Selasa, 07 April 2015

Makna Simbol-simbol dan Tata Ruang Kraton Yogyakarta

Melalui proses simbolisasi manusia mengembangkan budi (human mind), berfikir dan berekspresi. Bahasa, musik, mitos, dan ritus adalah simbol-simbol, produk proses transformasi simbolik (simbolic transformation) pengalaman-pengalaman manusia. Simbolisme kraton mencakup dua dimensi, dimensi bentuk dan dimensi sikap hidup. Kedua dimensi ini memancar dari paham mistik jawa yang berpokok pada ajaran “manunggaling kawula gusti” (menyatunya manusia dengan tuhan) dan “sangkan-para-ning dumadi” (asal dan tujuan ciptaan) dengan prinsip pertama “urip mung mampir ngombe” (hidup hanya sementara seperti minum sebagai bekal perjalanan). Ajaran ini pada hakikatnya bersumber pada pengalaman religius manusia yang rindu untuk bersatu kembali kepada sang khalik, Yang Ilahi, yang karenanya mendorong makhluk manusia untuk menulusuri arus kehidupannya sampai menemukan serta mencapai sumber dan muara-nya. Konsep mistik jawa dalam sejarahnya tidak terlepas dari pengaruh agama-agama besar seperti Hindu, Budha dan Islam beserta mistiknya yang khas, seperti nampak dalam kitab-kitab tutur dan suluk. (Daliman, 2001:14)
Dari dimensi bentuk secara kosmologis kraton dibangun sebagai simbol dan dan menurut bentuk mandala (kosmos) dan berfungsi sebagai pusat orientasi (kiblat) bagi manusia dan rakyatnya. Kraton menjadi simbol pusat dunia (pusering jagad), pusat kosmos, sedang raja adalah personifikasi Tuhan. Mandala tidak diartikan semata-mata dalam makna wilayah lokasi geografis, tetapi lebi-lebih dalam makna kharisma, daya atau sumber kehidupan. Karenanya kraton sebagai mandala secara kosmis menjadi pusat atau kharisma (daya) kelangsungan hidup. (Daliman, 2001:14).
Simbolisasi kraton sebagai pusat dunia dinyatakan pula dalam konsep-konsep kesatuan ruang atau wilayah yang didasarkan pada arah mata angin. Konsep kiblat papat-lima-pancer dan kiblat wolu-sanga pancer adalah lambang semesta alam, sedang konsep kesatuan desa manca-pat (kesatuan desa, terdiri dari: 1 ditengah + 4 di luar), manca-lima dan seterusnya melambangkan kesatuan pemerintahan desa sebagai miniatur tata alam semesta. Oleh sebab itu, analisis makna bentuk bangunan kraton memerlukan pendekatan metafisis. (Daliman, 2001:14)
Apabila bentuk kraton secara keseluruhan adalah sebagai perwujudan bentuk (mandala: juga berarti bentuk, form), rangkaian struktur dari tiap-tiap bagian bangunan kraton lebih mencerminkan dimensi sikap hidup. Dasar sikap hidup itu juga bersumber pada ajaran “manunggaling kawula gusti”. Sikap hidup itu ialah bahwa mengabdi raja sama dengan mengabdi Tuhan karena raja adalah pengganti Nabi, Nabi adalah pengganti Hyang Agung, raja dan Nabi seakan-akan Hyang Maha Agung yang nampak. Sikap hidup raja, sebaliknya harus berorientasi kepada rakyat. (Daliman, 2001:14)
Tiap-tiap bentuk bangunan kraton seperti regol, bangsal, ataupun gedhong diberikan nama-nama yang mengungkapkan simbol-simbol sesuai fungsi, harapan, dan bentuknya. Bangsal Sri-Manganti (Sri=raja, manganti= menanti), misalnya, adalah tempat atau ruang tunggu bagi tamu-tamu Sri Sultan. Regol Brajanala (braja: tajam, nala: hati) mengandung makna bahwa orang yang memasuki keraton berharap memiliki perasaan yang tajam. Demikian pula nama Bangsal Trajumas meningatkan kepada rakyat melalui arti nama, fungsi dan bentuk bangunannya (trajumas) (traju: timbangan, mas atau kencana : suci atau bersih) bahwa pertimbangan raja senantiasa suci, bersih, dan benar. Oleh sebab studi mengnai dimensi sikap hidup rakyat dan raja sebagai cerminan ajaran manunggaling kawula-Gusti yang diungkapkan mellui rangkaian struktur bangunan Kraton, lebih banyak terkait pada nama dan makna bahasa, analisisnya jelas memerlukan pendekatan etimologis. (Daliman, 2001:14)

3. Makna Tata Ruang Kraton Yogyakarta

Setelah diguncang gempa tahun 1867, Kraton mengalami kerusakan berat. Pada masa HB VII tahun 1889, bangunan tersebut dipugar. Meski tata letaknya masih dipertahankan, namun bentuk bangunan diubah seperti yang terlihat sekarang. Tugu dan Bangsal Manguntur Tangkil atau Bangsal Kencana (tempat singgasana raja), terletak dalam garis lurus, ini mengandung arti, ketika Sultan duduk di singgasananya dan memandang ke arah Tugu, maka beliau akan selalu mengingat rakyatnya (manunggaling kawula gusti). (http://www.tasteofjogja.com/web/ida/inside.asp)
Tatanan Kraton sama seperti Kraton Dinasti Mataram pada umumnya. Bangsal Kencana yang menjadi tempat raja memerintah, menyatu dengan Bangsal Prabayeksa sebagai tempat menyimpan senjata-senjata pusaka Kraton (di ruangan ini terdapat lampu minyak Kyai Wiji, yang selalu dijaga abdi dalem agar tidak padam), berfungsi sebagai pusat. Bangsal tersebut dilingkupi oleh pelataran Kedhaton, sehingga untuk mencapai pusat, harus melewati halaman yang berlapis-lapis menyerupai rangkaian bewa (ombak) di atas lautan. (http://www.tasteofjogja.com/web/ida/inside.asp)
Tatanan spasial Kraton ini sangat mirip dengan konstelasi gunung dan dataran Jambu Dwipa, yang dipandang sebagai benua pusatnya jagad raya.
Dari utara ke selatan area Kraton berturut-turut terdapat Alun-Alun Utara, Siti Hinggil Utara, Kemandhungan Utara, Srimanganti, Kedhaton, Kemagangan, Kemandhungan Selatan, Siti Hinggil Selatan dan Alun-Alun Selatan (pelataran yang terlindung dinding tinggi). Sedangkan pintu yang harus dilalui untuk sampai ke masing-masing tempat berjumlah sembilan, disebut Regol. Dari utara terdapat gerbang, pangurukan, tarub agung, brajanala, srimanganti, kemagangan, gadhung mlati, kemandhungan dan gading. (http://www.tasteofjogja.com/web/ida/inside.asp)
Brongtodiningrat memandang penting bilangan ini, sebagai bilangan tertinggi yang menggambarkan kesempurnaan. Hal ini terkait dengan sembilan lubang dalam diri manusia yang lazim disebut babahan hawa sanga. (http://www.tasteofjogja.com/web/ida/inside.asp)
Kesakralan setiap bangunan Kraton, diindikasikan dari frekuensi serta intensitas kegiatan Sultan pada tempat tersebut.
Alun-Alun, Pagelaran, dan Siti Hinggil, pada tempat ini Sultan hanya hadir tiga kali dalam setahun, yakni pada saat Pisowan Ageng, Grebeg Maulud, Sawal dan Besar, Serta kesempatan yang sangat insidental yang sangat khusus misal pada saat penobatan Sultan dan Penobatan Putra Mahkota atau Pangeran Adipati Anom. (YogYES.COM)
Rangkaian bangunan Kraton yang mengikuti poros Utara-Selatan yang berpadanan dua-dua dengan Kraton Hageng sebagai pusatnya merupakan simbolisasi dan visualisasi perjalanan hidup manusia di dunia dan akhirat untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan dengan mengabdikan dirinya (kawula) sesuai dengan martabat ke-kesatria-annya kepada raja (Gusti). (Daliman, 2001:15)
Poros dari Selatan ke Utara, ialah dari Sitinggil Kidul sampai ke Pelataran Kraton Hageng adalah sebagai simbol perjalanan hidup manusia di dunia. Poros dari Utara ke Selatan, yakni dari Sitinggil Lor menuju Pelataran Kraton Hageng menjadi simbol perjalanan pulang ke Rahmatullah. Kraton Hageng menjadi simbol keduanya, Kraton duniawi dan Kraton surgawi. (Daliman, 2001:15)

Perjalanan dari Sitinggil Kidul ke Utara dengan melalui gerbang (regol) Brajanala akan sampai di Kemandungan. Bila perjalanan ini diteruskan, setelah melewati regol Gadhungmlati tibalah di Kemangangan. Perjalanan ini mengandung makna seorang bayi yang telah selamat lahir dari kandungan ibu menjadi magang (calon) manusia. Hendaknya anak tersebut dididik mengarahkan cita-citanya lurus ke Utara, ke Kraton, tempat bersemayamnya raja atau sultan. Di Kraton inilah ia akan mencapai apa yang dicita-citakannya, ialah derajat keksatriaan (sinatriya), asal mau bekerja dengan baik, patuh pada aturan-aturan, setia dan senantiasa ingat dan mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Murah. Dia pun akan merasa bahagia dan tenteram karena dekat dan menyatu dengan Gusti (raja)-nya. (Daliman, 2001:15)

GOOGLE search
Custom Search

Google search

Custom Search