Sabtu, 16 Oktober 2010

EPISTEMOLOGI PRINSIP VERIFIKASI DAN TEORI EMOTIF ALFRED JULES AYER DAN KAITANNYA DENGAN PERKEMBANGAN ASTRONOMI


EPISTEMOLOGI PRINSIP VERIFIKASI DAN TEORI EMOTIF ALFRED JULES AYER DAN KAITANNYA DENGAN PERKEMBANGAN ASTRONOMI

Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas
Mata kuliah: Epistemologi Ilmu
Dosen Pengampu: Imam Wahyudi

Disusun oleh:
MUZDAKIR MUHLISIN
(07/252458/FI/03369)




FAKULTAS FILSAFAT
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2010

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Filsafat ilmu adalah hal yang mendasari atau makna yang terkandung dalam sebuah ilmu. Pemahaman akan filsafat ilmu disebut epistemologis. Filsafat adalah suatu wacana atau argumentasi mengenai segala hal yang bersifat universal yang dilakukan secara reflektif hingga sampai pada akar masalah yaitu suatu konsekuensi radikal, terakhir, dan sistematis guna mencapai suatu hakikat permasalahan. Bagian yang dibicarakan dalam filsafat ilmu mengenai ilmu pengetahuan dan kebenaran. Craig (2005) melihat epistemologi adalah inti dari permasalahan filsafat mengenai hakikat, sumber, batas-batas ilmu pengetahuan. Artinya bahwa pengetahuan adalah keyakinan akan kebenaran, tetapi bukan semata-mata keyakinan yang benar. Misalnya keyakinan yang benar berdasarkan terkaan, tidak termasuk pengetahuan. (Wiramihardja, 2006)
Pada abad ke-20 M muncullah sebuah aliran filsafat ilmu pengetahuan yakni positivisme logis, dimana positivisme logis (neopositivisme) ini berkembang di Lingkungan Wina, Austria. Diantara tokoh positivisme logis yang akan kami bahas pada makalah ini adalah Alfred Jules Ayer. Hal ini menjadi tugas kami sebagai pemenuhan atas tugas mata kuliah Epistemologi dan kaitannya dengan perkembangan astronomi terutama terkait dengan pandangan Geosentris dan heleosentris. Kami rasa perlu untuk mengemas pemikiran A.J Ayer dalam makalah ini karena beliaulah yang berperan besar dalam perkembangan positivisme logis. Menurut positivisme logis, puncak pengetahuan manusia adalah ilmu-ilmu positif atau sains yang berangkat dari fakta-fakta empiris termasuk di dalamnya adalah Astronomi (Ilmu Bintang).
Demikian pendahuluan dari kami, lebih jelasnya kami tuangkan segala isi kepala kami tentang pemikiran A.J Ayer dan kaitannya dengan perkembangan astronomi dalam makalah ini lebih lanjut.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat di kembangkan permasalahan pokok yang di teliti dalam makalah ini, yaitu:
1. Apa yang menjadi dasar pemikiran Ayer tentang realitas?
2. Apa yang dimaksud dengan prinsip verifikasi dan teori emotif Ayer?
3. Apa kaitan antara pemikiran Ayer dengan perkembangan ilmu positif terutama astronomi?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Alfred Jules Ayer (1910-1989) M
1. Biografi Singkat A. J. Ayer
Alfred Jules Ayer dilahirkan di London 29 Oktober 1910. Ayer pernah belajar filologi klasik dan filsafat di Oxfrod pada tahun 1932. Sesudah itu ia pergi ke Austria, tepatnya berkunjung ke Universitas di Wina. Di Universitas ini dia belajar filsafat dan logika. Kemudian ia kembali ke Inggris dan diangkat menjadi dosen di Oxfrod, hingga akhirnya setelah perang dunia II ia diangkat sebagai professor di Universitas London (1946-1959). (K. Bertens, 2002: 33).
Kedatangan filsafat Ayer pada pertengahan abad ke-20 cukup mengejutkan para filsuf. Namun bukan berarti ditolak, bahkan diterima dengan baik karena jiwa filsafat itu sejalan dengan filsafat Moore dan Russell yang telah berkembang lebih dulu. Tampak bahwa Filsafat yang berwajah empiristik di Inggris dapat berkembang subur. Hal ini tampak jelas pada perjalanan filsafat di Inggris Sejak Hume dan Locke atau bahkan lebih berkembang sejak Roger Bacon pada abad ke-13 yang kemudian disambung oleh Francis Bacon pada abad ke-16. Ayer mengakui bahwa empirisme yang dikembangkannya berdasarkan filsafat Berkeley dan Hume (Mintaredja, 2003 :76).
Salah satu buku yang ia terbitkan ialah Language, Truth and Logic (1936) dimana buku ini terbit ketika usianya 25 tahun. Language, Truth and Logic memuat sebagian besar pemikiran Ayer sehingga buku ini dikaitkan dengan munculnya salah satu aliran baru dalam filsafat periode kontemporer, yakni positivisme logis. Dalam kata pengantar bukunya, Ayer mengakui bahwa pemikirannya telah dipengaruhi oleh dua tokoh Lingkungan Wina yakni Moritz Schlick dan Rudolf Carnapp. Adapun buku-buku Ayer yang lainnya adalah The Problem of Knowledge (1957), The Foundations of Empirical Knowledge (1940), The Origins of Pragmatism (1968), Russell and Moore, The Analytical Heritage (1971), Russell (1972), Probability and Evidence (1972), The Central Problems of Philosophy (1973), Philosophy in the 20th Century (1982). (K.Bertens, 2002: 39).
2. Positivisme Logis A. J Ayer
Positivisme logis merupakan salah satu aliran baru dalam perkembangan filsafat di abad 20-an. positivisme logis menyajikan satu fusi dari tradisi empiris yang berasal dari hume, mill dan Mach, dengan logika simbolis sebagaimana ditfsirkan oleh L. Wittgenstien. menurut teori ini, semua kalimat yang bermakna harus bersifat analitik maupun bersifat sintetik. kalimat analitik itu bisa betul (tautologi) dan bisa salah (kontradiktif) semata-mata karena bentuk logisnya dan tidak mengandung informasi faktual. kalimat-kalimat sintetik, atau empiris, merupakan laporan tentang pengamatan indra ataupun generalisasi yang didasarkan pada pengamatan empiris. kalimat-kalimat sintetik bermakna sejauh dapat diferivikasi. (Bagus,Lorens, 1996: 859)
Persamaan positivisme kalsik dan positivisme logis ialah keduanya sama-sama menjunjung tinggi sains dan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuan yang objektif-rasional. Sedangkan perbedaannya adalah apabila positivisme klasik lebih menaruh perhatian pada bidang pengaturan social masyarakat secara ilmiah dan adanya gerak kemajuan evolutif dalam alam, maka positivisme logis lebih memfokuskan diri pada logika dan bahasa sains. Filsafat menurut positivisme logis harus bertindak sebagai hamba sains. Fungsi pokok filsafat bagi positivisme logis ialah melakukan kajian sains tentang metodologi sains dan melakukan klarifikasi sehingga kerancuan dalam penggunaan bahasa dapat dihindarkan.
3. Prinsip Verifikasi
Dalam positivisme logis perhatian yang paling utama difokuskan pada masalah adanya garis demarkasi (garis batas) antara kalimat yang bermakna (sense) dan yang tidak bermakna (non sense). Para filsuf positivisme logis tidak mengutamakan kebenaran suatu ucapan, akan tetapi lebih mengutamakan makna dari ucapan-ucapan. Lalu pertanyaannya ialah bagaimana kita bisa membedakan ucapan yang bermakna dan ucapan yang tidak bermakna?
Dalam menjawab pertanyaan ini, kaum positivisme logis mengemukakan pembelaannya dengan berargumen bahwa pernyataan yang sungguh-sungguh bermakna adalah pernyataan yang termasuk ke dalam salah satu dari dua kategori berikut;
pertama, suatu kalimat bisa jadi benar atau salah berdasarkan istilah-istilah yang dipergunakan. Suatu peryataan berarti/ bermakna kalau, paling sedikit pada prinsipnya, sacara empiris dapat diverivikasi. Pada kategori ini tidak perlu adanya verifikasi, kita hanya membutuhkan analisis saja dengan berdasarkan realitas inderawi. Suatu pengalaman inderawi dasariah (pengetahuan positif) harus dicapai sebelum suatu pernyataan dapat memiliki arti kognitif. Misalnya, jika ada yang mengatakan “Laki-laki yang tinggal di sebelah rumahku adalah “Bujangan” dengan seorang istri dan dua anak”. Kalimat ini bermakna tapi tidak benar (salah). Kita tahu bahwa sesungguhnya kata “bujangan” hanya diperuntukkan bagi laki-laki yang belum menikah. Samahalnya dengan matematika dan logika, kedua ilmu tersebut hanya membutuhkan analisis sebagai timbangan bahwa suatu pernyataan logika dan matematika bisa bermakna. Semua pernyataan dalam matematika dan logika bersifat analitis (tautologi) dan benar perdefinisi. Pernyataan – pernyataan itu secara niscaya merupakan pernyataan benar yang berguna dalam menyelenggarakan pernyataan yang berarti atau bermakna secara kognitif. konsep matematika dan logika tidak di verifikasi tetapi merupakan kesepakatan definisional yang di terapkan pada realitas. Contohnya, “segitiga adalah gambar yang dibentuk oleh tiga garis lurus yang saling memotong” (K. Bertens, 2002: 37).
Kategori yang kedua ialah pernyataan-pernyataan yang kebenaran atau kesalahannya tidak bisa ditentukan dengan menganalisis, tetapi hanya bisa dilakukan dengan mengecek fakta-fakta. Contohnya, jika aku mengatakan “Bumi itu datar”, contoh ini bisa jadi benar, bisa juga jadi salah. Satu-satunya cara untuk mengatahui benarnya pernyataan tersebut adalah melalui verifikasi.
A.J Ayer sebagai seorang tokoh positivisme logis, menurutnya hanya bermakna suatu ucapan yang berupakan observation-statement artinya pernyataan yang menyangkut realitas inderawi; dengan kata lain, suatu ucapan yang dilakukan berdasarkan observasi, atau sekurang-kurangnya berhubungan dengan observasi. Bahwa suatu pernyataan akan bermakna apabila pernyataan tersebut sesuai dengan realitas inderawi. Untuk menguatkan pandangan ini, maka Ayer mengemukakan adanya prinsip verifikasi sebagai tolok ukurnya. Dengan begitu akan diketahui bahwa pernyataan-pernyataan yang tidak bisa diverifikasi dan dianalisis secara logika adalah pernyataan yang tidak bermakna. (K. Bertens, 2002: 36).
Seperti dalam buku Language, Truth and Logic, ia mengatakan: “Sebagian besar perbincangan yang dilakukan oleh para filsuf sejak dahulu sesungguhnya tidak dapat dipertanggungjawabkan dan juga tidak ada gunanya”. Kita tahu bahwa para filsuf sebagian banyak memperbincangkan persoalan metafisika, demikian juga dengan munculnya idealisme di Inggris pada abad modern. Menurut Ayer, itu semua merupakan hal yang tidak bermakna sama sekali karena hal-hal tersebut (terutama berkaitan dengan metafisika) tidak bisa dibuktikan secara empiris. pernyataan metafisik tersebut tidak dapat di verifikasi secara empiris dan bukan tautologi yang berguna. tidak ada cara yang mungkin untuk menentukan kebenarannya atau kesalahannya dengan mengacu pada pengalaman. tidak ada pengalaman yang mungkin yang pernah dapat mendunkung pernyataan – pernyataan metafisik seperti : “ yang tiada itu sendiri tiada”, “yang mutlak mengatasi waktu”, “Allah adalah sempurna”, “ada murni tidak mempunyai ciri”. pernyataan – pernyataan metafisik adalah pernyataan semu. metafisika berisi ucapan – ucapan yang tidak bermakna (Bagus,Lorens, 1996: 863). Pandangan empiristic telah mempengaruhi Ayer, hal ini terlihat pada pengajuan prinsip verifikasi yang dikemukakan olehnya. Jadi common sense adalah acuan utama dalam positivisme logis Alfred Jules Ayer.
IKLAN GAMBAR
4. Teori Emotif
Penerimaan terhadap suatu teori emotif dalam aksiologi. Inti dari teori emosi Eyer ini adalah bahwa nilai tidak bisa diputuskan benar atau salah karena tidak mempunyai ukuran yang pasti. Nilai bukan benar atau salah tetapi sekedar ungkapan rasa yang tidak bisa dinyatakan sebagi benar atau salah. Nilai-nilai tidak ada secara tidak tergantung pada kemampuan manusia untuk menetapkan nilai-nilai. Nilai-nilai tidak merupakan objek-objek di dunia, tidak dapat ditemukan dalam percobaan, tidak dapat diperiksa, atau dialami sebagaimana kita mengalami atau kita mengadakan verifikasi terhadap eksistensi objek-objek. Nilai-nilai tidak absolut. Pernyataan mengenainya bukan pernyataan empiris. “pembunuhan jahat”, “aborsi salah”, “kau jangan mencuri”, arca itu indah”, semua merupakan pernyataan yang sama sekali tidak mengandung isi empiris atau deskriptif. Pernyataan-pernyataan jenis itu hanya menyatakan sikap, pilihan, perasaan, keyakinan, persyaratan tentang pembunuhan, aborsi, pencurian, keindahan. Pernyataan itu tidak secara langsung mengkomunikasikan fakta- fakta atau informasi atau pengetahuan kognitif, dan hanya menujukan hal – hal seperti : persetujuan kita, ketidaksetujuan kita, penerimaan, tidak adanya penerimaan, keterikatan atau ketidak terikatan kita untuk hal – hal tertentu. (Bagus,Lorens, 1996: 864)
Nilai merupakan pernyataan moral yang dapat dinyatakan sebagai baik atau buruk apabila mempunyai sistem nilai yang sama. Ucapan-ucapan seperti “Dunia diciptakan Tuhan”, “Gadis itu sangat cantik”, “Kalau meminjam sandal harus dikembalikan” dan pernyataan lain yang mengungkapkan suatu nilai tidak bermakna. yer berkata bahwa ucapan-ucapan semacam itu barangkali secara emosional mempunyai arti bagi orang-orang yang bersangkutan, tetapi tidak memberikan pengenalan tentang realitas. Dengan demikian Ayer juga menolak Axiology sebagai cabang ilmu , karenasyarat dikatakan sebagai cabang ilmu, harus mengajukan proposisi yang dapat dibuktikan secara empiris.
Bagi Ayer, orang yang membuat pertimbangan etis atau pertimbangan nilai semata-mata hanya mengungkapkan, bukan menegaskan suatu perasaan tertentu. Dan pengungkapan perasaan itu tidak benar ataupun salah. (Wijaya, 2001:51). Jika pertimbangan yang mengandung istilah etis, atau nilai pada umumnya, tidak memilki makna riil didalamnya sehngga kebenaran dan kesalahannya tidak dapat ditentukan. (Wijaya, 2001:54)
5. Batas-batas Verifikasi
Ayer juga memberikan batas-batas pada prinsip verifikasi yang diberlakukannya sebagai tolak ukur. Baginya suatu pernyataan tidak hanya bisa dibuktikan secara langsung, akan tetapi ada cara pula secara tidak langsung untuk memverifikasi pernyataan, yakni kami contohkan dengan fakta sejarah, bahwa fakta sejarah tidak bisa kita verifikasi secara langsung, akan tetapi kita bisa mengetahui fakta sejarah melalui orang yang bersaksi dan jujur atas apa yang disaksikannya. Jadi peran orang lain sangat berpengaruh dalam penentuan pernyataan atas suatu kejadian yang kita tidak tahu. Misalnya, “Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945”, jelas disini kita sadar bahwa kita tidak hidup pada zaman itu. Maka kita membutuhkan kesaksian banyak orang mengenai hari kemerdekaan Indonesia (K. Bertens, 2002: .37).
Mengenai hal yang berhubungan dengan metafisika, theologi, etika, dan estetika, kaum positivisme logis termasuk A.J Ayer menganggap itu semua tidak bermakna. Hal ini dikarenakan pandangannya yang bersifat empiristic yang mengacu hanya pada common sense (akal sehat) telah menjadikannya anti terhadap sesuatu yang bersifat non-sense. Semua itu hanya mitos belaka yang muncul dari emosi manusia. Hal ini dikarenakan metafisika, etika, teologi dan estetika tidak bisa diobeservasi untuk diverifikasi lebih lanjut. Oleh karena itu, menurut Ayer pernyataan yang bersifat abstrak tersebut tidak bermakna, dan itu semua hanya omong kosong belaka.
B. ASTRONOMI
1. Pengertian
Astronomi, yang secara etimologi berarti "ilmu bintang" (dari Yunani: άστρο, + νόμος), adalah ilmu yang melibatkan pengamatan dan penjelasan kejadian yang terjadi di luar Bumi dan atmosfernya. Ilmu ini mempelajari asal-usul, evolusi, sifat fisik dan kimiawi benda-benda yang bisa dilihat di langit (dan di luar Bumi), juga proses yang melibatkan mereka. (http://id.wikipedia.org/wiki/Astronomi)
2. Pandangan Geosentris dan Heliosentris
Dalam Astronomi, teori Geosentris dipopulerkan oleh seorang ilmuwan Yunani bernama Ptolemy. Teori inilah yang dulu dipercayai oleh orang-orang Yunani kuno. Walau begitu, ada juga di antara mereka yang tidak mempercayainya. Pada masa-masa kejayaan Islam, para cendekiawan Muslim mulanya mengadopsi dan menggunakan konsep Geosentris-nya Ptolemy. Nah di sinilah, cendekiawan-cendekiawan Muslim tersebut menemukan ketidakcocokan teori Geosentris terhadap fakta empiris yang ada. Salah satu ilmuwan yang memberikan kritik terhadapnya adalah Ibn al-Haytam. Kemudian berkembanglah berbagai perhitungan astronomis yang didasarkan pada konsep Heliosentris. (zuhair, 2008)
Ptolomeus (70-147 M) telah berusaha menjelaskan gerak bulan, p;anet, dan matahari dengan menempelkan lingkaran-lingkaran kecil pada gerak planet, matahari, dan bulanpada lapis yang berotasi mengelilingi bumi. Pandangan Ptolomeus yang memandang bumi sebagai pusat alam semestadinamakan pandangan geosentris. Pandangan geosentris ini bertahan lama sekali sampai abad pertengahan. (Suwitra, 2001: 98)
Konsep Heliosentris itu sendiri dikenal dipopulerkan oleh Copernicus (ilmuwan Eropa). Namun tidak dapat dipungkiri, dalam merumuskan konsep tersebut ia turut mengadopsi pemikiran dan perhitungan para ilmuwan Muslim sebelumnya. Hingga saat ini konsep Heliosentris-lah yang terbukti benar secara empiris dan tidak ada fakta yang bertentangan dengannya. (zuhair, 2008)
Copernikus (1473- 1543 M), empat belas abad setelah ptolomeus mengemukakan teori baru pada tahun 1515 dengan memaparkan matahari sebagai pusat tata surya. Oleh karena itulah pandangan ini disebut heliosentris. Copernikus memandang gerak planet-planet ini berbentuk lingkaran mengitari mataharitermasuk juga bumi. Pandangan copernicus ini dipaparkan di dalam bukunya “De Revolusion Orbium Celestium”. (Suwitra, 2001: 98)
C. Analisis Epistemologi Prinsip verifikasi dan teori emotif Ayer dan kaitannya dengan Astronomi
1. Landasan Epistemologi
Positivisme merupakan perkembangan lanjut dari aliran empirisme. Seperti yang kita ketahui bahwa empirisme telah menjadi sumber filosofis bagi positivisme. Empirisme yang didukung filsuf Inggris ini (Locke, Hume, Berkeley) meyakini bahwa realitas adalah segala sesuatu yang bisa dijangkau oleh indera. Lebih dari itu, seiring dengan perkembangan zaman, positivisme mengembangkan paham empiris ini lebih ekstrim lagi, yakni menyatakan bahwa puncak pengetahuan manusia adalah ilmu-ilmu positif atau sains yang berangkat dari fakta-fakta empiris. Postivisme berusaha menetapkan sebuah realitas yang bebas nilai. Ide tentang nilai tidak tergantung pada realitas. (http://sabdane.blogspot.com/2008/06/alfred-jules-ayer.html)
Dari kutipan di atas, jelas bahwa ilmu-ilmu kealaman khususnya Astronomi sangat diagung-agungkan dan bahkan dijadikan puncak pengetahuan manusia karena berangkat dari fakta-fakta empiris.

2. Tumpuan dalam Astronomi dan kaitanya dengan pandangan positivis.
Rasa ingin tahu manusia merupakan awal sikap ilmiah, karena ingin tahu lebih lanjut, apa, bagaimana, mengapa peristiwa atau gejala itu.
Ada 4 tahap perkembangan alam pikiran manusia sampai lahirnya IPA (Khususnya Astronomi), yaitu : mitos, penalaran, eksperimentasi dan metode keilmuan.
a. Mitos terjadi karena keterbatasan manusia dalam pengamatan, peralatan, dan cara berpikir pada saat itu.
Dalam kaitannya dengan pahan Positifis, hal-hal yang bersifat metafisik ditolak mentah-mentah. Tetapi pada kenyataannya, ilmu pengetahuan termasuk juga astronomi ternyata juga diawali dengan mitos. Hal ini terbukti dengan banyaknya muncul pemahaman tentang asal mula kosmos yang bersumber dari mitologi. Misalnya saja menurut kepercayaan masyarakat tana Toraja bahwa alam semesta ini diciptakan dan disusun sedemikian rupa oleh Tuhan yang bernama Puang Matua. Dari sini dapat kita kritisi pandangan positifis yang menyatakan bahwa pernyataan-pernyataan metafisis merupakan pernyataan tidak bermakna. Tetapi kenyataannya lahirnya pengetahuan positif tak lepas pula dari pandangan-pandangan metafisis tersebut.

b. Penalaran Deduktif/ Tahap Rasionalisme
Rasionalisme: Aliran pemahaman untuk pemecahan masalah menggunakan rasio atau daya nalar dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar.
Perbedaan antara pandangan positivis dan ilmuan astronomi adalah bahwa positivist tidak menekankan pada pengetahuan yang benar, yang terpenting adalah pengetahuan tersebut bermakna dan dapat diferivikasi. Sementara dalam ilmu alam termasuk Astronomi berupaya sedapat mungkin untuk memperoleh pengetahuan yang benar meskipun kebenarannya juga bersifat dinamis.
c. Penalaran Induktif/ Tahap Empirisme
Empirisme: Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang diperoleh langsung dari pengalaman konkrit.
Pada Tahap ketiga ini sesuai dengan landasan epistemologis positivisme logis maupun ilmu-ilmu kealaman.
d. Metode Keilmuan/ Ilmiah Merupakan perpaduan antara penalaran deduktif dan penalaran induktif
Dalam Astronomi juga menerapkan Kerja Ilmiah yaitu Meneliti/Menyelidiki dengan cara sistematis dan disertai dengan sikap ilmiah
Pembentukan sikap ilmiah: a.Memiliki rasa ingin tahu (kuriositas) yang tinggi dan kemampuan belajar yang besar, b.Tidak dapat menerima kebenaran tanpa bukti, c.Jujur, d.Terbuka, e.Toleran, f.Skeptis, g.Optimis, h.Pemberani, i.Kreatif
Alat Yang digunakan Mempelajari ilmu (Membaca, Mendengar, Mengamati, Meneliti, Menyentuh, Merasakan ) adalah panca indera dan pikiran (rasio)
3. Metode dalam Astronomi
• Para astronom memilih topik-topik tertentu saja dari topik yang beragam
• Tak seorangpun mengklaim bahwa hanya satu metode dapat digunakan untuk menjelaskan kekomplekskan mempelajari Astronomi
• Selain kekhususan topik kajian, ilmuwan di seluruh dunia memiliki metoda yang umum berlaku untuk semuanya.
• Kunci proses ilmu pengetahuan adalah pengamatan atau observasi, menanyakan masalah, menyusun hipotesis untuk menjawab masalah, pendugaan dan pengujian.
• Jadi langkah urutan metode atau proses ilmiah yaitu
1. Menemukan Masalah
2. Mengajukan Hipotesis
3. Merancang / Merencanakan Percobaan
4. Menentukan Alat dan Bahan
5. Menentukan Variabel
6. Melakukan Percobaan
7. Menarik Kesimpulan

Langkah langkah metode ilmiah dapat digambarkan sebagai berikut: Sadar ada masalah, Mengidentifikasi dan merumuskan masalah, Pernyataan/Pertanyaan: tentang apa, mengapa dan bagaimana, Perumusan hipotesis, Dipilih salah satu yang paling mungkindaribanyak jawaban sementara Pengumpulan data /bukt imelalui eksperimen /observasi, Menarik kesimpulan berdasarkan pengujian dan analisis data serta ringkasan emua informasi yang diperoleh, Hukum/dalil , Teori, Masalah baru untuk dipecahkan lebihlanjut/ eksperimen atau observasi lanjutan.
(http://nurma.staff.uns.ac.id/files/2009/02/hakekat-ipa.pdf)

4. Jaminan Obyektivitas Astronomi
Data-data yang sudah didapat dari percobaan harus diterjemahkan atau dibuat kesimpulan. Dalam eksperimen atau observasi, bisa jadi bertentangan dengan teori yang ada, sehingga obyektivitasnya menjadi dipertanyakan atau diperhitungkan sampai menjadi teori yang kokoh. Kesimpulan dapat mendukung hipotesis atau tidak mendukung hipotesis. Hasil percobaan tidak harus selalu mendukung hipotesis.
Dalam kaitannya dengan kesimpulan tersebut, maka prinsip verifikasi sangat mendukung bahwa tidak masalah apakah pernyataan itu benar atau salah, yang penting pernyataan tersebut dapat diuji dan bermakna.
Terkait dengan obyektivitas ini, pandangan tentang geosentris dan heliosentris dapat dijadikan contoh. Pandangan heleosentris awalnya ditolak karena bertentangan dengan pandangan sebelumnya (geosentris) dan juga karena bertentangan dengan doktrin keagamaan yang berlaku pada waktu itu. Obyektivitasnya menjadi dipertanyakan atau diperhitungkan sampai akhirnya teori Heliosentris ini menjadi teori yang kokoh sampai dengan saat ini.

5. Kebenaran dan kepastian Astronomi
Kebenaran dan kepastian bersifat dinamis, artinya kebenarannya terbuka untuk diuji lagi, sehingga apabila diketemukan pendekatan yang lebih baik, dapat menggugurkan teori yang lama.
Terkait adanya perbedaan antara lingkup yang kontingen di satu pihak dan lingkup yang permanen, kepastian dalam Astronomi dapat dikaitkan dengan kepastian manusiawi dan kepastian alam.
Kepastian manusiawi didasarkan pada kodrat manusia... suatu perbuatan dikatakan pasti terjadi asalkan tidak diubah oleh faktior kemerdekaan manusia tersebut, tidak menipu, tidak memanipulasi. Sedangkan kepastian alami adalah kepastian yang didasarkan kepada sifat alami benda-benda. Kepastiannya tergantung sejauh mana benda-benda itu masih tetap “bertingkah laku” sesuai dengan dasar-dasar kodrat alamiah yang kita ketahui. Dalam lingkup kepastian alamiah inilah tumbuh pengetahuan alamiah, didasarkan pada pengamatan maupun eksperimen atas kausalitas dari zat, benda, maupun elemen-elemen. (Wahyudi, 2007: 61)
Terkait dengan teori kebenaran, saya rasa perkembangan Astronomi maupun prinsip verifikasi Ayer, keduanya menerima teori kebenaran korespondensi, koherensi, pragmatis, semantik, dan konsensus. Hanya saja keduanya tetap berfokus pada kebenaran korespondensi. Kaum positivis termasuk juga Ayer tidak menggunakan teori kebenaran non-deskriptif yang menekankan pentingnya fungsi penggunaan “salah” dan “benar”.
6. Manfaat Prinsip Verifikasi dan teori Emotif Ayer bagi perkembangan Astronomi
Prinsip Verifikasi dan teori Emotif disatu sisi memberi sumpangan positif bagi perkembangan ilmu alam termasuk Astronomi. Karena dengan menekankan pentingnya kebermaknaan pernyataan atau hipotesis maka ilmu dapat berkembang dengan sendirinya melalui proses ferivikasi. Kesimpulan yang tidak sesuai dengan hipotesis maupun tidak sesuai dengan pernyataan atau teori yang berlaku, masih bermakna dan tidak menutup kemungkinan menjadi teori yang di anggap benar dikemudian hari jika dapat diverifikasi dan dapat dinyatakan benar atau sesuai empiri.
Dengan demikian, hukuman karena mengeluarkan pernyataan atau teori yang tidak sesuai kebenaran pengetahuan yang didoktrinkan agama tidak perlu ditakuti. Karena pernyataan metafisis didudukkan pada posisi yang lebih rendah dibandingkan pengetahuan empiris.
7. Kelemahan Prinsip Verifikasi
Berkenaan dengan pandangan positivisme logis yang mengutamakan adanya verifikasi sebagai tolak ukur, terdapat beberapa kelemahan pada prinsip verifikasi; pertama, terlihat adanya semacam paksaan untuk memberlakukan tolak ukur secara empiristic, sehingga sesuatu yang dianggap metafisis dikesampingkan bahkan bisa tidak diakui. Kedua, penerapan prinsip verifikasi ke dalam teknik analisis bahasa ternyata mengandung banyak kesukaran. Misalnya, dapat ditanyakan apa sebabnya pengalaman yang diandaikan prinsip verifikasi hars disamakan dengan pengalaman inderawi? Apakah pengalaman tidak harus diperluas sehingga meliputi pengalaman jenis lain juga? Jikalau para penganut positivisme logis menganggap sesuatu yang bersifat metafisis tidak bermakna dengan melalui verifikasi sebagai tolok ukurnya, maka para filsuf pun berhak mencurigai para filsuf positivisme logis dengan menanyakan, apakah prinsip verifikasi itu sendiri dapat dikategorikan sebagai pernyataan yang bermakna? Bagaimana cara melakukan verifikasi terhadap prinsip verifikasi itu sendiri? Hal ini tidak pernah dipikirkan oleh para penganut positivisme logis. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa prinsip verifikasi itu sendiri sesungguhnya bersifat metafisik. Ketiga, para theolog menolak penerapan prinsip verifikasi ke dalam bahasa theolog. Sebab menurut Karl Bath, seorang theolog ternama, bahwa pernyataan theologies bersifat otonom. Keempat, tolok ukur yang dikenakan prinsip verifikasi terhadap pernyataan-pernyataan dalam bidang etika dengan alasan pernyataan semacam itu hanya merupakan ungkapan rasa (emosi) semata, pada dasarnya dapat dikembalikan kepada fungsi bahasa. Fungsi bahasa tidak semata-mata kognitif, tetapi juga emotif, imperative, bahkan seremonial.
Melihat kritik yang dikemukakan terhadap perumusan yang pertama, Ayer mencoba merumuskan prinsip verifikasi dengan cara lebih teliti. Tetapi kemudian ia mengakui bahwa perumusan ini pun tidak memadai dan suatu perumusan yang sempurna tidak mungkin diberikan.
8. Kritik atas Positivisme Logis
Dalam perkembangannya positivisme logis menuai beberapa kritikan. Diantara para filsuf yang mengkritik aliran positivisme logis ialah Karl R. Popper, Ferdinand de Saussure, W.V. Quine, dan Jacques Derrida.
Quine mengemukakan teorinya yang disebut indeterminacy of meaning (teori ketidakbertentuan makna). Teori Quine ini mengemukakan bahwa makna suatu kata tidak bisa ditentukan oleh pengamatan empiris, karena tidak ada persetujuan yang sifatnya apriori-universal, melainkan terbatas spasio-temporal. Misalnya, Democritos dan Albert Einstein sama-sama menggunakan kata “atom”, namun makna kata “atom” pada Democritos tidak sama dengan kata “atom” pada Albert Einstein, karena mereka berdua memiliki konvensi tentang makna atom yang dibatasi oleh spasio-temporal mereka masing-masing (http:// sabdane.blogspot.com/2008/06/alfred-jules-ayer.html).
Karl Popper juga mengajukan kritik atas positivisme logis, terutama mengenai masalah garis demarkasi (garis batas) antara pernyataan yang bermakna dan pernyataan yang tidak bermakna (K.Bertens, 2002: 80). Karl Popper menekankan bahwa prinsip verifikasi bukanlah satu-satunya tolok ukur untuk menentukan kebenaran-kebenaran yang bersifat umum, lebih-lebih dalam ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan seringkali kita temui bahwa fakta sejarah telah menjadi bukti secara tidak langsung bahwa ilmu pengetahuan sendiri lahir dari pandangan-pandangan yang bersifat metafisis atau mistis tentang dunia, sebagai contoh boleh disebut gagasan metafisis seperti atomisme Leukippos dan Demokritos. Menurut Karl Popper, suatu ucapan metafisis bukan saja bermakna, tetapi dapat benar juga biarpun baru menjadi ilmiah kalau sudah diuji dan dites. Selain itu Karl Poppr juga sering disebut sebagai penggagas prinsip falsifikasi sebagai lawan dari prinsip verifikasi.
Begitu pula dengan Ferdinand de Saussure, seorang ahli linguistic dari Swiss. Proyeknya ialah menciptakan ilmu bahasa yang mengkaji bahasa sebagai sesuatu yang otonom. Ia juga seorang pengkritik positivisme logis. Adanya paham realisme dalam pernyataan telah dibekukan oleh kaum positivisme logis yang menganggap bahwa prinsip verifikasi adalah satu-satunya tolok ukur untuk menentukan kebermaknaan suatu pernyataan tanpa pelduli realitas sebenarnya. Menanggapi hal ini Saussure mengkritik aliran positivisme logis tersebut. Menurut Saussure, suatu pernyataan harus ada hubungan korespondensi antara konsep (linguistic) dengan realitas (ektralinguistik). Saussure juga merevolusi asumsi metafisis realisme (pandangan adanya dunia nyata di luar yang dapat diketahui oleh benak manusia) dan menggantinya dengan relativisme linguistic (pandangan bahwa apa yang dapat diketahui adalah system konsep-konsep yang dihasilkan oleh struktur arbitrer bahasa). (http://sabdane.blogspot.com/2008/06/alfred-jules-ayer.html).
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Empirisme meyakini bahwa realitas adalah segala sesuatu yang bisa dijangkau oleh indera. Lebih dari itu, positivisme mengembangkan paham empiris ini lebih ekstrim lagi, yakni menyatakan bahwa puncak pengetahuan manusia adalah ilmu-ilmu positif atau sains yang berangkat dari fakta-fakta empiris
Positivist tidak menekankan pada pengetahuan yang benar, yang terpenting adalah pengetahuan tersebut bermakna dan dapat diferivikasi. Sementara dalam ilmu alam termasuk Astronomi berupaya sedapat mungkin untuk memperoleh pengetahuan yang benar meskipun kebenarannya juga bersifat dinamis.
Epistemologi Astronomi didasarkan pada eksperimen dan observasi, obyektivitas dipertanyakan atau diperhitungkan sampai menjadi teori yang kokoh, kebenaran dan kepastiannya bersifat dinamis, metode yang digunakan adalah metode ilmiah. Dalam eksperimen atau observasi, bisa jadi bertentangan dengan teori yang ada, sehingga Kesimpulan dapat mendukung hipotesis atau tidak mendukung hipotesis. Hasil percobaan tidak harus selalu mendukung hipotesis.
Kebenaran dan kepastian bersifat dinamis, artinya kebenarannya terbuka untuk diuji lagi, sehingga apabila diketemukan pendekatan yang lebih baik, dapat menggugurkan teori yang lama.
Prinsip Verifikasi dan teori Emotif disatu sisi memberi sumpangan positif bagi perkembangan ilmu alam termasuk Astronomi. Dalam kaitannya dengan pahan Positifis, hal-hal yang bersifat metafisik ditolak mentah-mentah. Tetapi pada kenyataannya, ilmu pengetahuan termasuk juga astronomi ternyata juga diawali dengan mitos. para penganut positivisme logis menganggap sesuatu yang bersifat metafisis tidak bermakna. Di satu sisi bermanfaat bagi perkembangan ilmu, tapi di sisi lain berbahaya apalagi apabila terdapat penyalahgunaan dalam penerapan ilmu.



GOOGLE search
Custom Search

Google search

Custom Search