Kamis, 12 Maret 2015

membedakan antara istilah2 antara wayang indonesia dengan wayang India


wayang itu sebenernya, dari Indonesia sendiri ada.ada yang membedakan antara istilah2 antara wayang indonesia dengan wayang India.konon katanya sebelum islam masuk, bentuk wayang itu hampir sama dengan manusia, dan setelah islam masuk maka oleh wali songo bentuknya dirubah, bukan lagi sama dengan manusia tapi mirip dengan manusia, kalo miripkan gak sama persis yakan??. trus pertanyaannya kenapa wali songo merubahnya? kerena dalam ajaran islam itu melarang manusia untuk menciptakan karya yang sama seperti manusia. dalam kepercayaannya karya2 yang sama dengan manusia itu suatu saat akan minta nyawa seperti itu.
Sunan Kalijaga Berilir-ilir Sampai Dewa Ruci Jakarta, 21 Desember 2001 00:32 HUTAN Jatiwangi, pada suatu masa. Di rindang lebat pepohonan jati di kawasan Lasem, Rembang, Jawa Tengah, itu dua lelaki berbeda umur tegak berhadapan. Yang satu pemuda berpakaian serba hitam. Di depannya seorang pria lebih tua, dibalut busana serba putih. Sebatang tongkat menyangga tubuhnya. Pemuda berbaju hitam itu bernama Lokajaya, berandal yang gemar membegal pejalan yang melewati hutan Jatiwangi. Ia silau oleh kemilau kuning keemasan gagang tongkat yang dibawa pria berjubah putih. Siapa pun orang berjubah putih itu, layaklah ia menjadi mangsa Lokajaya. Dan ketika tongkat itu direbut, orang tua tadi sama sekali tak berlawan. Ia tersungkur di tanah, kehilangan keseimbangan. Tongkat berkepala emas itu berpindah tangan. Bangkit dari jatuhnya, orang tua itu memberi nasihat, dengan tutur kata lembut. Nasihat inilah yang mengubah jalan hidup Lokajaya. Ia menjadi murid orang tua itu --yang tiada lain daripada Sunan Bonang. Lokajaya sendiri kemudian dikenal sebagai Sunan Kalijaga. Begitulah legenda Sunan Kalijaga mengalir, dalam berbagai versi. Jalan hidup sunan yang satu ini tercantum dalam berbagai naskah kuno, babad, serat, hikayat, atau hanya cerita tutur turun-temurun. Mudah dipahami kalau muatannya berbeda-beda. Begitu pula halnya dengan asal-usul Sunan Kalijaga. Menurut Babad Tanah Jawi, Sunan Kalijaga adalah putra Wilwatikta, Adipati Tuban. Nama aslinya Raden Said, atau Raden Sahid. Menurut babad dan serat, Sunan Kalijaga juga disebut Syekh Malaya, Raden Abdurrahman, dan Pangeran Tuban. Gelar ''Kalijaga'' sendiri punya banyak tafsir. Ada yang menyatakan, asalnya dari kata jaga (menjaga) dan kali (sungai). Versi ini didasarkan pada penantian Lokajaya akan kedatangan Sunan Bonang selama tiga tahun, di tepi sungai. Ada juga yang menulis, kata itu berasal dari nama sebuah desa di Cirebon, tempat Sunan Kalijaga pernah berdakwah. Kelahiran Sunan Kalijaga pun menyimpan misteri. Ia diperkirakan lahir pada 1430-an, dihitung dari tahun pernikahan Kalijaga dengan putri Sunan Ampel. Ketika itu Sunan Kalijaga diperkirakan berusia 20-an tahun. Sunan Ampel, yang diyakini lahir pada 1401, ketika menikahkan putrinya dengan Sunan Kalijaga, berusia 50-an tahun. Sunan Kalijaga dilukiskan hidup dalam empat era pemerintahan. Yakni masa Majapahit (sebelum 1478), Kesultanan Demak (1481-1546), Kesultanan Pajang (1546-1568), dan awal pemerintahan Mataram (1580-an). Begitulah yang dinukilkan Babad Tanah Jawi, yang memerikan kedatangan Sunan Kalijaga ke kediaman Panembahan Senopati di Mataram. Tak lama setelah itu, Sunan Kalijaga wafat. Jika kisah itu benar, Sunan Kalijaga hidup selama sekitar 150-an tahun! Tapi, lepas dari berbagai versi itu, kisah Sunan Kalijaga memang tak pernah padam di kalangan masyarakat pesisir utara Jawa Tengah, hingga Cirebon. Terutama caranya berdakwah, yang dianggap berbeda dengan metode para wali yang lain. Ia memadukan dakwah dengan seni budaya yang mengakar di masyarakat. Misalnya lewat wayang, gamelan, tembang, ukir, dan batik, yang sangat populer pada masa itu. Babad dan serat mencatat Sunan Kalijaga sebagai penggubah beberapa tembang, di antaranya Dandanggula Semarangan --paduan melodi Arab dan Jawa. Tembang lainnya adalah Ilir-Ilir, meski ada yang menyebutnya karya Sunan Bonang. Lariknya punya tafsir yang sarat dengan dakwah. Misalnya tak ijo royo-royo dak sengguh penganten anyar. Ungkapan ijo royo-royo bermakna hijau, lambang Islam. Sedangkan Islam, sebagai agama baru, diamsalkan penganten anyar, alias pengantin baru. Peninggalan Sunan Kalijaga lainnya adalah gamelan, yang diberi nama Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntur Madu. Gamelan itu kini disimpan di Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta, seiring dengan berpindahnya kekuasan Islam ke Mataram. Pasangan gamelan itu kini dikenal sebagai gamelan Sekaten. Karya Sunan Kalijaga yang juga menonjol adalah wayang kulit. Ahli sejarah mencatat, wayang yang digemari masyarakat sebelum kehadiran Sunan Kalijaga adalah wayang beber. Wayang jenis ini sebatas kertas yang bergambar kisah pewayangan. Sunan Kalijaga diyakini sebagai penggubah wayang kulit. Tiap tokoh wayang dibuat gambarnya dan disungging di atas kulit lembu. Bentuknya berkembang dan disempurnakan pada era kejayaan Kerajaan Demak, 1480-an. Cerita dari mulut ke mulut menyebut, Kalijaga juga piawai mendalang. Di wilayah Pajajaran, Sunan Kalijaga lebih dikenal sebagai Ki Dalang Sida Brangti. Bila sedang mendalang di kawasan Tegal, Sunan Kalijaga bersalin nama menjadi Ki Dalang Bengkok. Ketika mendalang itulah Sunan Kalijaga menyisipkan dakwahnya. Lakon yang dimainkan tak lagi bersumber dari kisah Ramayana dan Mahabarata. Sunan Kalijaga mengangkat kisah-kisah carangan. Beberapa di antara yang terkenal adalah lakon Dewa Ruci, Jimat Kalimasada, dan Petruk Dadi Ratu. Dewa Ruci ditafsirkan sebagai kisah Nabi Khidir. Sedangkan Jimat Kalimasada tak lain perlambang dari kalimat syahadat. Bahkan kebiasan kenduri pun jadi sarana syiarnya. Sunan Kalijaga mengganti puja-puji dalam sesaji itu dengan doa dan bacaan dari kitab suci Al-Quran. Di awal syiarnya, Kalijaga selalu berkeliling ke pelosok desa. Menurut catatan Prof. Husein Jayadiningrat, Kalijaga berdakwah hingga ke Palembang, Sumatera Selatan, setelah dibaiat sebagai murid Sunan Bonang. Di Palembang, ia sempat berguru pada Syekh Sutabaris. Cuma, keberadaan Sunan Kalijaga di ''bumi Sriwijaya'' itu tidak meninggalkan catatan tertulis. Hanya disebut dalam Babad Cerbon, Sunan Kalijaga tiba di kawasan Cirebon setelah berdakwah dari Palembang. Konon, Kalijaga ingin menyusul Sunan Bonang, yang pergi ke Mekkah. Tapi, oleh Syekh Maulana Magribi, Kalijaga diperintahkan balik ke Jawa. Babad Cerbon menulis, Sunan Kalijaga menetap beberapa tahun di Cirebon, persisnya di Desa Kalijaga, sekitar 2,5 kilometer arah selatan kota. Pada awal kedatangannya, Kalijaga menyamar dan bekerja sebagai pembersih masjid Keraton Kasepuhan. Di sinilah Sunan Kalijaga bertemu dengan Sunan Gunung Jati. Kisah pertemuannya rada-rada aneh. Sunan Gunung Jati sengaja menguji Kalijaga dengan sebongkah emas. Emas itu ditaruh di padasan, tempat orang mengambil wudu. Kalijaga sendiri tak kaget mengingat ajaran Sunan Ampel, ''ojo gumunan lan kagetan'' (jangan mudah heran dan terkejut). Ia ''menyulap'' emas menjadi batu bata, dan menjadikannya tempat menaruh bakiak bagi orang yang berwudu. Giliran Sunan Gunung Jati yang takjub. Ia pun ''menganugerahkan'' adiknya, Siti Zaenah, untuk diperistri Sunan Kalijaga. Hanya beberapa tahun Sunan Kalijaga dikisahkan menetap di Cirebon. Dakwahnya berlanjut ke arah timur, lewat pesisir utara sampai ke Kadilangu, Demak. Di sinilah diyakini Sunan Kalijaga menetap lama hingga akhir hayatnya. Kadilangu merupakan tempat Sunan Kalijaga membina kehidupan rumah tangga. Istri yang disebut-sebut hanyalah Dewi Sarah, putri Maulana Ishak. Pernikahan dengan Dewi Sarah itu membuahkan tiga anak, satu di antaranya Raden Umar Said, yang kelak bergelar Sunan Muria. Sunan Muria dan Sunan Kudus tergolong satu aliran dalam berdakwah dengan Sunan Kalijaga. Metode dakwah aliran Kalijaga itu amat keras ditentang Sunan Ampel, mertuanya, dan Sunan Drajat, kakak iparnya. Hingga kini para pengikut ajaran Sunan Kalijaga, Sunan Muria, dan Sunan Kudus dikenal dengan sebutan kelompok ''Islam abangan''. Julukan ini hingga kini melekat pada masyarakat di sepanjang pesisir utara, dari Demak, Semarang, Tegal, hingga Cirebon. Selain dakwah dengan kontak budaya, kisah spektakuler lainnya adalah pendirian Masjid Agung Demak. Babad Demak menyebutkan, masjid itu berdiri pada 1477, berdasarkan candrasengkala ''Lawang Trus Gunaning Janma'' --bermakna angka 1399 tahun Saka. Kisah pendirian Masjid Agung Demak sendiri banyak bercampur dengan dongeng. Masih belum jelas, benarkah kesembilan wali berada di tempat ini dalam satu waktu. http://www.gatra.com/2001-12-21/artikel.php?id=13517 Wayang Indonesia Membayangi Sejarah Bangsa Hanonton ringgit manangis asekel muda hidepan, huwus wruh towin jan walulang inukir molah angucap, hatur ning wang tresneng wisaya malaha tan wihikana, ri tatwan jan maya sahan-haning bhawa siluman. (Ada orang melihat wayang menangis, kagum, serta sedih hatinya. Walaupun sudah mengerti bahwa yang dilihat itu hanya kulit yang dipahat berbentuk orang dapat bergerak dan berbicara. Yang melihat wayang itu umpamanya orang yang bernafsu keduniawian yang serba nikmat, mengakibatkan kegelapan hati. Ia tidak mengerti bahwa semua itu hanyalah bayangan seperti sulapan, sesungguhnya hanya semu saja). UNESCO, Badan Dunia di Bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan telah menetapkan wayang Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia Nonbendawi (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity) yang perlu dilestarikan. Penetapan itu menyiratkan pengakuan bahwa wayang Indonesia adalah karya budaya autentik atau indigenous bangsa Indonesia. Namun, ternyata cukup sulit untuk mendapatkan informasi atau data sejarah yang autentik menyangkut wayang Indonesia. Ini mengingat tradisi (sistem) dokumentasi pada bangsa kita memang lemah. Sangat sedikit sumber tertulis ataupun temuan arkeologis autentik yang bisa memberikan penjelasan dengan data yang valid tentang hal itu. Petikan bait 59 Kakawin Arjuna Wiwaha karya Pu Kanwa (1030) yang dikutip di atas bisa disebut satu-satunya sumber tertulis tertua dan autentik tentang pertunjukan wayang kulit yang mulai dikenal di Jawa, yaitu pada masa pemerintahan Dharmawangsa Airlangga di Kerajaan Kadiri. Satu-satunya data arkeologis berupa temuan prasasti pada masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung (899-911 M) menyebutkan, Sigaligi mawayang hayam macarita Bima ya kuwara. Ini menjelaskan bahwa pertunjukan wayang (mengambil lakon Bima di masa muda) untuk keperluan upacara telah dikenal pada masa itu. Pada masa sesudahnya, zaman Airlangga (1019-1037), wayang telah menjadi seni pertunjukan untuk umum. Namun, aspek pertunjukan lain sama sekali tidak tergambarkan. Walau demikian, besar kemungkinan (pertunjukan) wayang telah dikenal jauh sebelum itu. Ini mengingat, kisah-kisah dalam pewayangan berkaitan erat dengan tradisi Hinduisme dan kehadiran agama Hindu di sini. Makna agama Hindu dan Hinduisme sendiri niscaya jauh lebih luas daripada sekadar kisah pewayangan belaka. Hinduisme, menurut berbagai sumber sejarah, paling tidak dikenal di Nusantara sejak abad ke-5 Masehi, di antaranya pada masa Kerajaan Mulawarman di Kutai, Kalimantan Timur. Kemudian Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat sebelum Mataram (Medang) di Jawa Tengah pada abad ke-7. Bahkan, tidak mustahil tradisi Hindu sudah dikenal sebelum itu, yakni semenjak terjadi proses penghinduan atau indianisasi di seluruh wilayah Asia Tenggara sekitar abad ke-2 atau ke-1 Masehi. Ini untuk menjelaskan bahwa budaya wayang telah merasuk dan berkembang sejak lama di tengah masyarakat kita. KEYAKINAN bahwa wayang merupakan produk budaya sejati bangsa Indonesia antara lain ditegaskan oleh pakar wayang, Prof Dr Soetarno, Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Surakarta, yang di antaranya membawahi Jurusan Pedalangan. Ia menguraikan argumentasinya secara panjang lebar, baik dari segi sejarah, pengetahuan, konsep estetika maupun teknis, serta filosofis. Wayang, ujarnya, telah dikenal secara meluas di sini dalam bentuk relief di candi, pertunjukan, karya sastra, dan tradisi oral. Menurut Soetarno, istilah "wayang" sendiri mulai disebut pada Bait 664 Kitab Bharatayudha karya Pu Sedah (1157 M). Juga dalam Kitab Tantu Panggelaran (abad ke-12) disebutkan tentang wayang yang menggunakan bahan dari kulit binatang yang ditatah. Adapun kelir (layar) juga telah digunakan pada masa itu (Kitab Wreta Sancaya). Pada pertengahan abad ke-12, iringan musik untuk pementasan wayang antara lain berupa tudungan dan saron kemanak. Adapun pada Kitab Negarakertagama (abad ke-15) disebutkan, iringan musiknya berupa tambur, gambang, kala, sangha, dan kemanak. GAJ Hazeu, seorang ahli bahasa dari Belanda yang meneliti tentang wayang, pada tahun 1897 meyakini pula bahwa wayang merupakan hasil kebudayaan Jawa. Ini didasarkan etimologi istilah-istilah yang dikenal dalam pementasan wayang, yaitu dalang, kelir, wayang, keprak, dan blencong. Secara leksikon, wayang berarti bayangan. Disertasi Hazeu di atas merupakan hasil penelitian ilmiah tentang wayang yang pernah dilakukan meski lebih dari sudut linguistik, karenanya juga menjadi sumber informasi paling valid. Namun, sesungguhnya hingga sekarang amat sedikit hasil penelitian, baik dari luar maupun dalam negeri, mengenai (sejarah) pertunjukan wayang. Priyohutomo pada tahun 1933 menulis disertasi berjudul Nawaruci, juga dari sudut linguistik. Sejumlah sumber tertulis lain seperti Serat Centhini (1823) dan Sastramiruda (1920) juga menyinggung tentang wayang, namun itu lebih didasarkan pada tradisi oral sehingga sulit diyakini validitasnya. Kemudian, Prof Poerbatjaraka dalam Kapustakan Jawi (1952) memaparkan sejumlah hasil penelitian yang di antaranya mengungkap tentang sejarah wayang. Bagaimana bentuk wayang pada masa itu? Mula-mula, pelukisan sosok wayangnya dibikin "realis" (tiga dimensi), seperti sosok wayang pada relief di Candi Prambanan (abad ke-10), Jawa Tengah. Pada masa Majapahit (abad ke-13), bentuk wayang dibikin agak miring (menyamping), meniru relief di Candi Penataran, Jawa Timur, (bentuk autentiknya bisa kita lacak pada wayang Bali saat ini). Keberadaan candi-candi di atas menunjukkan pengaruh kuat agama Hindu di Jawa. Apalagi relief atau arca yang terdapat di candi-candi tersebut banyak melukiskan fragmen-fragmen cerita "wayang". Candi Prambanan memuat kisah epos Ramayana. Candi Sukuh memuat lakon Sudamala dan Bima Suci yang merupakan bagian dari epos Mahabharata. Candi Panataran, Jawa Timur, memuat Ramayana dan Kresnayana. Dalam proses yang panjang, antara abad ke-11 hingga akhir abad ke-18, pertunjukan wayang kulit purwa tampaknya terus mengalami perkembangan disertai inovasi-inovasi, baik menyangkut aspek estetika pertunjukan maupun pemaknaan (filsafat). Proses "penyempurnaan" wayang hingga ke bentuk yang kita kenal sekarang berlangsung sejak Kerajaan Demak kemudian Pajang, Mataram, hingga Kartasura. Mulai masa Kerajaan Demak (abad ke-15), tokoh wayang di atas kulit binatang mengalami stilisasi, yaitu sepenuhnya miring (dua dimensi). Ada yang menyebutkan bahwa perubahan tersebut akibat pengaruh agama Islam yang dalam syariahnya menolak pencitraan manusia secara "realis". Pada masa itu, Sunan Kalijaga konon sangat berperan dalam inovasi pertunjukan wayang kulit ini. Kalijaga yang juga piawai mendalang memanfaatkan media tersebut untuk menyampaikan dakwah. Pada masa Demak itu, sosok wayang dilengkapi dengan anggota tubuh (tangan) yang bisa digerakkan atau "lepas" (dengan sumbu pada lengan) seperti sekarang. Diciptakan pula ricikan berupa senjata dan hewan sehingga pertunjukan lebih menarik. Estetika menyangkut seni rupa wayang menunjukkan terjadinya inovasi dari waktu ke waktu, baik menyangkut sosok wayangnya sendiri maupun teknik permainannya. Para seniman perupa pada masa itu menuangkan kreativitas mereka dalam berbagai kreasi dan setiap wilayah (komunitas) menemukan kekhasan mereka sendiri. Apakah itu menyangkut karakter sosok, wanda, ukuran tinggi, gelung, ornamen, aksesori, tatahan, sunggingan (pewarnaan), hingga ke gaya pedalangan. ALHASIL, dari data sejarah di atas dan proses perkembangan yang dialami, berbagai pihak meyakini bahwa wayang adalah karya budaya "asli" karena lahir dan mengalami proses panjang di Indonesia. Meski tidak diingkari bahwa cerita-cerita pewayangan berasal dari tradisi Hinduisme di India, sebagai produk kebudayaan, wayang mengalami proses "pencanggihan" sendiri di bumi nusantara. Kompleksitas dan intensitas proses pencanggihan pada pertunjukan wayang yang meliputi berbagai aspeknya itu agaknya tidak kita kenal pada produk budaya yang lain di nusantara. Wayang bukan hanya sebatas seni pertunjukan, tetapi juga telah menjadi satu kebudayaan yang tak terpisah dari terbentuknya peradaban bangsa Indonesia. Melalui wayang, kita melihat suatu proses kebudayaan yang menurut para ahli, "tidak terjadi di ruang kosong". Wayang berkembang menjadi ekspresi budaya yang autentik bagi bangsa Indonesia. Selain di Jawa dan Bali, wayang sempat berkembang di Kalimantan, Sumatera, dan Lombok. Secara obyektif, wayang yang berkembang di Indonesia berbeda cukup signifikan dengan wayang yang ada di India (ataupun di Thailand). Termasuk aspek-aspek pertunjukan yang menyertainya, yaitu menyangkut susastra, iringan musik (karawitan), dramatisasi atau seni pemanggungan. Sementara dari sisi pemaknaan, wayang telah mengendapkan nilai-nilai filosofis yang mengekspresikan sekaligus merepresentasikan peri kehidupan bangsa Indonesia. Bahkan, dalam perkembangannya, kisah-kisah wayang yang tercipta dan kemudian memasyarakat merupakan hasil local genious. Kakawin Arjuna Wiwaha, misalnya, berbeda dari cerita aslinya dalam Mahabharata di India. Arjuna Wiwaha ditulis oleh Pu Kanwa sebagai metafora perjalanan hidup Raja Airlangga. Dengan menyebutkan Airlangga sebagai titisan Wisnu, karya sastra ini menjadi legitimasi bagi Airlangga untuk memegang tampuk kekuasaan. Begitu pula dengan Bharatayuddha gubahan Pu Sedah dan Pu Panuluh (1157 M) yang berbeda dari aslinya. Dan pada pertengahan abad ke-19, Mangkoenagoro IV menciptakan kisah Dewa Ruci. Ini kisah Bima yang mencari air amerta dan disimbolkan sebagai pencarian akan sangkan paraning dumadi (asal-usul kehidupan), satu laku mistik khas Jawa. Sebagai hasil interaksi, budaya wayang mempengaruhi segala ekspresi keseharian masyarakat, termasuk dalam pembentukan adat istiadat, tradisi, filsafat, ajaran-ajaran moral, dan etika. Pada masa itu, hubungan antara pertunjukan wayang dan masyarakat niscaya bukan sekadar interaksi antara publik dan tontonannya belaka. Ini pada gilirannya memberikan pengaruh bagi pembentukan nilai-nilai yang kompleks dalam tatanan sosial serta ketatanegaraan. Wayang pada masanya merupakan bagian tak terpisah dari kepercayaan Hinduisme. Barangkali bisa diibaratkan, agama Hindu sebagai daging, sedangkan wayang sebagai aliran darahnya. Wayang bagi masyarakat ketika itu bukan semata-mata mitologi (kisah para dewa), melainkan telah menjadi bagian dari kosmologi (dunia pikir) yang memiliki pengaruh kuat dalam menentukan kehidupan sehari-hari. Barangkali, secara mudah di zaman ini kita bisa meniliknya pada peri kehidupan umat Hindu di Bali. DARI zaman ke zaman, inovasi dan kreasi-kreasi dari berbagai aspek pertunjukan wayang ini mengalami perkembangan secara intensif. Pertunjukan wayang sendiri kemudian juga mengalami keragaman bentuk dan media. Selain wayang kulit purwa (dengan kisah Ramayana dan Mahabharata), ada pula wayang beber (kisah Panji). Kemudian dikenal wayang madya (zaman sesudah Parikesit), wayang gedog (siklus Panji), wayang klithik (kisah Damarwulan), wayang golek (dari Serat Menak), wayang dupara (Babad Mataram II), wayang krucil (kisah Damarwulan), wayang kancil (fabel), wayang perjuangan (1945), wayang suluh (1945), wayang pancasila (1947), wayang wahyu (1960), wayang buddha (1979), wayang sandosa (1980), wayang sadhat (1984), wayang kampung (2002), dan wayang sang pamarta (2003). Belum lagi yang mengambil bentuk atau media pertunjukan lain, seperti wayang orang, wayang topeng, langen mandra wanaran, sendratari wayang, wayang jemblung. Dan dalam bentuk kontemporer muncul kreasi wayang nggremeng, wayang suket. Setelah kemerdekaan, wayang juga dikenal lewat komik antara lain oleh pelukis RA Kosasih, Ardisoma, Urip, Indri S, Effendi, Jan Mintaraga, dan Teguh Santosa. Wayang pernah dibikin lewat media film, sinetron di televisi, belakangan lahir pula wayang multimedia, wayang animasi, wayang listrik, wayang cyber. Dan tak kurang pula teater modern yang mengambil inspirasi cerita dari kisah pewayangan, begitu juga dalam bentuk cerita pendek dan novel. Wayang agaknya akan terus mengilhami ekspresi-ekspresi budaya dalam beragam bentuk dan media di Indonesia. Bentuknya bisa berubah dan mengalami metamorfosa di luar perkiraan kita. Namun, lebih dari itu, kosmologi wayang tampaknya akan terus memberikan jejak pengaruh cukup jelas dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.(Ardus M Sawega) http://64.203.71.11/kompas-cetak/0405/07/sorotan/1011581.htm


GOOGLE search
Custom Search


Google search

Custom Search