Sabtu, 16 Oktober 2010

Mengkaji Pandangan Baudrillard Mengenai Simulacra dan Hakikat Komunikasi Massa


-->
Mengkaji Pandangan Baudrillard Mengenai Simulacra
dan Hakikat Komunikasi Massa

Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas
Mata kuliah: Filsafat Komunikasi
Dosen Pengampu: Prof.Dr.H. Lasiyo, MA, MM

Disusun oleh:
MUZDAKIR MUHLISIN   
07/252458/FI/03369              




FAKULTAS FILSAFAT
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2010
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Filsafat komunikasi adalah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, tekniknya, dan metodenya. (http://filsafat-komunikasi.blogspot.com)
Salah satu tokoh yang membahas tentang hakikat komunikasi adalah Jean Baudrillard. Baudrillard adalah sosiolog yamg menawarkan banyak gagasan dan wawasan yang inspiratif. Pemikirannya menjadi penting karena ia mengembangkan teori yang berusaha memahami sifat dan pengaruh komunikasi massa. Ia mengatakan media massa menyimbolkan zaman baru di mana bentuk produksi dan konsumsi lama telah memberikan jalan bagi semesta komunikasi yang baru. (Munir, 2008: 140)
Sebagai pemikir aliran postmodern yang perhatian utamanya adalah hakikat dan pengaruh komunikasi dalam masyarakat pascamodern, Baudrillard sering mengeluarkan ide-ide cukup kontroversial dan melawan kemapanan pemikiran yang ada selama ini. Misalnya dalam wacana mengenai kreativitas dalam budaya media massa atau budaya cyber ia menganggapnya sebagai sesuatu yang absurd dan contradictio in terminis. Bagi Baudrillard, televisi merupakan medan di mana orang ditarik ke dalam sebuah kebudayaan sebagai black hole. singkatnya Simulacra. Realitas yang ada adalah realitas semu, realitas buatan (hiperrealitas). (Hamzah, 2008: 1)
Pada makalah ini dibahas tentang pandangan Baudrillard mengenai hakikat komunikasi massa, khususnya berkenaan dengan teorinya tentang simulacra. Demikian pendahuluan dari kami, lebih jelasnya kami tuangkan segala isi kepala kami tentang hakikat komunikasi massa menurut Baudrillard di dalam makalah ini lebih lanjut.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat dikembangkan permasalahan pokok yang di teliti dalam makalah ini, yaitu:
1. Bagaimana pandangan Baudrillard tentang hakikat komunikasi massa?
2. Apa yang dimaksud dengan simulacra dan apa kaitannya dengan proses komunikasi?


BAB II
PEMBAHASAN

A. Otobiografi Jean Baudrillard
Baudrillard lahir di Reims, Perancis timur laut, pada tanggal 27 Juli 1929. Pada Tahun 1956 samapai dengan tahun 1966, ia menjadi guru sekolah menengah; mengkhususkan pada teori sosial Jerman dan kesusasteraan. Pada tahun 1962 sampai dengan tahun 1963, ia mengulas tulisan-tulisan di Les Temps Moderne, termasuk sebuah esai tentang Italo Calvino. Pada tahun 1964 sampai dengan 1968, ia menerjemahkan naskah-naskah Jerman kedalam bahasa Perancis, termasuk beberapa karya dramawan Peter Weiss (Marat/Sade, The German Ideology nya Marx dan Engels, Messianisme revolutionairre du tiers monde dari Muhlmann) dan Bertold Brecht. Pada bulan Maret 1965, ia mempertahankan disertasinya “Thèse de Troisème Cycle” dalam bidang sosiologi, Universitas Paris X – Nanterre yang diterbitkan menjadi Le systèm des objets. (Utoyo Suharto, 2010: 5)
Pada tahun 1966, ia menerbitkan ulasan ringkas tetapi dengan prediksinya, tentang Understanding Media, Marshall-McLuhan dalam jurnal Marxis humanis L’homme et la société. Pada tahun 1967, ia menerbitkan Le système des objets. Berperan aktif sebagai intelektual dalam demonstrasi mahasiswa di Paris, pada bulan Mei 1968. Pada tahun 1970sampai dengan 1976, ia menjadi maître-assistant di Nanterre. Pada tahun 1977 sampai dengan 1978, ia meluncurkan serial provokatif tentang esai antisosialis dan anti postrukturalis dalam bentuknya yang sangat atraktif, publikasi gaya pamplet yang menutup kariernya sebagai akademikus dan political outsider. Pada tahun 1980, ia menerbitkan De la séduction. (Utoyo Suharto, 2010: 5)
Pada tahun 1981, ia menerbitkan Simulacres et simulation. Pada tahun 1982, ia menerbitkan Les stratégies fatales. pada tahun 1986, ia menerbitkan Amérique. Pada bulan Februari, ia mengajukan habilitation à diriger des recherches, dibawah direktur politikal antropologis Georges Balandier, di Sorbonne; yang diterbitkan pada tahun 1987 dengan judul L’autre par lui-même, seiring dengan volume pertama Cool Memories. 1988 sampai dengan tahun 1995, ia mulai mengundurkan diri dari kehidupan kampus,tetapi tetap aktif sebagai jurnalis, esais, dan intelektual profesional bête noir. Hal yang menarik dari waktu ini adalah sekitar tulisan La Guerre du Golfe n’a pas eu lieu (1991), suatu koleksi tulisan-tulisan politikal satirikal dari Januari-Maret 1991, yang bagian-bagiannya sebelumnya diterbitkan dalam jurnal Libération. Terbitnya La transparence du mal (1990), Cool Memories II (1990), dan L’illusion de la fin (1992). (Utoyo Suharto, 2010: 6)
B. Dasar Teoritis dan Pengaruh-pengaruh utama
Baudrillard banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh diantaranya Karl Marx, Frederich Nietzsche, Claude levi-Strauss, Louis Althusser, georges Batalille, marel mauss, henri lafebvre, jacques lacan, Roger Caillois, Gilles Deleuze, madzhab Frankfurt, situasionists, poststrukturalis tel quel, Marshall McLuhan, dan tentu saja “ledakan” mei 1968 (“yang dalam beberapa hal, dipicu oleh murid-murid sosiologinya di Nantere”, Levin, CPES intro,10). Namun, hanya untuk mendaftar “pengaruh-pengaruh “ terhadap pemikir kompleks seperti Baudrillard sendiri menyesatkan.. Baudrillard melawan setiap pemikir yang memiliki gagasan-gagasan yang dianggap serius (Aziz, 2001: 1)
Latar belakang pemikiran Baudrillard merupakan suatu intellectual landscape yang luas, yaitu bahwa: Baudrillard diilhami oleh pernyataan Nietzsche bahwa “Tuhan sudah mati”, sebenarnya adalah suatu upaya mencari nilai-nilai baru. Gestell dari Heidegger, walaupun tidak langsung, tersebar didalam tulisan-tulisan Baudrillard. Symbolic Exchange adalah teori yang diilhami oleh Accursed Share-nya Georges Bataille, Gift-Exchange-nya Marcel Mauss, dan Anagram-nya Ferdinand de Saussure. Seduction adalah game of appearance yang berada pada tataran simbolik. Fatal Strategy telah menggantikan teori yang menjadi usang karena tidak dapat mengikuti perubahan zaman yang pesat. Symbolic exchange, seduction dan fatal strategy dapat dibandingkan dengan différance, differend dan chora. Metamorphosis, Metaphor, Metastasis adalah tahapan proses dehumanisasi. Vanishing of history adalah karena ruang-waktu non-Euclidian. (Utoyo, 2001: 2)
C. Pokok-pokok pikiran
• Baudrillard mengembangkan teori yang berusaha memahami sifat dan pengaruh komunikasi massa.
• Ia mengatakan media massa menyimbolkan zaman baru, bentuk produksi dan konsumsi lama telah memberikan jalan bagi semesta komunikasi yang baru.
• dunia yang dikonstruksi dari model atau simulacra,

D. Transisi historis dari modernitas ke posmodernitas dalam tiga tahap
Sejak jaman Renaissance hingga kini telah terjadi tiga kali revolusi simulacra, yaitu counterfeit, production dan simulation, yang merupakan nama yang berbeda untuk arti yang sama yaitu, imitasi atau reproduksi dari image atau obyek. Pertama, image merupakan representasi dari realitas. Kedua, image menutupi realitas. Ketiga, image menggantikan realitas yang telah sirna, menjadi simulacrum murni. Pada sign as sign, simbolika muncul dalam bentuk irruption. Baudrillard kemudian menambahkan tahapan keempat yang disebut fractal atau viral. Kini kita pada tahapan fractal, suatu tahapan trans-everything yang mengubah secara radikal cara pandang kita terhadap dunia. (Utoyo Suharto, 2010: 7)
E. Pokok Masalah
Pertama, sejarah perkembangan industri sejak zaman Renaissance hingga sekarang adalah sejarah simulacra, yaitu sejarah imitasi, atau reproduksi sehingga menimbulkan persoalan makna, orisinalitas dan identitas manusia. Kedua, Masyarakat konsumer adalah masyarakat dalam pertanyaan. Ketiga, Sirnanya realitas “Not into nothingness, but into the more real than real (the triumph of simulacra)? Keempat, perkembangan yang pesat dari teknologi diakhir abad 20 dan awal millennium ketiga ini telah melampaui batas-batasnya dan menjalar keseluruh sendi-sendi kehidupan manusia dan mengubah secara radikal cara pandang manusia terhadap dunia. Dipertanyakan kemampuan teori untuk menjawabnya. (Utoyo Suharto, 2010: 6)


F. Abad Kontemporer = Simulacrum
Manusia abad kontemporer hidup dalam dunia simulacra, didalamnya citra atau penanda suatu peristiwa telah menggantikan pengalaman. Manusia postmodern hidup dalam dunia yang penuh dengan simulasi, tidak ada yang nyata di luar simulasi, tidak ada yang asli yang dapat ditiru. Pada jaman kontemporer nilai guna komoditas dan imperatif produksi digantikan oleh model, kode, simulacra, tontonan, dan hiperrealisme “simulasi”. Pada masyarakat media dan konsumsi, orang terjebak dalam permainan citra, simulacra semakin tidak berhubungan dengan yang di luar, “realitas” eksternal. Manusia abad kontemporer hidup dalam dunia simulacra yang didalamnya citra atau penanda suatu peristiwa telah menggantikan pengalaman, dan pengetahuan langsung rujukan atau petandanya. Semesta post-Modern cenderung membuat semuanya menjadi simulacrum. Manusia post-modern hidup dalam dunia yang penuh dengan simulasi, tidaka ada yang nyata di luar simulasi, tidak ada yang asli yang dapat ditiru. Dunia abad kontemporer bukan lagi dunia yang “nyata” versus dunia “tiruan” tetapi sebuah dunia yang ditandai dengan kenyataan: “yang ada “ hanya simulasi. (Munir, 2008: 141)
Salah satu bukunya yang terkenal adalah À l’ombre des majorités silencieuses, ou la fin du social, 1978. English translation: In the Shadow of Silent Majorities or, The End of the Social and Other Essays, 1983. Dalam buku ini Baudrillard menguraikan bahwa, pada jaman kini “masyarakat” sudah sirna dan digantikan oleh mass ‘massa’. Massa tidak mempunyai predikat, atribut, kualitas maupun reference – massa tidak mempunyai realitas sosiologikal. (Utoyo Suharto, 2010: 20)
G. Sistem Obyek-Obyek
Dalam buku The System of Objects, Baudrillard memaparkan tesis tentang masyarakat konsumer dilihat dari perspektif neo-Marxis, disorot oleh psikoanalisa Lacanian dan strukturalisme Saussurean untuk mengembangkan tema pokoknya, bahwa konsumsi telah menjadi basis pokok dalam tatanan sosial. (Utoyo Suharto, 2010: 20)
Obyek konsumer menata perilaku melalui suatu sign function ‘fungsi tanda’ dalam linguistik. Advertising 'reklame' telah mengambil alih tanggung jawab moral bagi masyarakat dan menggantikan moralitas puritan dengan moralitas hedonistik yang mengacu hanya kepada kesenangan saja dan menjadikannya sebagai barometer dari hypercivilization. (Utoyo Suharto, 2010: 20)
Kebebasan dan kemerdekaan yang kita peroleh dalam hypercivilization sepenuhnya berasal dari sistem komoditas: Bebas menjadi diri-sendiri sebenarnya berarti bebas untuk memproyeksikan keinginan seseorang pada barang-barang industri. Bebas menikmati hidup (Dichter) sebenarnya berarti: bebas untuk mundur dan irasional; hal-hal ini menunjukkan penerapan suatu organisasi sosial pada produksi. Hal ini menjadi keutamaan dalam moralitas, yaitu semenjak konsumer secara simultan menyelaraskan dengan dirinya dan dengan kelompok. Manusia lalu menjadi mahluk sosial yang sempurna. Membeli komoditas adalah aktifitas yang sudah direkayasa sebelumnya yang terjadi pada persilangan dua sistem: Yaitu individual, yang bersifat cair, tidak saling berhubungan dengan sesamanya, dan relasi produksi, yang dikodifikasi, berlanjut dan merupakan kesatuan. Tidak ada interaksi diantara keduanya, melainkan integrasi yang dipaksakan dari sistem kebutuhan kepada sistem produksi. Hubungan ini serupa dengan sistem Saussurean tentang langue dan parole: obyek konsumsi ialah artikulasi partikular (parole) dari seperangkat ekspresi yang kehadirannya mendahului komoditas (langue). Tetapi ini bukanlah bahasa: Disini kita melihat menara Babel: setiap hal berbicara dalam idiomnya sendiri… paradigma yang luar biasa besarnya ini kehilangan syntax yang benar; ini adalah suatu sistem klasifikasi dan bukan suatu bahasa. “Needs” ‘kebutuhan’ semacam ini diciptakan oleh obyek konsumsi: obyek bertindak sebagai kategori obyek dengan caranya yang sangat sewenang-wenang, menentukan kategori manusia. Pada masyarakat konsumer obyek menandai status sosial dan menggantikan segala macam perbedaan hirarki sosial yang ada. Pengenalan suatu kode universal memberitahukan kepada kita bahwa orang yang memakai jam Rolex berada pada status sosial yang tinggi. (Utoyo Suharto, 2010: 20)
H. The Ecstasy of Communication
“Everything began with objects, yet there is no longer a system of objects.” ‘Segalanya dimulai dengan obyek-obyek, akan tetapi sekarang sudah tidak ada lagi suatu sistem obyek-obyek. Demikianlah dikatakan oleh Baudrillard dalam bukunya. Pernyataan ini berkenaan dengan obyek sosial pada masyarakat kapitalis akhir dan suatu ontological metaphor. Seperti halnya St John’s ‘In the beginning was the word’ atau Faust’s ‘In the beginning was the deed’. Maka bagi Baudrillard, keberadaan obyek mendahului masyarakat.
Baudrillard mengkhayalkan suatu mimpi antropologikal tentang obyek yang hadir diluar dan diatas aspek guna dan pertukaran – suatu symbolic exchange yang menempatkan obyek sebagai cermin dari subyek, sebagaimana halnya cermin dan scene ‘adegan’. Kini scene dan mirror sudah digantikan oleh screen ‘monitor’ dan network ‘jaringan’. Tidak ada lagi transendensi dan kedalaman, yang ada hanyalah permukaan fungsional dari komunikasi. Dalam televisi, prototip obyek yang paling indah pada era kini, alam dan tubuh kita menjadi layar monitor. (Utoyo Suharto, 2010: 36)
I. konsumsi menentukan status sosial seseorang
Dalam masyarakat konsumen hubungan menusia ditransformasikan dalam hubungan objek yang dikontrol oleh kode. Objek adalah tanda. Perbedaan status dimaknai sebagai perbedaan konsumsi tanda, sehingga kekayaan diukur dari bayaknya tanda yang dikonsumsi. Mengkonsumsi objek tertentu menandakan kita berbeda atau dianggap sama dengan kelompok sosial tertentu, jadi kode mengambil fungsi kontrol terhadap individu. Menurut pandangan Baudrillard, proses konsumsi dapat diaanalisis dalam perspektif dua aspek yang mendasar yaitu: pertama, sebagai proses signifikansi dan komunikasi, yang didasarkan pada peraturan (kode) di mana praktik-praktik konsumsi masuk dan mengambil maknanya. Di sini konsumsi merupakan sistem pertukaran, dan sepadan dengan bahasa. Kedua, sebagai proses klasifiaksi dan diferensiasi sosial, di mana kali ini objek-objek/tanda-tanda ditahbiskan bukan hanya sebagai perbedaan yang signifikan dalam satu kode tetapi sebagai nilai yang sesuai (aturan) dalam sebuah hierarki. Di sini konsumsi dapat menjadi objek pembahasan strategis yang menentukan kekuatan, khususnya dalam distribusi nilai yang sesuai aturan (melebihi hubungannya dengan pertanda sosial lainnya: pengetahuan, kekuasaan, budaya, dan lain-lain) (Gunawan, 2006)
J. Hilangnya Ruang Publik
Bagi Baudrillard, dunia dewasa ini tidak ada lagi adegan cermin, yang ada hanyalah layar dan jaringan. Periode produksi dan konsumsi telah membanjiri jalan bagi jaman hubungan dan umpan balik. Manusia abad kontemporer hidup dalam ekstasi komunikasi yang carut marut. Seiring dengan lenyapnya ruang privat. Ruang publik tidak lagi menjadi tontonan dan ruang privat tidak lagi menjadi rahasia. Hapusnya perbedaan antara bagian dalam dan bagian luar, seiring dengan rancunya batas antara ruang publik dan ruang privat. Kehidupan yang paling intim, sekarang menjadi penopang hidup virtual media. (Munir, 2008: 141)
K. Terbentuknya Hypereallity
Dramatisasi yang dilakukan melalui alur yang penuh aksi dramatis, secara umum dikendalikan oleh rumah produksi yang membuatnya bukan lagi oleh pelaku utama yang mempunyai cerita. Akhirnya menjadi mustahil membedakan yang nyata dari yang sekedar tontonan. Dalam kehidupan nyata masyarakat pemirsa reality show, kejadian-kejadian nyata semakin mengambil ciri hiperriil (hyperreal). Tidak ada lagi realitas yang ada hanyalah hiperealitas. (Hamsah, Ustadi)
Dampak yang dihasilkan dari hiperreality adalah adanya kepercayaan masyarakat terhadap kenyataan yang sebenarnya bukan kenyataan. Pembodohan atas realitas ini dapat menghasilkan pola budaya yang mudah meniru (imitasi) apa yang dilihatnya sebagai sebuah kenyataan di media televisi direalisasikan dalam kehidupan keseharian. Serta terbentuknya pola pikir yang serba instans, membentuk manusia yang segala sesuatunya ingin cepat saji. (Gunawan, 2006)

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari uraian tentang pemikiran Baudrillard diatas maka dapat diperoloeh kesimpulan sebagai berikut:
• Manusia abad kontemporer hidup dalam dunia simulacra, didalamnya citra atau penanda suatu peristiwa telah menggantikan pengalaman. Zaman simulasi adalah jaman informasi dan tanda yang dikendalikan oleh models, codes dan cybernetics.
• Obyek konsumer menata perilaku melalui suatu sign function ‘fungsi tanda’ dalam linguistik. Advertising 'reklame' telah mengambil alih tanggung jawab moral bagi masyarakat dan menggantikan moralitas puritan dengan moralitas hedonistik yang mengacu hanya kepada kesenangan saja dan menjadikannya sebagai barometer dari hypercivilization.
• Secara ontologis, komunikasi (khususnya komunikasi massa) merupakan upaya untuk mempengaruhi masa untuk mengikuti ritual-ritual ekonomi-konsumtif. Secara epistemologis, proses komunikasi merupakan simulacra. Secara aksiologis, komunikasi massa dimaksudkan agar masyarakat mengikuti irama kepentingan ekonomis-politis kapitalisme, sehingga hubungan masyarakat dicitrakan dalam budaya massa



GOOGLE search
Custom Search

Google search

Custom Search