasa bukan solusi tepat dimana peraturan ini semestinya dibuat jangan hanya ketika diperlukan saja tetapi semestinya peraturan atau undang-undang pun saya rasa layak dibuat untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi kapan saja. Sebagai contoh, undang-undang tentang hukuman bagi pencuri. Meskipun keadaan konkrit membuktikan tidak ada pencurian “SAAT INI”, tapi tidak ada salahnya membuat undang-undang tentang pelaku pencurian sehingga kalau ada yang mencuri maka akan mendapatkan sangsi sesuai dengan hukum atau undang-undang yang berlaku. “Ingat kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan”. Waspada dan mencegah lebih baik daripada mengobati.
               Keadilan dimiliki oleh semua golongan karena keutamaan ini memungkinkan setiap golongan dan setiap warga negara untuk melaksanakan tugas masing-masing tanpa campur tangan urusan orang lain (menciptakan keseimbangan).Sekilas tidak ada yang salah dari teori ini. Tetapi lagi-lagi menjadi masalah ketika ditekankan pada kata “melaksanakan tugas masing-masing tanpa campur tangan urusan orang lain”. Manusia yang punya keterbatasan ini meskipun juga punya keahlian khusus, saya rasa disadari atau tidak pada suatu saat pasti akan memerlukan bantuan oranglain dalam melesaikan pekerjaannya, meskipun dia lebih ahli dibandingkan dengan orang lain.

               Kelemahan lain menurut kami adalah Perkawinan yang diadakan hanya dalam rangka suatu pesta religius dan berlaku untuk beberapa hari saja. Golongan pertama dan kedua juga dilarang untuk memiliki keluarga sendiri demi mencapai negara yang ideal. Hal tersebut sangat sulit diterapkan karena yang kita pilih menjadi pemimpin juga manusia yang mempunyai hasrat, nafsu, dan keinginan untuk menyenankan dirinya. Dengan batasan pernikahan ini seolah-olah pemimpin hanya dijadikan sebagai sebuh “Alat” layaknya seekor kerbau yang hanya ditugasi membajak sawah lalu diberi makan dan kawin pada musimnya saja.
Dalam negara yang ideal ia menghapuskan keluarga. Sangat berbahaya menurut kami jika demikian adanya karena akan menimbulkan sikap saling acuh, dan tak bisa terbayangkan bila hubungan anak dan orang tua ini harus dipisah dan tidak saling kenal tentunya akan menimbulkan konflik dan masalah dalam kehidupan sosial, baik bagi anak maupun bagi orang tua. Tak terbayangkan bila orang tua yang makin hari makin tua sementara ia tak kenal anaknya sehingga ia harus menghabiskan masa tuanya sendiri lantaran anaknya enggang merawat karena tak ada hubungan keluarga lagi.
               Pendidikan khusus pada usia 50 tahun baru mereka dirasa siap menjadi seorang pemimpin. Ini menjadi kelemahan lagi dalam teori plato. Pertama, 50 tahun adalah waktu yang panjang untuk menunggu pemimpin yang diharapkan bijaksana dan mampu memimpin dengan sebaik-baiknya. Apakah pendidikannya yang selama lebih dari 30 tahun itu dapat berlaku dimasa sekarang? Selain itu usia 50 tahun adalah usia yang tidak muda lagi, yang berarti daya dan kemampuannya juga kemungkinan besar sudah menurun.      

GOOGLE search
Custom Search

SHARE IT    Bagikan Artikel ini melalui:


Temukan kami di Facebook

Halaman ini disediakan untuk 

Indonesia Times