Selasa, 07 April 2015

Kraton Yogyakarta Mandala dan Ajaran Sangkan-Paraning Dumadi

Denah kota Yogyakarta dirancang berdasarkan prinsip-prinsip Hindu-Jawa yang bersumber dari naskah-naskah Sansekerta kuno Vastu Sastra, yang berpedoman pada keempat arah mata angin dan ditata menurut dua poros besar yang saling berpotongan di tengah-tengah sesuai dengan pola mancapat (kiblat papat lima pancer). Di tengah-tengah, di jantung kota itulah berdiri Kraton Yogyakarta. Membentang antara Tugu sebagai batas utara dan Panggung Krapyak di batas selatan, antara Sungai Code di timur dan Sungai Winongo sebelah barat. Antara Gunung Merapi dan Laut Selatan, Kraton dalam pikiran masyarakat Jawa, diartikan sebagai pusat dunia yang digambarkan sebagai pusat jagad. (http://www.yogyes.com/id)
Demikianlah Kraton Yogyakarta dipandang sebagai mandala, sebagai pusat dan replika alam semesta, kosmos. Rangkaian bangunan dan halaman Kraton yang terpencar dari pusat melambangkan daratan dan lautan. Kedua pintu gerbang utama menghadap utara dan selatan. pintu gerbang utara menghadap gunung merapi, tempat kedudukan Kyai Sapu jagad, sedang pintu gerbang selatan menghadap ke laut selatan, tempat tinggal Dewi Laut Selatan, Nyai Rara Kidul, yang menurut legenda bertahta di kerajaan di dasar Samudera selatan, yang sejak lama telah menjalin hubungan erat dengan kerajaan Jawa, khususnya kerajaan mataram. Kedudukan sebagai raja secara tradisional dianugerahkan oleh Nyai Rara Kidul, dan izin serta restunya menjadi prasyarat untuk membangun sebuah Kraton. (Daliman, 2001:15)
Rangkaian bangunan dan halaman Kraton juga tertata secara simetris dalam dua poros: satu sisi kearah Utara-Selatan, dan pada sisi yang lain mengarah dari Barat ke Timur. Bangunan-bangunan Kraton yang mengarah Utara-Selatan lebih bersifat sebagai ruang umum, resmi, tempat upacara, dan tempat pertemuan dengan masyarakat dan rakyat umum, sedang bangunan yang memanjang dari Barat ke Timur ditentukan sebagai ruang pribadi, akrab dan keramat. (Daliman, 2001:18)
Poros Utara-Selatan adalah yang paling nyata dan menghubungkan alun-alun Utara dan alun-alun Selatan melalui tujuh halaman berturut-turut yang saling berhubungan lewat pintu gerbang (regol). pintu gerbang itu dengan nama yang sepadan berpasangan dua-dua dari luar, Utara atau Selatan, ke dalam, menuju halaman pusat atau pelataran, tempat Kraton Hageng sebagai pusat Kraton. ialah, dengan masuk dari Utara atau Selatan, haruslah melewati: (1) Sitinggil Lor atau Sitinggil Kidul; kemudian halaman-halaman: (2) Brajanala Lor atau Brajanala Kidul; (3) Kemandungan Lor atau Kemandungan Kidul; (4) Sri Manganti Lor atau Sri Manganti Kidul; dan barulah tiba di halaman pusat atau pelataran, yang menjadi pusat Kraton. di Sitinggil Lor terdapat sebuah serambi tinggi yang pada kesempatan tertentu menjadi tempat raja beraudensi, duduk diatas tahta kebesaran, menghadap ke utara. disitulah raja dihadap oleh pejabat-pejabat terpenting yang duduk di atas tikar (gelaran) yang terbentang di Pagelaran dan di belakang mereka duduk pula seluruh rakyat yang berkerumun di alun-alun. Di halaman-halaman luar di samping terdapat gardu-gardu penjagaan dan beberapa banguna kecil tempat meriam dan gamelan keramat, terutama terdapat bangsal-bangsal untuk menampung tamu-tamu yang akan menghadap raja. (Daliman, 2001:18)
Di pelataran tampak poros yang satu lagi, dengan mengikuti arah Barat ke Timur serta tegak lurus pada poros pertama, Utara-Selatan. Di pelataran inilah berdiri dua bangsal kebesaran yang luas, ialah Gedhong Prabayaksa (Prabasuyasa) dan Bangsal Kencana. Bangsal Prabayaksa adalah tempat penyimpanan pusaka-pusaka kebesaran kerajaan. Bangsal Prabayaksa disebut pula Kraton Hageng dan berfungsi sebagai pusat Kraton, yang di dalamnya terdapat sebuah lampu besar yang bernama Kyai Wiji, yang menyala terus tidak pernah padam sebagai simbol keabadian. Di depan Bangsal Prabayaksa berdiri Bangsal Kencana yang menghadap ke Timur. Bangsal Kencana merupakan Bangsal yang terbesar dan berfungsi sebagai tempat upacara atau resepsi besar seperti menerima tamu agung, upacara perkawinan dan sidang agung. Di belakang (Barat) Gedhong Prabayaksa terbentang sebuah Keputren yang luas sebagai tempat tinggal sejumlah besar puteri Kraton di bawah pengawasan seorang wanita yang menjabat sebagai wedana. Pada zaman dulu, raja adalah satu-satunya yang dapat masuk ke tempat itu. Di situlah terletak kediaman para padmi dan selir, kamar tidur raja, taman, serta sejumlah besar gedung seperti ruang-rung makan, dapur, dan gudang. (Daliman, 2001:18)
Di sebelah Barat Alun-alun Utara terdapat Mesjid Agung. Mesjid ini terbuka untuk umum. Seorang pengulu yang relatif mandiri dan dipilih dari antara keluarga Abdi Dalem Pamethakan tinggal di daerah Kauman yang berada di sekeliling mesjid, di luar Kraton. Di bagian dalam ruang bertembok terdapat beberapa tempat ibadah bagi raja dan keluarganya. Menurut Adam sekurang-kurangnya ada tiga masjid, Masjid Panepen dan Mesjid Kaputren. Di sebelah Barat Kaputren terdapat Mesjid Suranatan, yang namanya diambil dari nama korps ulama bersenjata pengawal Sutan Demak. (Daliman, 2001:18)
Pola rangkaian keseluruhan bangunan Kraton yang simetris serta dikelilingi oleh kedua alun-alun dan kedua halaman yang luas mengingatkan T. Behrend akan struktur lingkaran konsentris dalam konsep kosmologi Hindu-Jawa. Bentuk bangunan kraton yang demikian, karenanya, ia sebut sebagi imago mundi, citra dunia.
Homologi tata letak Kraton sebagai mandala juga menempatkan kedudukan raja sebagai pusat kosmos (the hub of universe). Raja sebagai penghubung mikro kosmos (jagad cilik) dan makro kosmos (jagad gedhe). Babad Tanah Jawi menyebutnya sebagai warananing Allah. Raja dipandang sebagai penghubung atau perantara tunggal antara manusia dengan Tuhan, sangkan paraning dumadi, asal dan tujuan makhluk. Tugas kosmis raja adalah membangun tata tentreming jagad lahir dan batin sebagai perwujudan rahmat Tuhan bagi manusia, sebaliknya juga raja berkewajiban membimbing serta mengantarkan rakyat untuk menyatu dalam kawula lan Gusti sebagai sumber kesejahteraan sejati makhluk manusia. (http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0609/22/jogja)
Perjalanan pulang ke Rahmatullah disimbolkan dengan poros dari Utara ke Selatan, dari Sitinggil Lor menuju Kraton Hageng atau Kraton Gedhong Prabasuyasa. Ketika perjalanan kita telah sampai di Kemandungan Lor terlihatlah pohon-pohon Keben, yang mengingatkan bahwa saat tutup usia telah sampai (tangkeben: tutuplah). Di Bangsal Sri Manganti, amal-baik kita ditimbang-timbang.). Di Gedhong Purwaretna, kita diingatkan akan asal-mula (sangkan) kita (Purwa: pertama, asal. Retna: intan, cahaya Gedhong Purwaretna yang bertingkat tiga menggambarkan ketiga Baitul Makmur, Baitul Mukaram dan Baitul Mukaddas. Keempat jendelanya menjadi simbol keempat tahap ketuhidan, tingkat syari’at, tarikat, hakikat, dan ma’rifat. Kalau telah mencapai ke Kraton Hageng atau Gedhong Prabasuyasa, sampailah sudah kita kepada tujuan yang sejati (paran) ialah di Kraton surgawi. Di surga inilah kita memperoleh kebahagiaan abadi, dekat serta manunggal dengan Allah sendiri, dan menikmati cahaya keindahan dan kemuliaan Allah sebagai divisualisasikan dengan simbol lampu Kyai Wiji tidak pernah padam. (http://www.tasteofjogja.com/web/ida/inside.asp)

GOOGLE search
Custom Search

Google search

Custom Search